Strategi Atlet Catur Nasional Membagi Waktu Kuliah dan Karier

Strategi Atlet Catur Nasional Membagi Waktu Kuliah dan Karier

Latar belakang seorang atlet seringkali menjadi cerita yang menarik untuk diikuti. Berbagai macam cerita mulai dari menggemari atlet senior lalu terdorong keinginan untuk menjadi seorang atlet, bentuk rasa nasionalisme terhadap Indonesia sehingga ingin memberikan kontribusi melalui olahraga atau bahkan menjadi atlet untuk mengikuti jejak orang tua.

Hal tersebut terjadi pada pecatur muda asal Jakarta, Azarya Jodi Setyaki. Laki-laki yang biasa disapa Jodi ini, mengikuti jejak Ibunda sebagai atlet catur profesional Indonesia, Lisa Karlina Lumongdong.

Lisa Karlina Lumongdong merupakan atlet catur senior peraih medali emas pada PON (Pekan Olahraga Nasional) tahun 2004 di Palembang.

Selain itu, wanita yang biasa dipanggil Lisa ini telah meraih Medali Perak dan Perunggu Sea Games tahun 2008 di Filipina dan lima kali mewakili Indonesia dalam kompetisi catur Internasional, lhoSiapa sangka, keberhasilan seorang Lisa Karlina memberikan inspirasi bagi seorang Jodi kecil.

Jodi memiliki ketertarikan pada olahraga catur sejak kecil karena sering memperhatikan Ibunda bertanding. “Awalnya saya suka catur karena kebetulan Mama atlet catur juga. Jadinya, saya tertarik ingin coba dan ikut. Pertama kali coba catur umur lima tahun. Waktu itu sering lihat mama keluar kota dan keluar negeri. Akhirnya tertarik buat nyoba catur,” lanjutnya lagi.  

Simak lebih lanjut cerita menarik dari atlet yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Hukum UNIKA Atma Jaya ini, yuk!

Menjadi Atlet Catur Nasional – Belajar dari Ahli

Jodi mulai menekuni olahraga papan ini dengan hanya mengandalkan gadget berupa laptop dan buku tentang catur, lho, Quipperian.

Meskipun ibunda Jodi merupakan seorang atlet catur, namun olahraga ini ia tekuni secara otodidak yang kemudian menjadi hobinya.

Atlet muda ini berlatih dengan pelatih asal Hungaria, GM Krisztian Szabo via Skype, Quipperian. Hal ini membuktikkan bahwa keinginan untuk berlatih tidak terbatas oleh jarak dan juga keterbatasan fasilitas, bukan?

Sang Ibunda awalnya tidak mempersiapkan Jodi untuk menjadi seorang atlet, Quipperian, namun pada akhirnya turut memberikan dukungan penuh kepada Jodi.

“Saya memberikan kebebasan kepada anak saya untuk menjadi seperti apa yang ia inginkan. Saat saya mengetahui dia senang juga terhadap olahraga catur, tentunya saya sudah sangat bangga,’’ ujarnya.

Menjadi Atlet Catur Nasional Butuh Ketekunan

Jodi mengawali karier dengan berpartisipasi dalam ajang PON XIX 2016 dan berhasil membawa medali emas untuk cabang olahraga catur untuk DKI Jakarta.

Tidak hanya itu Quipperian, mahasiswa semester empat UNIKA Atma Jaya ini juga berpartisipasi di kompetisi catur internasional JAPFA Chess Festival di Indonesia 2016, Budapest Open Chess Tournament di Hungaria pada tahun 2017 dan First Friday Chess Tournament di Malaysia pada tahun yang sama. Keren, ya!

Untuk mempertahankan eksistensinya dalam berkarier di dunia catur, Jodi memiliki gaya bertanding posisional Karpov dan tentunya memiliki cara serta strategi sendiri yang menjadi kunci kesuksesan dalam menekuni olahraga catur sebagai atlet profesional, Quipperian.

“Olahraga catur itu memerlukan strategi yang baik, untuk itu dibutuhkan ketekunan,” tutur Jodi.

Menjadi Atlet Catur Nasional Harus Pintar Bagi Waktu dan Jaga Stamina

Sebagai alet catur profesional yang juga berstatus sebagai mahasiswa UNIKA Atma Jaya ini, tentunya memiliki tantangan tersendiri yang dihadapi untuk menjaga performa akademik dan juga sebagai atlet.

“Kendala sebagai mahasiswa sekaligus atlet buat saya itu dalam membagi waktu dan menjaga stamina. Karena saya harus bisa fokus saat bertanding, tapi setelah selesai bertanding pikiran saya harus langsung bisa fokus ke pelajaran kuliah. Saya menyikapinya, biasanya saat bertanding saya membawa sebagian buku pelajaran kuliah, jadi sempat baca-baca materi kuliah, atau nyicil kerjain tugas dan lain-lain. Dan pastinya saya harus bisa jaga stamina agar bisa konsisten,’’ jelas Jodi.

Menghadapi tantangan tersebut pecatur muda yang menggemari Carlsen dari Norwegia ini mengakali dengan cara harus jauh lebih aktif di kelas dan berinteraksi dengan teman-teman untuk mendapatkan informasi terbaru terkait mata kuliah dan tugas.

“Harus selalu aktif bertanya mengenai tugas dan materi supaya kuliah nggak tertinggal dan kekejar,” pungkas Jodi. Untungnya, kampus Unika Atma Jaya selalu memberikan dukungan terhadap karier Jodi sebagai atlet sehingga proses pembelajaran di kampus tidak dipersulit, Quipperian.

Dalam waktu dekat ini, pria kelahiran 15 Februari 1998 ini akan fokus kedua hal, Quipperian, yaitu berencana untuk fokus kuliah selama dua tahun ke depan dan meraih gelar sarjana serta meraih status Grand Master yang saat ini tengah memiliki poin 2.340.

Dengan begitu, Jodi bisa melakukan dua hal sekaligus, yaitu menempuh studi di Unika Atma Jaya dan melanjutkan profesi sebagai atlet. Seru, ya!

Nah, untuk Quipperian yang juga menyukai dunia olahraga, pendidikan tetap penting untuk kamu tempuh. Jika kamu ingin mengikuti jejak Jodi, Unika Atma Jaya adalah salah satu universitas yang bisa kamu jadikan destinasi untuk studi lanjut, namun juga tetap bisa fokus dalam hobi olahragamu.

So, jangan ragu untuk segera daftarkan diri ke Unika Atma Jaya, ya!

 

 

Untuk mengetahui info kampus terlengkap dan berkualitas, cek di campus.quipper.com



Yuk, mulai siap-siap PTS! Kode promo: CERMAT Mulai belajar