Kali ini, Quipper Video Blog akan mengupas tuntas tentang salah satu alumni yang telah banyak menorehkan prestasi di bidang sastra baik di tingkat nasional maupun internasional, dia adalah Bode Riswandi. Bagi kamu yang penasaran dengan sosok Bode Riswandi, yuk simak ulasan lengkapnya!
Tentang Bode Riswandi
Pria yang lahir di Tasikmalaya, 06 November 1983 ini tercatat sebagai salah satu alumni dari Universitas Siliwangi. Mahasiswa Universitas Siliwangi sering menyapanya dengan panggilan Pak Bode. Hal ini bukan tanpa alasan, karena ia juga merupakan salah satu dosen aktif di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Siliwangi.
Berbicara mengenai Bode Riswandi, namanya memang sudah tidak asing di kalangan mahasiswa, dosen, dan pegawai di Universitas Siliwangi. Pasalnya, selain karena ia adalah seorang dosen, ia juga memiliki prestasi yang segudang dengan kepribadian yang ramah dan karismatik. Oleh karenanya, sangat wajar jika banyak kalangan di Universitas Siliwangi yang mengenal sosoknya. Bakatnya di bidang sastra, telah mengantarkannya pada segudang prestasi dan penghargaan. Tak jarang, ia juga sering diminta untuk tampil sebagai penyair di berbagai acara di Universitas Siliwangi.
Bersastra Adalah Pilihan Hidup
Baginya, sastra adalah pilihan hidup. Hidup dengan sastra adalah salah satu cara yang ia lakukan untuk mengekspresikan segala pemikirannya mengenai kehidupan. Bode Riswandi telah memulai ketertarikannya di dunia sastra sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kala itu, kecintaanya terhadap sastra dimulai saat dirinya tergabung di teater sekolah. Ia menuturkan bahwa pada saat itu sastralah yang mengalihkan kenakalan kehidupan remajanya pada waktu SMA. Ia berpikir bahwa ia merasa sangat beruntung bisa bertemu sastra dalam kehidupannya.
Menulis puisi adalah ketertarikan utamanya di dunia sastra. Murid dari Acep Zamzam Noer ini telah banyak menulis manuskrip puisi yang telah dibukukan. Selain itu, kepiawaiannya dalam bersajak telah membawanya menjelajahi banyak tempat sebagai penyair. Di samping menulis puisi dan bersajak, Bode Riswandi juga aktif menulis esai, cerpen, dan naskah drama. Karya- karya yang ia tulis telah berhasil ia bukukan dan dimuat di media nasional seperti S.K Priangan, Bali Post, Tribun Pontianak, Majalah Sastra Sabana, Pikiran Rakyat, dan Tabloid M.Q.
Menurutnya, sastra, keseniaan, dan kebudayaan adalah ranah yang masih bersih dan suci untuk bisa diterima oleh masyarakat kita. Hal tersebut karena belum ada unsur kepentingan- kepentingan terselubung apapun di balik itu.
Teater 28, Beranda 57, Republik Anak Elang, DKKT
Selain melakoni pilihannya dalam bersastra, Bode Riswandi juga aktif dalam beberapa komunitas yang berkaitan dengan sastra, seni, dan pendidikan. Salah satu komunitas yang diikutinya adalah Beranda 57, komunitas sastra yang ia dirikan di halaman rumahnya sendiri. Dengan moto “Berawal dari halaman”, komunitas ini aktif melakukan kajian sastra.
Tak hanya itu, misi untuk membuat Tasikmalaya membaca pun ia lakukan. Salah satunya adalah dengan mengunjungi anak- anak di pelosok Tasikmalaya. Bersama teman- temannya dari Beranda 57, Bode membawa tas carrier yang berisi puluhan buku dalam misinya untuk memperbaiki Tasikmalaya. Di samping itu, Bode juga bekerja sama dengan salah satu ketua dari pecinta motor di Tasikmalaya dalam misinya membuat Tasikmalaya membaca. Hal ini ia lakukan karena di Tasikmalaya sering ada perkumpulan motor yang kurang berfaedah.
Senada dengan Beranda 57, Republik Anak Elang pun memiliki misi pendidikan dan sastra. Awalnya, Republik Anak Elang diikuti oleh anak-anak jalanan namun seiring berjalannya waktu kegiatan ini diikuti oleh anak dari berbagai kalangan. Di sini, anak-anak diajarkan banyak hal seperti menulis puisi, cerpen, mendongeng, dan ngawih lagu sunda.
Nama Bode sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa yang aktif di UKM Teater 28. Pasalnya, ia merupakan salah satu pembimbing UKM ini. Bersama Bode, UKM ini berkembang sangat pesat. UKM ini sering melakukan tour antarkota, antarprovinsi, bahkan antarpulau.
Selain aktif di kampus, Bode juga ikut turut andil dalam perkembangan seni di Tasikmalaya. Bersama Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya, ia berhasil mengadakan acara Kibar Budaya di Tasikmalaya. Acara tersebut diisi dengan banyak hiburan budaya seperti teater, penampilan puisi, tari tradisional, dan paduan suara. Selain berbagai komunitas dan organisasi yang telah disebutkan sebelumnya, masih banyak lagi komunitas lain yang ia ikuti seperti Rumah Budaya, Komunitas Azan, Sanggar Sastra Tasik (SST), dan Rumah Teater.
Berkarya dan Menulis Buku
Kecintaanya kepada dunia satra terutama puisi telah membuat karya-karyanya banyak dimuat dan dibukukan di beberapa media nasional. Buku-buku yang telah ia tulis antara lain Mendaki Kantung Matamu, Dada Tuhan, Appresiasi Prosa Fiksi, dan Istri Tanpa Clurit. Tidak hanya itu saja, buah hasil dari pemikirannya mengenai sastra juga telah banyak dimuat di berbagai media dan jurnal nasional.
Bersyair di Negeri Orang
Baginya bersyair dan menulis puisi merupakan santapan sehari-hari. Kecintaanya terhadap dunia sastra telah membawanya bersyair hingga ke negeri orang. Menurutnya, langkah kakinya di negeri orang tersebut semata-mata hanya karena mengikuti jalan puisi yang telah ia lakoni selama ini. Di tahun 2005, ia didaulat sebagai duta kesenian dalam misi kebudayaan di Malaysia. Kemudian, di tahun 2016 ia juga didaulat sebagai pembicara sekaligus pembaca puisi di Kuala Lumpur Malaysia. Penampilannya bersyair di negeri orang itu telah mampu memukau para penonton yang hadir dalam acara tersebut.
Prestasi dan Penghargaan
Berbicara mengenai prestasi dan penghargaan yang diraih oleh Bode Riswandi di bidang sastra memang sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Pada tahun 2005 ia mengikuti Sayembara Menulis Cerpen Nasional dan menjadi Duta Kesenian dalam misi kebudayaan di Malaysia. Selanjutnya, pada tahun 2010 ia juga mendapatkan penghargaan sebagai sastrawan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya dan masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Awards untuk bukunya yang berjudul “Mendaki Kantung Matamu”.
Kemudian, pada tahun 2012-2014 ia mendapat penghargaan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI sebagai Pengagas Gerakan Tasikmalaya Membaca dan masuk lima besar Jabar Awards untuk bukunya yang berjudul “Dada Tuhan”. Ia juga mendapatkan penghargaan Anugerah Peduli Pendidikan dari Menteri Pendidikan Republik Indonesia .
Selanjutnya, pada tahun 2015-2016 ada beberapa prestasi yang juga telah ia raih, seperti didaulat sebagai Ketua Dewan Kesenin Kota Tasikmalaya, diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk menulis Naskah Lakon “Album Keluarga ’65”, diundang sebagai pembicara sekaligus pembaca puisi di Kuala Lumpur Malaysia, dan mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Penulis: Annisa Dwi Utami
Sumber:


