Home » Quipper Campus » Campus Life » Kisah 2 Lulusan Universitas Palangka Raya yang Menginspirasi

Kisah 2 Lulusan Universitas Palangka Raya yang Menginspirasi

by sereliciouz

Kisah 2 Lulusan Universitas Palangka Raya yang MenginspirasiQuipperian! Setelah lulus dan menyandang gelar sarjana, hal apa yang pertama kali Quipperian ingin lakukan?

“Mencari pekerjaan dengan bayaran besar?”

“Melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi?”

“Membuka lapangan pekerjaan/wirausaha?” atau

“Kembali ke daerah semula untuk mendedikasikan diri”

Pastinya banyak pertimbangan. Dan semua itu kembali ke pilihan masing-masing, karena banyak sarjana muda yang lulus dengan nilai IPK tinggi, dan berjuang untuk bersaing mendapat pekerjaan di perusahaan ternama.

Memang tidak salah memilih berkarier untuk suatu perusahaan yang selama ini kamu impikan sebagai bukti nyata dari pendidikan yang telah kamu tempuh bertahun-tahun di bangku kuliah. Juga menunjukan bahwa kamu sudah siap bekerja.

Keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk bersekolah tinngi

Tidak semua orang mampu mendapat gelar pendidikan sarjana dan bisa berkesempatan mendapat pekerjaan yang diimpikan. Meski begitu, kedua teman-teman Quipperian ini mendapat keberuntungan untuk bisa meraih cita-citanya dan perjuangannya yang menakjubkan. Gelar sarjana yang diraih mereka tidak selalu berjalan mulus. Adanya perjalanan yang berliku, berbatu, berduri demi pendidikan tinggi.

Keterbatasan ekonomi adalah hal yang sama-sama dimiliki oleh dua lulusan Universitas Palangka Raya yang akan dibahas di artikel Quipper Video Blog kali ini. Simak kisah mereka yuk!

Satu-satunya anak desa Tumbang Topus yang bisa berkuliah

Seorang gadis desa kelahiran 8 Agustus 1992 asal Tumbang Topus, kecamatan Uut Murung, kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah yang bercita-cita untuk  memajukan kualitas pendidikan di kampungnya.

Namanya Tia, anak bungsu dari pasangan Acing dan Ici ini menjadi satu-satunya remaja di desa Tumbang Topus yang berhasil menembus pendidikan ke perguruan tinggi.  Tentunya menjadi kebanggan tersendiri bagi kedua orang tua Tia karena putri bungsunya sekarang sudah jadi sarjana dan turut membanggakan tanah kelahirannya.

Perjalanan Tia sampai bisa mendapat gelar sarjana tidak mudah lho. Penyebabnya adalah kondisi kehidupan keluarga yang sulit, dan jarak tempuh yang jauh dari desa tempatnya menetap. Untuk bisa sampai ke Universitas Palangka Raya membutuhkan waktu tempuh 5 sampai 7 hari perjalanan menggunakan perahu motor agar bisa sampai ke kawasan Puruk Cahu. Dari situ pun masih harus melanjutkan lagi perjalanan agar sampai ke Palangka Raya. Meski jauh dari keramaian dan pusat kota Kalimantan, itu semua bukanlah penghalang yang menyurutkan impianya di masa depan.

Lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UPR (FKIP UPR) ini meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.46. Tia bertekad untuk memutuskan kembali ke desanya untuk mendidik generasi Tumbang Topus yang tertinggal. Impian ini merupakan keinginan dan harapan terbesarnya untuk mendedikasikan diri sebagai seorang guru dan membuktikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Murung Raya bahwa salah satu putri daerahnya masih ada yang ingin memajukan desa dari ketertinggalan dunia pendidikan. Semoga niat mulianya ini kelak bisa didengar dan terealisasikan oleh Pemerintah setempat.

Cumlauder yang bercita-cita menjadi seorang pendidik

Setelah kisah inspiratif dari Tia, selanjutnya ada Sri Lasmiati yang turut membanggakan kedua orangtuanya juga almamaternya dengan predikat cumlaude yang diaraihnya.

Sri Lasmiati, yang merupakan putri pertama pasangan Wiyatma dan Jumiati, adalah peraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.88 dengan masa studi empat (4) tahun pada program studi Pendididkan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di bawah naungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Keberhasilan yang diraih Sri Lasmiati ini pun tidak mudah dan penuh perjuangan yang gigih. Gadis kelahiran Palangka Raya  27 Oktober 1994 ini memulai masa studinya di UPR pada 2012 lalu lewat jalur  undangan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan menerima program beasiswa penuh Bidikmisi selama masa studi.

Meskipun Sri Lasmiati terlahir bukan dari keluarga berada. Sang ayah yang berprofesi sebagai pembelah batu di Bukit Tangkiling, dan ibunya adalah seorang baby sitter Orang Utan di Arboretum Nyaru Menteng Kalimantan Tengah, tidak membuatnya berhenti berusaha memberikan yang terbaik. Bagi Sri hidup pas-pasan bukan menjadi penghalang, tapi menjadikannya motivasi.

Kini Sri Lasmiati patut berbangga karena dapat menyelesaikan studi di universitas, berkontribusi sebagai murid yang berprestasi dan berhasil mendapat gelar sarjana. Menjadi seorang guru merupakan cita-cita yang Sri mimpikan sejak dulu. Setelah lulus, Sri akan mendedikasikan ilmu yang dimiliki nya untuk dunia pendidikan supaya bisa mendidik generasi bangsa, teruntuk bagi mereka yang kekurangan, patut diperhatikan dan mendapat hak pendidikan tinggi juga layak seperti dirinya.

Kisah kedua teman kita ini membuktikan bahwa di Negara Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berpotensi untuk memajukan negeri. Hanya saja pemerataan pendidikan belum semuanya bisa merasakan. Dan sebagai motivasi untuk Quipperian, terbukti bahwa semua impian bisa terwujud dengan adanya usaha dan kerja keras. Sepahit apapun kehidupan yang kamu jalani, bukanlah suatu penghalang agar bisa menikmat kehidupan yang lebih baik. Impian mulia kedua gadis penginspirasi ini, Tia dan Sri Lasmiati, semoga bisa menjadi motivasi untuk Quipperian yang selama ini diselimuti rasa malas untuk belajar atau putus asa untuk meraih cita-cita.

Quipperian, bersyukurlah bagi kamu yang saat ini tidak mengalami masa sulit seperti mereka yang kurang beruntung. Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar kedua orangtuamu juga merasa bangga. Mulai memberanikan diri dengan explore banyak hal untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Karena gak ada salahnya kok memupuk ilmu sejak dini.  

So, keputusan  ada ditangan kalian ya, Quipperian. Jika ingin berhasil maka tingkatkanlah kualitas belajar kamu karena hal itu sangatlah penting agar bisa mendaptkan jenjang karir yang sesuai, tapi apabila ingin diam di tempat saja, tidak ada keinginan untuk memulai sesuatu, maka bersiaplah untuk tertinggal dari si rajin. Eh! Mereka yang tertinggal saja masih semangat lho supaya meninggalkan ketertinggalannya. Masa kamu enggak? Good luck ya!

Penulis: Avinda Eka Utami

Referensi:

http://www.upr.ac.id/

Lainya untuk Anda