Ini 3 Cara yang Bisa Kamu Lakukan untuk Mengolah Sampah Plastik dan Sampah Organik

sampah plastik
Permasalahan sampah dan lingkungan sudah bukan menjadi masalah lokal lagi, tetapi sudah menjadi masalah yang mendunia. Gunungan sampah di daratan hingga “pulau sampah” di lautan telah menjadi isu internasional. Bahkan masih hangat menjadi perbincangan tentang 5 kontainer sampah yang masuk ke Indonesia beberapa saat yang lalu.
Mengatasi masalah sampah memang nggak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat, apalagi jika nggak ada kesadaran untuk mengelola sampah dengan baik. Nah, nggak ada salahnya untuk memulai gerakan mengelola sampah dari sekarang. Quipperian bisa memulainya dengan mengurangi dan memanfaatkan sampah yang ada. Sebagai langkah awal, Quipperian bisa melakukan 3 kegiatan ramah lingkungan ini:

Kurangi Sampah Plastik dan Manfaatkan Sampah Organik

1. Kurangi sampah plastik dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai

Benda yang satu ini memang nggak bisa lepas dari kehidupan kita. Beli gorengan pakai bungkus plastik, beli air minum dengan kemasan plastik bahkan bungkus permen pun plastik. Penggunaan plastik sekali pakai terus meningkat apalagi dengan alasan lebih praktis daripada membawa wadah ataupun tempat minum sendiri. Jadi kalau sudah nggak dipakai bisa langsung dibuang deh!
Meski praktis dan sangat nyaman, penggunaan plastik sekali pakai punya dampak buruk untuk kesehatan dan lingkungan lho! Banyak literatur menunjukan bahwa plastik bisa merusak kesehatan manusia apalagi jika digunakannya nggak sesuai standar dan dalam jangka waktu lama. Begitu pula dengan sampah plastik, memerlukan durasi dekomposisi yang sangat panjang dan memberi dampak buruk terhadap lingkungan. Diantara dampak tersebut adalah sampah plastik mengganggu jalur resapan air ke dalam tanah, sampah plastik dapat menurunkan kesuburan tanah karena sirkulasi udara kedalam tanah terhalang oleh sampah plastik, dan masih banyak lagi dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampah plastik.
Mengurangi dan menghindari penggunaan plastik sekali pakai adalah langkah kecil berdampak besar. Biasakan membawa wadah dan botol minum yang bisa digunakan ulang. Untuk beberapa alasan, kamu mungkin nggak bisa menghindari penggunaan plastik. Nah, kalau sudah begini kamu harus bijak dalam penggunaanya dan jangan lupa membuangnya di tempat yang sesuai agar bisa didaur ulang.
Oh iya, Pastikan peralatan yang kamu pilih bebas dari senyawa yang akan merugikan kesehatanmu. Sebagai alternatif, kamu bisa memilih peralatan dari logam, kaca maupun keramik. Untuk alasan kesehatan hindari memanaskan makanan atau menyimpan makanan berlemak dalam wadah plastik supaya tidak ada senyawa berbahaya yang lebur dan mengontaminasi makananmu.

2. Mengolah sampah organik menjadi kompos

Cara mengolah sampah organik ini sebenarnya sudah dikenal sejak lama, namun belum banyak orang yang mau melakukannya. Pengomposan adalah cara alami daur ulang nutrisi lewat proses pembusukan bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi yang terkendali.
Selain membantu tanaman tumbuh, ternyata pengomposan bisa membantu mencegah polusi tanah, air, dan udara. Kompos mencegah polusi tanah dan air dengan berbagai cara. Penyebaran kompos di lahan pertanian meminimalkan kebutuhan pupuk kimia, yang berarti mengurangi masalah lingkungan yang disebabkan oleh pupuk ini. Pupuk kimia memiliki tingkat konsentrasi nitrogen yang tinggi, selain itu pupuk kimia juga larut ke dalam air tanah dan mencemari sumur air minum.
Kompos mendukung pengendalian polusi tanah dengan melumpuhkan logam berat di dalam tanah, dan mencegahnya mencapai sumber daya air dan akibatnya melindungi kualitas air tanah. Kompos membantu menghindari polusi udara dengan menyerap bau, mengurangi timbunan sampah, dan emisi gas rumah kaca (GRK) terutama gas metana ke udara.
Pengomposan nggak hanya bermanfaat bagi lingkungan tapi juga bernilai ekonomis lho! Kamu nggak perlu lagi membeli pupuk kimia untuk tanaman, bahkan kamu bisa menjual kompos buatan mu.

3. Memanfaatkan sampah menjadi gas yang bermanfaat

Menurut Economist Intelligence Unit (2017), Indonesia telah berkontribusi sebagai penghasil limbah makanan terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi. Setiap orang bisa membuang hampir 300 kg makanan pertahunnya! Ironis banget, padahal 7,6% dari 260 juta orang di Indonesia masih kekurangan gizi.
Lebih dari setengah limbah dapur yang dihasilkan di Jakarta berakhir di TPA, selanjutnya sampah ini diurai oleh mikroorganisme anaerob yang menghasilkan sejumlah besar metana dan karbon dioksida. Kedua gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Namun, metana 30 kali lebih efektif dalam menjebak panas daripada karbon dioksida.
Jika dikontrol dengan baik, penguraian limbah makanan oleh mikroorganisme anaerob ini ternyata bisa menghasilkan biogas lho. Biogas terdiri dari sekitar 60% metana dan 40% karbondioksida. Nah, daripada dilepaskan ke atmosfer dan menyebabkan pemanasan global, biogas bisa dikumpulkan dan digunakan untuk memanaskan, memasak, dan menghasilkan listrik.
Pembuatan biogas ini dilakukan dengan cara pencernaan anaerob dan hanya dilakukan dalam tangki tertutup tanpa oksigen. Secara keseluruhan, pencernaan anaerob nggak cuma mengurangi emisi gas rumah kaca di tempat pembuangan sampah, tetapi juga menyediakan sumber energi terbarukan alternatif menggantikan bahan bakar fosil. Selain biogas, ada juga bahan padat dan cair yang kaya nutrisi hasil dari proses ini yang bisa digunakan sebagai pupuk tanaman.
Selain secara personal, ternyata penanganan sampah juga bisa dilakukan lewat cara yang lebih serius lho! Quipperian bisa memberikan kontribusi yang besar bagi penanganan sampah dan lingkungan dengan menjadi seorang peneliti dan ilmuwan yang membuat temuan-temuan canggih untuk penanganan masalah ini.
Jika kamu serius mendalami isu lingkungan dan pemecahan masalahnya, kamu bisa mendalami ilmu bioteknologi di kampus Indonesia International Institute for Life Science (I3L). Dengan menimba ilmu di Jurusan BioTechnology, bukan nggak mungkin suatu saat nanti kamu bisa mengembangkan teknologi pengolah sampah yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis.
Di I3L, Jurusan BioTechnology termasuk pada School of Life Science bersama jurusan BioInformatics, BioMedicine, Pharmacy, Food Science and Nutrition dan Food Technology. Jika berkuliah di kampus ini kamu akan dibekali banyak hal terkait ilmu pengetahuan hayati yang berkelanjutan dan tentunya penerapannya dalam kehidupan.
Jadi, sudah siap jadi ilmuwan andal yang akan memecahkan masalah lingkungan? Yuk gabung di I3L.

 
 
Untuk mengetahui info kampus terlengkap dan berkualitas, cek di campus.quipper.com



Yuk, mulai siap-siap PTS! Kode promo: CERMAT Mulai belajar