
Eka prianti dan timnya yang menginisisasi produk Jakasena bersama Kelompok Wanita Tani Desa Adi Luhur (Credit : Eka Prianti)
Menjadi mahasiswa itu memang beda, Quipperian, karena banyak kemampuan diri yang bisa kamu asah dan kembangkan melalui berbagai kegiatan akademik maupun non akademik. Salah satunya bisa kamu salurkan melalui PKM atau Pekan Kreativitas Mahasiswa seperti yang dilakukan Eka Prianti.
Mahasiswi jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Lampung angkatan 2012 ini menggali potensi lokal yang belum termanfaatkan di Lampung, yaitu biji karet. Eka yang menjadi ketua tim beranggotakan Zupika Audina dari Jurusan Agribisnis, Carta Wijaya dan Rizal Gata Kusuma dari Jurusan Teknik Geofisika, dan Sartika dari Jurusan Kehutanan menemukan ide ini saat mereka melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di pedalaman Lampung, tepatnya di Desa Adi Luhur, Mesuji.
Biji Karet Melimpah, Namun Belum Termanfaatkan
Mayoritas penduduk desa Adi Luhur hidup dari menyadap getah karet. Pada saat itu, penduduk setempat sedang mengalami kesulitan ekonomi dikarenakan anjloknya harga karet dari harga biasanya Rp. 20.000/kg menjadi Rp. 6000/kg. Padahal jarak tempuh dari Mesuji ke pabrik getah karet sangat jauh, sehingga getah karet yang dikirim tak sebanding dengan ongkos yang mereka keluarkan untuk mengantarnya ke pabrik.
“Kami menggali apa yang bisa kami lakukan dengan kondisi ini. Kami melihat banyak biji karet yang tidak termanfaatkan padahal sangat mudah didapatkan disini. Dalam dua jam saja kami bisa mengumpulkan satu karung biji karet,” ujar Eka saat ditemui di Sekretariat BEM Unila.
Nah, untuk membantu masyarakat setempat dan meningkatkan pendapatan petani, mereka menggelar pelatihan membuat kerupuk dari biji karet. Disana, kreativitas mereka ditantang, Quipperian. Dari yang awalnya biji karet atau klatak di desa Adi Luhur hanya menjadi sampah, akhirnya setelah melalui berbagai penelitian Eka dan timnya bisa mengolahnya menjadi kerupuk.
Dari hasil penelitian mereka, ternyata biji karet memiliki kandungan racun di bakal buahnya, namun hal itu bisa dihilangkan. Eka dan timnya kemudian bereksperimen dan menemukan cara menghilangkan racun tersebut, yaitu dengan merendam biji karet yang sudah dipecahkan kulit kerasnya dengan air garam semalaman dan selanjutnya membuang bagian bakal buahnya. Setelah itu, biji karet dihancurkan dan diolah dengan tepung terigu serta tambahan bumbu-bumbu, dan langkah selanjutnya yaitu dijemur hingga kering. Baru deh, langkah terakhir adalah menggorengnya.
Setelah produk tersebut di uji coba, Eka mengajak ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) di desa Adi Luhur untuk mempraktekannya. Namun setelah itu, dikarenakan masa KKN sudah usai, Eka dan teman-temannya harus kembali ke bangku perkuliahan lagi. Namun ternyata produksi kerupuk biji karet masih terus dilanjutkan warga setempat dan mereka meminta Eka dan teman-temannya untuk membimbing mereka kembali untuk proses produksi hingga pemasaran.
Produk Makin Matang Setelah Mendapat Hibah PKM-M
Pada awalnya, Eka dan timnya terkendala dana untuk mengembangkan program tersebut. Sebagai jalan keluar, gagasan terkait pengolahan kerupuk biji karet diajukan ke Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dengan proposal berjudul “Jakasena (Jajanan Klatak Sehat dan Enak), Pemanfaatan Biji Karet Sebagai Jajanan untuk Pemberdayaan Masyarakat di Desa Adi Luhur, Kecamatan Pancajaya, Kabupaten Mesuji, Lampung”.
Proposal tersebut akhirnya lolos dan mereka mendapat bantuan dana untuk melanjutkan pengabdian masyarakat di Desa Adi Luhur. Bersama BP3K (Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Peternakan dan Kehutanan) dan KWT Kecamatan Pancajaya, Eka menyempurnakan produk Jakasena dengan berbagai inovasi.
Anggota KWT desa Adi Luhur telah banyak mendapatkan pelatihan pembuatan produk kerupuk dengan inovasi rasa dan bentuk yang layak jual. Mereka juga mendapatkan pelatihan pengemasan, pelabelan dan strategi pemasaran yang dipandu oleh Eka dan timnya.
Kemudian, kelompok KWT diberi bantuan investasi awal berupa mesin segel kemasan, timbangan, maupun alat pemotong kerupuk, plastik kemasan, label serta bahan-bahan pembuatan kerupuk untuk modal awal produksi.
“Keluaran dari program ini adalah tercipta usaha mandiri dan menguntungkan di sektor industri rumah yang mengacu pada bidang ekonomi dengan memanfaaatkan biji karet sebagai bahan baku pembuatan jajanan yang disukai oleh masyarakat,” tambah Eka.
Program pengabdian kepada masyarakat desa Adi Luhur itu telah mencapai hasil 80 persen dari target, yaitu terciptanya home industry yang berkelanjutan. Saat ini sudah terbentuk dua sentra produksi kerupuk biji karet di desa Adi Luhur yaitu KWT Melati dan KWT Mawar.
Selain menyerap tenaga kerja serta meningkatkan kreativitas masyarakat, usaha produksi kerupuk biji karet ini juga merupakan terobosan penting karena dapat menjadi salah satu solusi perekonomian bagi petani karet untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kerupuk biji karet dijual seharga Rp. 10.000 per kemasan 150 gram dengan berbagai varian rasa.
Bupati Ingin Jadikan Kerupuk Biji Karet sebagai Oleh-Oleh Khas Mesuji
Produk kerupuk biji karet telah mengikuti berbagai perlombaan dan pameran. Produk ini juga telah dipasarkan di berbagai tempat seperti warung, toko, dan menerima pesanan dari masyarakat umum maupun Pemkab Mesuji.
Produk ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak seperti Kepala Desa Adi Luhur, Ketua PKK desa Adi Luhur, BP3K Kecamatan Pancajaya, Dinas Koperindag serta pemerintahan daerah setempat dan juga dukungan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung. Bupati Mesuji juga berencana mengembangkan kerupuk biji karet ini menjadi produk oleh-oleh khas Mesuji.
Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dan liputan dari berbagai media membawa Eka beserta timnya menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2016 yang berlangsung di IPB Bogor. Meskipun tidak meraih juara nasional, tetapi mereka telah menghasilkan produk inovatif yang akan diangkat menjadi ikon Kabupaten Mesuji.
————
Kamu juga bisa lho Quipperian berkarya seperti Eka Prianti dan teman-temannya karena masa kuliah adalah masa-masa istimewa dengan segudang kesempatan untuk mengaktualisasikan diri. Siapa tahu nama kamu yang akan masuk pada daftar mahasiswa Unila berprestasi selanjutnya.
Penulis: Dwi Pravita Ganatri
Referensi:
Wawancara langsung dengan Eka PRianti, Peserta PIMNAS dari Unila
