Alumni Unimed yang Tetap Mengabdikan Diri untuk Almamater

Setiap universitas pasti mempunyai alumni berprestasi yang selalu bisa dibanggakan almamaternya. Salah satunya adalah Universitas Negeri Medan (Unimed). Semenjak didirikan pada 23 Juni Tahun 1963, lulusan Unimed sudah mengukir berbagai prestasi di kancah nasional.

Alumni-alumni Unimed juga berpartisipasi dalam perkembangan dan kemajuan di Indonesia. Meski begitu, mereka tetap mengabdikan diri di Unimed sebagai dosen dan tenaga pengajar. Rasa pengabdian yang tinggi membuat Unimed dinobatkan menjadi universitas terbaik di Sumatera dalam hal pengabdian masyarakat tahun 2016 lalu. Terbukti dengan jumlah hibah pengabdian yang banyak dimenangkan oleh dosen Unimed.

Ternyata, jabatan dan karir yang tinggi tak menyurutkan para alumni untuk berkontribusi demi kemajuan almamaternya. Dalam artikel ini, Quipper Video Blog akan membahas alumni yang mengabdi sebagai pengajar di Unimed. Siapa saja mereka? Yuk, kita simak!

Prof. Dr. Syawal Gultom, M. Pd – Rektor Unimed

Alumni Unimed yang Tetap Mengabdikan Diri untuk Almamater
Sumber: ceritamedan.com

Biodata Diri

Lelaki yang lahir di Tapanuli Utara pada 3 Februari 1962 ini dibesarkan dari keluarga yang peduli dengan pendidikan. Ia mengambil program studi Pendidikan Matematika IKIP Medan dan lulus pada tahun 1986. Tiga belas tahun setelahnya, ia berhasil menamatkan Program Doktor Manajemen di Jakarta.

Karirnya dimulai sejak ia berhasil menjadi dosen tetap di Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA IKIP Medan. Di tengah waktu luangnya, ia juga aktif mengajar mata kuliah matematika di FKIP UMSU hingga tahun 1986. Pengabdiannya di Unimed membawanya jadi Pembantu Rektor II Unimed tahun 1993. Setelah itu, ia terpilih menjadi Rektor Unimed periode 2007-2011.

Memiliki Berbagai Karier

Kegigihan dan komitmen Prof. Syawal membawa dampak yang cemerlang bagi karirnya. Pada tahun 2011, ia diangkat sebagai Kepala BPSDMPK dan PMP Kemendikbud RI oleh Mendikbud Prof. Muhammad Nuh. Atas karirnya ini, Prof. Syawal akhirnya dipercaya lagi menjadi rektor Unimed periode 2015-2019. Di tahun terpilihnya sebagai rektor, Prof. Syawal juga mendapatkan penghargaan Tokoh Pendidikan dari Pemerintah Kota Binjai.

Meski punya karir yang luas dan beragam prestasi, Prof. Syawal tetap menjalankan tri darma perguruan tinggi, yakni mengajar, meneliti, dan melakukan pengabdian pada masyarakat. Salah satu bentuk pengabdiannya adalah untuk tetap aktif sebagai dosen di FMIPA Unimed.

Bagi orang-orang yang mengenalnya, Prof. Syawal digambarkan sebagai pribadi yang baik, disiplin, dan sungguh-sungguh dalam menjalankan amanah. Ia juga terbuka menerima masukan untuk pengembangan, peningkatan, dan kemajuan Unimed.

Keputusan Menjadi Rektor

Ketika menjadi rektor di Unimed, sebenarnya hal itu merupakan keputusan terbesar Prof. Syawal karena ia harus turun dari puncak karirnya di kementerian. Bagaikan merpati yang ingat pulang. Prof. Syawal punya ekspektasi yang tinggi bagi almamaternya jikalau ia kembali mengabdi ke kampus. “Selama empat tahun di Jakarta, banyak hal yang saya pelajari. Sekarang cara pandang saya terhadap Unimed adalah bagaimana menata kembali kampus dari hilir sampai ke hulu,” ungkapnya saat diwawancari humas Unimed menjelang maju ke pemilihan rektor.

Ia memulai restorasi Unimed dengan pertanyaan mendasar. “Apa sebetulnya peran Unimed bagi Sumatera Utara? Bagi Indonesia? Bagi dunia?” Hal inilah yang membawa Prof. Syawal yakin bergerak maju memimpin Unimed. Terbukti, kegigihannya ini akhirnya berhasil membawa Unimed mendapat akreditasi A pada Desember tahun 2016 lalu. Wah, keren! Quipperian, kamu mau jadi seperti Prof. Syawal?

Dr. Abdurrahman-Anggota BAN-PT

Alumni Unimed yang Tetap Mengabdikan Diri untuk Almamater
Sumber: hariananalisa

Biodata Diri

Dr. Abdurrahman adalah salah satu alumni Unimed yang meskipun memiliki karir tingkat nasional, namun masih mengabdi sebagai dosen di Unimed. Lelaki kelahiran Stabat, 1 Oktober 1967 ini mengenyam pendidikan di jurusan Sastra Bahasa IKIP Medan (sekarang Unimed). Setelah itu,  ia melanjutkan S-2 jurusan Linguistik  di Universitas Sumatera Utara pada tahun 2000. Pada tahun 2010, Dr. Abdurrahman memperoleh gelar doktor dari Universitas Udayana Bali. Kemudian, ia  menjadi dosen di Unimed, dosen terbang di jurusan linguistik USU, serta dosen di  Universitas Terbuka.

Pengalamannya sebagai dosen membawanya terpilih menjadi anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Berkat pekerjaannya itu, ia bisa keliling nusantara. Penggemar BJ Habibie ini pun dapat mendatangi ribuan perguruan tinggi di Indonesia bersama 15 anggota majelis BAN-PT lainnya. Kerja padat, ritme tinggi, dan harus terbiasa naik-turun pesawat adalah rutinitas  Dr. Abdurrahman semenjak menjadi bagian dari majelis BAN-PT.

Pengalaman Menjadi Majelis BAN-PT

Menurut Dr. Abdurrahman, bekerja sebagai majelis BAN-PT tidak mudah. Sebab, fungsi lembaga ini menentukan kelayakan sebuah program studi di universitas. Kelayakan universitas tersebut berdampak pada mutu lulusan dan mencerminkan marwah universitas. Oleh karena itu, ia harus serius dan teliti dalam menilai akreditasi suatu program studi. Pengalaman ini tentu saja memberikan nilai-nilai berharga bagi Dr. Abdurrahman.

Sikap tangguh dan pekerja keras Dr. Abdurrahman ternyata telah ia dapatkan sejak kecil. Dr. Abdurrahman terlahir dari keluarga miskin dengan sepuluh bersaudara.  Ia dan keluarganya berjuang agar tetap sekolah hingga masuk ke perguruan tinggi. Motivasinya tak banyak, ia hanya ingin mencapai mimpinya dan ingin berkiprah seperti tokoh idolanya BJ Habibie. Wah, hebat sekali!

Kini, bagi Dr. Abdurrahman, tujuan hidupnya adalah ingin menjadi orang yang berdampak nyata untuk orang-orang di sekelilingnya. Dengan berkeliling Indonesia, ia mendapat jejaring yang luas. Di situlah ia merasa berguna bagi banyak orang. Namun begitu, ia juga tak pernah melupakan fungsinya sebagai dosen; menjalankan tri darma perguruan tinggi. Di Unimed, ia tetap aktif menjadi dosen dan Ketua Prodi di Fakultas Bahasa dan Sastra.

Nah, itulah dua alumni Unimed yang masih berkontribusi untuk almamaternya hingga saat ini. Ternyata, kontribusi mereka berdampak besar bagi Unimed. Terbukti dengan keberhasilan Unimed meraih akreditasi A di tahun 2016. Bagaimana, Quipperian? Apakah kamu bercita-cita menjadi alumni yang berkontribusi untuk almamatermu? Mungkin kamu bisa menjadi Prof. Syawal dan Dr. Abdurrhman berikutnya!

Penulis: Tantry Ika Adriati

Sumber:

http://harian.analisadaily.com/

https://id.wikipedia.org/

http://humas.unimed.ac.id/

http://www.genesissembiring.com



Promo SPESIAL Semester Genap, mulai dari 390ribu aja! Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang