Home » Quipper Campus » Campus Info » Mengenal Sistem Perkuliahan Yuk : Kapasitas Kelas Berpengaruh pada Pencapaian Mahasiswa!

Mengenal Sistem Perkuliahan Yuk : Kapasitas Kelas Berpengaruh pada Pencapaian Mahasiswa!

by ardy_quipper

sistem perkuliahan di indonesia

Menjelang kelulusan, pastinya Quipperian sudah memiliki berbagai rencana. Entah mau lanjut kuliah, mencari pekerjaan, atau memilih gap year. Tiap-tiap pilihan tentu ada plus dan minusnya. So, tinggal disesuaikan saja dengan kondisimu.

Buat Quipperian yang memilih untuk lanjut kuliah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih kampus. Selain memantapkan pilihan jurusan, kamu juga perlu mengenali dengan baik sistem perkuliahan yang akan dijalani, karena sistemnya sangat berbeda dengan yang selama ini dijalani di sekolah.

Kalender akademik yang dijalankan di universitas itu berbeda dengan kalender pendidikan di sekolah. Selain kalender akademik, hal mendasar lainnya yang menjadi indikator penerapan suatu sistem perkuliahan adalah kurikulum. Kurikulum menjadi patokan dalam memonitor sistem  perkuliahan di suatu universitas.

Setiap universitas mengembangkan kurikulum yang menjadi ciri khasnya masing-masing sehingga bisa menjadi nilai tawar kepada calon mahasiswa baru. Dengan begitu, sistem perkuliahan menjadi lebih dinamis dibanding dengan sistem pendidikan di bangku sekolah.

Selama perkuliahan, kamu juga akan banyak mendengar istilah-istilah baru, seperti Sistem Kredit Semester (SKS) atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Nah, agar mendapat gambaran lebih jauh tentang perbedaan sistem perkuliahan dengan sekolah, yuk simak ulasan di bawah ini!

Sistem Perkuliahan dan Perbedaannya dengan Sekolah 

Ada beberapa hal yang cukup kontras perbedaannya antara sistem perkuliahan dengan sistem di sekolah, antara lain sebagai berikut:

Jadwal Pembelajaran

Jadwal pembelajaran mahasiswa ditentukan oleh jumlah SKS yang diprogramkan pada semester tersebut. Semakin banyak jumlah SKS yang diambil maka semakin padat juga jadwal pembelajarannya. 

Jumlah SKS maksimal yang boleh diprogramkan mahasiswa setiap semesternya adalah 24 SKS. Namun, besaran jumlah SKS yang diperbolehkan untuk diambil disesuaikan dengan Indeks Prestasi Semester yang berhasil diraih. Jika setiap semesternya Quipperian mampu memprogramkan 24 SKS, maka lama studi yang ditempuh untuk menyelesaikan program sarjana bisa jadi kurang dari delapan semester atau tidak sampai 4 tahun.

Sedangkan jadwal pembelajaran di sekolah, semuanya sudah ditentukan berdasarkan kurikulum yang berlaku, artinya siswa SMA tidak dapat memilih sendiri mata pelajaran yang akan dipelajari. Adapun waktu tempuh dari kelas satu sampai kelas 3 SMA ada kemungkinan bisa dipercepat jika ikut dalam kelas akselerasi.

Praktikum

Siswa SMA dan mahasiswa sama-sama memiliki jadwal praktikum untuk mata pelajaran dan mata kuliah tertentu. Kegiatan praktikum tersebut terkadang dilakukan di laboratorium maupun di lapangan. 

Namun, perbedaannya adalah nilai praktikum pada kurikulum kampus memiliki bobot tersendiri dan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kelulusan mahasiswa pada mata kuliah tersebut. 

Selain dari sisi bobot nilai, perbedaan berikutnya adalah dari sisi intensitas pelaksanaannya. Jika di sekolah kegiatan praktikumnya hanya pada waktu dan topik tertentu, maka praktikum di universitas bisa berlangsung sepanjang semester.

Baca juga: Kiat Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan Memilih Kampus yang Tepat

Sistem Penilaian

Sistem penilaian di universitas umumnya menggunakan huruf A, B, C, D, dan E untuk nilai pada tiap-tiap mata kuliah, dan Indeks Prestasi untuk ukuran keberhasilan pencapaian tiap semester. A memiliki bobot skor 4, B bobot skornya 3, C bobot skornya 2, D bobot skornya 1, dan E bobot skornya 0. 

Sedangkan penilaian di sekolah cenderung lebih banyak parameternya. Komponen penilaian pada kurikulum 2013 meliputi penilaian kompetensi pengetahuan yang diuji lewat tes tulis maupun lisan, penilaian kompetensi sikap yang diketahui lewat observasi, dan penilaian kompetensi keterampilan yang diuji lewat tes praktik, serta penilaian portofolio. Masing-masing penilaian tersebut ditentukan menggunakan skoring pada rapor masing-masing peserta didik.

Kapasitas Kelas

Penerapan kapasitas kelas juga memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan antara universitas dan sekolah. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 17, pasal 24, Tahun 2017 menyatakan bahwa jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar untuk jenjang SMA paling sedikit 20 orang dan paling banyak 36 orang.

Sedangkan di universitas, biasanya jumlah mahasiswa yang ikut belajar pada program mata kuliah umum jumlahnya mencapai 40 mahasiswa dan pada mata kuliah penjurusan biasanya jumlahnya lebih sedikit. Bahkan tidak menutup kemungkinan pada satu mata kuliah hanya diikuti oleh dua mahasiswa.

Metode kelas kecil dengan jumlah siswa maksimal 20 orang menjadi komponen utama dari program subsidi pemerintah di Amerika Serikat, The Department of Education Appropriations Act, di tahun 1999. Tujuannya, untuk mengatasi permasalahan kesulitan belajar siswa.

Jumlah mahasiswa yang terlalu banyak pada satu kelas sebenarnya dapat berdampak pada penurunan tingkat efektivitas pembelajaran. Hal ini selaras dengan laporan penelitian Virginia Locastro (1989) yang berjudul Large Size Classes: The Situation in Japan. Dalam laporan tersebut ia menyimpulkan bahwa kelas ideal itu hanya diisi oleh 10 sampai 20 orang saja. Jika jumlah siswa mencapai 39 orang atau lebih, berpotensi muncul masalah dan ketimpangan. Jumlah siswa ideal dalam satu kelas memungkinkan guru atau dosen untuk mengontrol peserta didik dengan lebih baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan mendukung siswa meraih nilai maksimal.

Salah satu kampus di Jakarta yang peduli dengan hal ini adalah Swiss German University (SGU) dengan menetapkan jumlah maksimal mahasiswa pada tiap mata kuliah maksimal 25 orang.

Selain program kuliah reguler, universitas juga rutin mengadakan kuliah umum dengan menghadirkan para pakar. Pada program kuliah umum biasanya pesertanya mencapai puluhan hingga ratusan orang, tergantung kapasitas auditorium yang disediakan.

Baca juga: 4 Faktor yang Mendukung Lancarnya Belajar Saat Pandemi

Materi Khusus di Bangku Kuliah

Kuliah merupakan suatu fase di mana kamu tidak sekedar belajar tetapi juga mempersiapkan diri untuk mampu bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik di lingkungan masyarakat dan profesional. 

Oleh karena itu, dalam kurikulum universitas ada beberapa kegiatan yang bertujuan untuk mematangkan persiapanmu setelah lulus dari kampus, antara lain program Praktek Kerja Lapangan (PKL), Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan magang. Kalau di jenjang sekolah, program tersebut hanya tersedia di Sekolah Menengah Kejuruan. Kurikulum di SMA tidak menyediakan PKL ataupun magang.

Syarat Kelulusan

Syarat utama yang harus dilewati mahasiswa jika ingin lulus dan meraih gelar sarjana (jenjang S1) adalah menyelesaikan skripsi. Kemudian, ada pula istilah Tugas Akhir (TA) yang digunakan pada jenjang D3 atau D4. Nah, untuk tingkat SMA, syarat kelulusan harus melewati Ujian Akhir Nasional dan Ujian Akhir Sekolah.

Itulah gambaran tentang sistem perkuliahan yang perlu kamu ketahui. Jangan lupa ya kalau salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah mengenai kapasitas kelas. Pastikan kampus yang kamu pilih memperhatikan betul akan hal ini, seperti Swiss German University (SGU)!

 

Untuk mengetahui info kampus terlengkap dan berkualitas, cek di campus.quipper.com

Penulis: Mawardi Janitra
Editor: Tisyrin Naufalty T

Lainya untuk Anda