Quipperian, menurut kamu, tugas mahasiswa apa aja, sih? Apa cuma datang ke kampus, belajar, lalu pulang? Masuk laboratorium, praktik, lalu mengisi borang penelitian? Tentu sangat sayang sekali, ya Quipperian, jika masa-masa kuliah hanya kamu lewatkan di dalam ruang kelas atau laboratorium. Ada banyak sekali kegiatan yang bisa kamu lakukan sebagai mahasiswa.
Menjadi mahasiswa artinya menjadi calon pemimpin masa depan bangsa Indonesia. Untuk menjadi calon pemimpin, tentu tidak bisa hanya memiliki kecerdasan kognitif. Kamu harus melatih kemampuan memimpin, kepekaan terhadap sekitar, menganalisis masalah, dan memberi solusi. Selain itu, kamu juga harus mampu menghubungkan ilmu yang kamu pelajari untuk menjawab masalah-masalah sosial masyarakat di sekitar kamu.
Kamu tentu sering lihat mahasiswa yang kerap turun ke jalan dan melakukan demonstrasi. Sebelum melakukan aksi di jalan, mahasiswa-mahasiswa ini telah melakukan analisis akan adanya potensi masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, jadi mereka menyuarakan potensi masalah yang mereka ketahui ke pejabat pemerintahan atau orang-orang terkait yang mereka anggap bertanggung jawab untuk menyelesaikannya.
Sekilas Tentang Haerdy Pratama Wijaya
Namun, hanya menuntut dan menyuarakan tanpa mencoba mencari solusi atas masalah itu tentu tidak baik. Setidaknya, demikian yang diungkapkan Haerdy Pratama Wijaya, alumni Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman (Unmul) ini. Sebagai Presiden Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unmul periode 2014-2015, Herdi (panggilan akrabnya) sering berdiskusi dan menganalisis masalah-masalah yang muncul di tengah masyarakat. Tidak jarang juga, ia turun ke jalan, menyuarakan aspirasinya.
Akan tetapi Herdi merasakan, bahwa hanya mengkritik tidak banyak menghadirkan perubahan berarti. Untuk itu, dia mulai berpikir untuk menghadirkan solusi atas permasalahan yang sering ditemuinya di tengah masyarakat.
Hmm… Quipperitan tahu gimana caranya?
Klinik Anak Jalanan
Herdi dan teman-temannya menginisiasi sebuah gerakan bernama Klinik Anak Jalanan. Eitss… ini bukan klinik tempat pemeriksaan kesehatan, ya. Didasari oleh keprihatinan Herdi atas banyaknya anak jalanan di Kota Samarinda, klinik ini awalnya fokus memberi penyuluhan kepada anak-anak jalanan di Kota Samarinda yang kerap menggunakan zat inhalan atau yang sering disebut dengan ngelem. Herdi gemas banget, nih, dengan kebiasaan anak-anak tersebut. Sebagai mahasiswa Farmasi, dia tentu paham sekali efek negatif dari kebiasaan yang bahkan bisa sampai merusak sistem saraf ini.
Setelah melakukan interaksi di lapangan dengan anak jalanan ini, masalahnya tidak cuma ngelem, lho, Quipperian. Herdi dan teman-temannya melihat bahwa anak-anak jalanan ini tidak memiliki keterampilan. Tingkat pendidikan mereka pun yang rendah. Itu sebabnya mereka lebih memilih untuk menjadi pengemis di jalanan. Oleh karena itu, Herdi pun membuat pendidikan nonformal dengan aktivitas Klinik Anak Jalanan. Ia mengundang relawan-relawan untuk turut mengajar anak-anak jalanan di Kota Samarinda. Sekali seminggu mereka turun mengajar anak-anak ini.
Begitu kegiatan positif ini berkembang, Herdi kemudian mengajak teman-temannya untuk memberi keterampilan pada anak-anak jalanan ini. Bekerja sama dengan Komunitas Sablon Kaltim, komunitas ini mengajarkan keterampilan menyablon kepada anak-anak jalanan secara gratis. Bahkan, anak-anak ini diberi alat dan bahan sendiri. Keterampilan ini bisa jadi bekal buat mereka untuk membuka usaha kecil-kecilan. Lambat laun, terlihatlah potensi-potensi terpendam, Quipperian. Mereka mulai terampil dalam menyablon kaus. Baju kaus hasil sablonan mereka pun dijual.
Kegiatan Klinik Anak Jalanan
Apakah sampai di situ saja? Tentu tidak. PR Herdi semakin berat tampaknya. Anak-anak jalanan ini pun diajari cara mengelola keuangan sendiri. Uang hasil penjualan ini disimpan untuk membeli bahan dan peralatan agar usaha mereka tidak berhenti. Keren banget, ya, ide Herdi ini. Jadi tidak hanya keterampilan, anak-anak ini mendapatkan ilmu kewirausahaan (entrepreneurship), Quipperian. Harapan Herdi, kelak anak-anak ini tahu menggunakan keterampilan yang mereka miliki dan mampu mendatangkan keuntungan bagi mereka. Jadi mereka tidak perlu lagi berkeliaran di jalan untuk meminta-minta.
Gerakan yang sangat keren dari Herdi ini pun mendapat banyak penghargaan. Top Five Social Project di Kuala Lumpur Malaysia, Juara Proyek Sosial Terbaik di ICN Jakarta dan Wakaf Kita di Malaysia adalah beberapa penghargaan yang pernah diraih. Gerakan ini pun semakin populer di seluruh Indonesia setelah Herdi diundang di acara talkshow Hitam Putih di Trans 7.
Pemuda yang bulan maret ini genap berusia 25 tahun, sedang mempersiapkan diri untuk mengambil S2. Walaupun telah menyelesaikan pendidikan S1-nya dari Fakultas Farmasi, Herdi masih terus berkecimpung di kegiatan anak jalanan. Total ada 86 anak jalanan yang bergabung dalam Klinik Anak Jalanan dan ada 150 relawan yang pernah terlibat hingga hari ini. Konon, Herdi ingin membubarkan Klinik Anak Jalanan sesegera mungkin. Lho, kok bisa? Ya, karena menurut dia, dengan bubarnya Klinik Anak Jalanan, maka tidak ada lagi anak-anak jalanan di Kota Samarinda. Klinik Anak Jalanan tidak diperlukan lagi.
Wah, Herdi keren banget ya Quipperian. sangat visioner. Tidak hanya menjadi mahasiswa yang tugasnya hanya kuliah, Herdi juga mampu memberikan solusi untuk masalah sosial yang ditemuinya di masyarakat. Tentu saja, ia tidak menyelesaikan semua masalah sosial yang terjadi, tapi mengambil bagian pada masalah yang ia anggap mampu untuk ia berikan solusi. Sepak terjang Herdi ini patut kita teladani. Menjadi mahasiswa artinya harus peka terhadap kondisi sekitar kita dan mampu memberi jawaban sesuai ilmu yang kita pelajari. Dan jangan lupa, jaringan persahabatan juga penting untuk membantu kita mengatasi masalah-masalah itu.
Penulis: Shandy Marpaung
Sumber:
instagram: @klinikjalanan
Wawancara penulis