Home » UNTUK GURU » Teori Belajar Sosial – Pengertian, Prinsip, Implementasi

Teori Belajar Sosial – Pengertian, Prinsip, Implementasi

by sereliciouz

Halo Bapak/Ibu, bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan tetap semangat mengajarnya ya.

Membahas masalah pendidikan, sepertinya tidak akan habisnya. Hal itu karena pendidikan memiliki peran penting bagi berdiri tegaknya suatu bangsa. Apa jadinya Indonesia tanpa pendidikan?

Jawabannya pasti jauh tertinggal. Itulah mengapa, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selalu berupaya menghadirkan kecerahan di tengah pendidikan di negeri ini. Namun demikian, masalah di kelas tetap menjadi wewenang seorang guru. Guru bisa menerapkan beberapa teori belajar yang sesuai dengan kondisi di kelasnya. Salah satunya teori belajar sosial. Apa yang dimaksud teori belajar sosial? Ingin tahu selengkapnya? Check this out!

Pengertian Teori Belajar Sosial

Jika teori belajar humanistik menekankan pada aktualisasi diri selama proses belajar, tidak demikian dengan teori belajar sosial. Oleh karena itu, pengertian teori belajar sosial dan humanistik berbeda.

Teori belajar sosial adalah teori belajar yang mengedepankan perubahan perilaku melalui proses pengamatan. Teori ini menganggap bahwa harus ada pemodelan yang nantinya bisa dijadikan pengamatan oleh individu yang sedang belajar. Itulah mengapa teori sosial sama dengan teori pemodelan. 

Sebenarnya, teori belajar ini merupakan bentuk pengembangan dari teori belajar behavioristik, di mana tujuan utamanya menekankan pada perubahan perilaku. 

Di antara beberapa teori belajar lain, teori ini tergolong masih baru, yaitu dikembangkan pada tahun 1986 oleh Albert Bandura, sehingga biasa disebut teori belajar sosial Bandura.

Pengertian Menurut Para Ahli

  1. Menurut Irham dan Wiyani, yaitu proses belajar seseorang akan lebih banyak melalui proses pengamatan terhadap situasi dan kondisi lingkungannya.
  2. Menurut Davidoff, yaitu modeling disebut juga observation learning, imitation atau social learning. Intinya, teori observasional masih berkaitan dengan teori belajar sosial Bandura.
  3. Menurut Komalasari, Wahyuni, dan Karsih, yaitu modeling merupakan kegiatan belajar melalui observasi dengan menambahkan atau mengurangi tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus dan melibatkan proses kognitif.
  4. Menurut Abu Ahmadi, belajar merupakan proses dimana tingkah laku ditimbulkan atu diubah melalui latihan pengalaman.

Prinsip Teori Belajar Sosial Bandura

Menurut Bandura, belajar harus memuat prinsip-prinsip berikut.

1. Determinis resiprokal

Maksud determinis resiprokal adalah konsep keterkaitan secara bolak-balik antara lingkungan dan perilaku. Menurut Bandura, perilaku seseorang bisa dibentuk oleh lingkungan. Senada dengan hal itu, lingkungan juga bisa dibentuk oleh perilaku manusia di sekitarnya.

2. Tanpa penguatan (reinforcement)

Bandura menekankan bahwa penguatan bukan satu-satunya pembentuk tingkah laku seseorang. Seseorang bisa belajar hanya dari melihat dan meniru hal yang dilihat. 

3. Kognisi dan regulasi diri

Menurut Bandura, manusia bisa menjadi pengamat atas perilakunya sendiri, memberi penguatan, dan hukuman atas kesalahan sendiri. Tidak hanya itu, beliau juga menganggap bahwa manusia bisa mengatur lingkungan, membentuk dukungan kognitif, dan bertanggungjawab atas perilakunya sendiri.

Pengertian Teori Pembelajaran Sosial

Mungkin Bapak/Ibu bertanya-tanya, apa itu teori pembelajaran sosial? Apakah sama dengan teori belajar sosial?

Teori pembelajaran sosial adalah pembelajaran yang memanfaatkan teori belajar sosial. Artinya, dalam melakukan pembelajaran guru menggunakan modeling atau observasi.

Adapun contoh sederhana penerapan teori belajar sosial pada perkembangan anak, yaitu seorang anak cenderung meniru perilaku orang tuanya karena ia melihat perilaku tersebut setiap hari secara berulang-ulang.

Hal itu bisa diterapkan di pembelajaran sehari-hari, di mana guru menjadi model percontohan bagi peserta didiknya. Adapun fase-fase yang harus dilalui untuk menerapkan teori pembelajaran sosial adalah sebagai berikut.

1. Fase perhatian

Pada fase ini, peserta didik akan memperhatikan model atau sesuatu yang mereka observasi. Hal yang akan diperhatikan biasanya hal-hal menarik, unik, terkenal, dan sesuai dengan minat mereka. Agar guru bisa menjadi pusat perhatian peserta didik, Bapak/Ibu harus mampu memberikan isyarat-isyarat yang jelas dan mudah dipahami.

2. Fase retensi

Fase retensi ini merupakan fase di mana peserta didik harus mampu mengingat hal-hal yang sudah mereka amati. Melalui pengamatan itulah diharapkan mereka mampu belajar dan mendapatkan hasil yang baik.

3. Fase reproduksi

Pada fase reproduksi ini terjadi umpan balik yang nantinya bisa mengarahkan peserta didik pada perilaku yang diinginkan. Umpan balik ini tidak hanya ditujukan bagi hal-hal yang sudah benar, melainkan juga hal-hal yang tidak benar. 

Guru harus bisa memberi masukan/nasihat atas perilaku yang salah atau kurang baik peserta didiknya sebelum perilaku tersebut tumbuh menjadi kebiasaan. Jika berhasil menerapkan hal itu, maka guru tersebut sudah menjalankan pembelajaran terbaiknya.

4. Fase motivasi

Fase motivasi merupakan fase terakhir yang menandai keberhasilan teori pembelajaran sosial. Pada fase ini, peserta didik akan meniru hal-hal berkesan dari pengamatan yang mereka lakukan. Mereka beranggapan bahwa setelah meniru, akan muncul penguatan (reinforcement) dari dalam diri masing-masing. Contoh penguatan itu bisa diberikan dalam bentuk pujian, piala, nilai, dan lain-lain.

Apakah Teori Belajar Sosial Mudah untuk Diimplementasikan?

Pada dasarnya, teori yang digagas Bandura memiliki konsep yang tidak terlalu rumit, yaitu seseorang hanya mengamati lalu meniru atau mengulang kembali hal yang ia amati. Pengamatan itupun tidak harus dalam bentuk melihat aktivitas fisik, melainkan bisa berupa kegiatan mendengarkan. 

Untuk mengimplementasikan ini, Bandura pernah membuat eksperimen menggunakan boneka yang diberi nama Bobo. Pada eksperimen tersebut, anak-anak diminta mengamati perilaku kasar dan agresif orang dewasa terhadap boneka tersebut.

Nah, saat anak-anak tersebut diminta untuk bermain bersama Bobo, mereka meniru tindakan agresif orang dewasa yang dilihatnya. Itulah contoh yang menunjukkan bahwa teori ini  mudah untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti pada pembahasan sebelumnya, Bandura menyatakan bahwa untuk belajar seseorang tidak harus selalu memperoleh reinforcement,, bahkan hanya dengan melihat ia sudah bisa belajar.

Nah, jika Bapak/Ibu ingin melihat jurnal pengertian teori belajar sosial, klik tautan berikut ini.

Itulah pembahasan Quipper Blog tentang teori belajar sosial Bandura. Semoga bisa bermanfaat untuk Bapak/Ibu dalam mengajar di kelas. Jika Bapak/Ibu ingin meng-update informasi tentang dunia pendidikan lainnya, ikuti terus Quipper Blog, ya. Tetap semangat dan semoga Bapak/Ibu sehat di manapun berada. Salam Quipper!

[spoiler title=SUMBER]

  • core.ac.uk
  • sehatq.com
  • eprints.uny.ac.id
  • d.wikipedia.org
  • e-journal.iaknambon.ac.id[/spoiler]

Penulis: Eka Viandari

Lainya untuk Anda