Mengenal Aktivis Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Hai Quipperian, jika artikel-artikel sebelumnya membahas tentang kampus, kali ini Quipper Video  Blog akan membahas mahasiswa yang berprestasi. Sudah tidak asing dengan kata prestasi bukan? Yup tepat sekali, prestasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan atau dikerjakan.

Macam prestasi itu banyak ya, Quipperian, ada prestasi akademik, prestasi kinerja, prestasi pencapaian target, dan lain sebagianya. Di artikel ini Quipper akan fokus membahas prestasi yang diraih oleh mahasiswa ya.

Yuk kenalan dengan mahasiswa UIN Semarang yang berprestasi berikut ini, Quipperian. Agar kamu juga dapat termotivasi atau bahkan terinspirasi oleh mereka.

Syafrudin Fahmi

Mengenal Aktivis Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Syahrudin Fahmi merupakan aktivis di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Rayon Syariah Walisongo dari tahun 2014 sampai 2017. Selain itu, Fahmi juga salah satu anggota Tim Hisab Rukyah (THR) Masjid Agung Jawa Tengah masa bakti 2015 sampai dengan 2020.

Mahasiswa anggota DPP Astrofisika 2015 sampai 2020 ini juga tergabung dalam keanggotaan  IKSAB TBS Kudus 2016 hingga 2020, Dema (Dewan Mahasiswa) Fakultas Syariah dan Hukum Bidang Kemendikbud di tahun 2015. Kemudian di tahun 2015 ia masih menjadi anggota Dema di bidang Kominfo, sebagai anggota Gusdurian di tahun 2017. Di tahun yang sama, yaitu 2017 ini, Fahmi menjabat sebagai Presiden Dewan Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum.

Wow, aktif sekali ya? Walaupun seorang aktivis, Fahmi  tetap dapat berprestasi lho Quipperian, ini dibuktikan dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,87, amazing bukan? Lalu bagaimana dong membagi waktu antara belajar dengan berorganisasi? Menurut mahasiswa yang lahir pada 28 Desember 1994 ini, agar tetap seimbang antara kuliah dengan berorganisasi harus dapat mengatur waktu dengan memahami skala prioritas.

Fahmi percaya bahwa waktu adalah hal yang tidak dapat kembali dan akan terus berputar, sehingga ia harus membuat skala prioritas mana yang harus diprioritaskan untuk dikerjakan lebih dulu. Jika sudah tahu skala prioritas maka dengan mudah ia membagi antara kuliah, mengerjakan tugas, berorganisasi, atau hanya kongkow-kongkow dengan teman.

Nah, hal yang tidak kalah penting adalah disiplin waktu dan konsekuen dengan pengaturan yang telah dibuat agar jadwal yang telah terencana terlaksana dengan baik. Ya, walaupun kadang ada hal yang mendadak dan mendesak kita bisa tahu mana yang perlu ditunda.

Agita Sunni Hidayah

Mengenal Aktivis Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Sekarang, yuk kenalan dengan mahasiswa yang sangat aktif berkiprah di tingkat fakultas, universitas, hingga tingkat nasional. Gadis dengan nama lengkap Agita Sunni Hidayah ini lahir di Wonosobo tanggal 5 November 1995.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam ini, mengikuti berbagai organisasi baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Di antaranya adalah pada tahun 2014 menjabat sebagai sekretaris di Keluarga Mahasiswa Wonosobo Walisongo, pada tahun 2015 menjabat sebagai bendahara pada Lembaga Kajian dan Penerbitan PMII Abdurrahman Wahid untuk Divisi Kajian.

Di tahun 2016 ia mengikuti berbagai organisasi, yaitu di Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia menjabat sebagai Badan Pengurus Nasional Jaringan Kerja, Dewan Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebagai Menteri Pendidikan Dan Penalaran, menjabat sebagai Bendahara Umum di Lembaga Pers Edukasi selama periode 2016 – 2017.

Pada tahun 2017, mahasiswi dengan panggilan Agita ini, masih aktif mengikuti organisasi yaitu PMII Komisariat Walisongo sebagai anggota Divisi KOPRI (Korps PMII Putri), dan sebagai Staf PSDM (Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa) di Dewan Eksekutif Mahasiswa.

Jika dilihat dari keaktifannya yang berbeda-beda, tentu tanggung jawab dan kontribusinya juga berbeda ya, Quipperian. Sebagai contoh adalah saat menjabat sebagai staff PSDM di Dema, tugasnya adalah menjaga dan menilai Pengembangan tiap-tiap anggota Dema, karena PSDM tugasnya lebih banyak pada internal organisasi, Quipperian. Berbeda saat menjadi seorang bendahara, sudah terbayang bukan tugas bendahara? Ya betul, kurang lebihnya adalah mengatur sirkulasi keluar masuknya keuangan pada organisasi.

Lalu bagaimana dengan kuliahnya jika sangat aktif? Kuliahnya juga sangat baik lho, Quipperian. Hal ini dibuktikan dengan IPK-nya yang fantastis yaitu 3,8. Nah, untuk dapat berorganisasi dan tetap bisa mempertahankan nilai dengan baik, Agita punya tipsnya buat kamu.

Menurutnya, sebagai mahasiswa harus dapat mengatur waktu dan punya skala prioritas mana yang akan dilakukan lebih dahulu. Karena belajar materi kuliah bisa dilakukan di mana saja, maka dia akan belajar sambil berdiskusi dengan teman-teman, atau sambil berorganisasi, atau di manapun. Saat kuliah benar-benar memperhatikan materi dari dosen dan aktif berdiskusi akan membantu daya ingat tanpa harus menghafal materi-materi yang telah didapat saat ujian tiba.

Itulah dua di antara para aktivis UIN Walisongo Semarang ya, Quipperian. Bagaimana? Terinspirasi dengan mereka? Jangan ragu Quipperian, karena walaupun mereka adalah aktivis kampus, mereka tetap dapat bertanggung jawab sebagai mahasiswa kepada orangtuanya, yaitu dengan meraih nilai-nilai akademis yang sangat menakjubkan.

Mahasiswa adalah agen perubahan negeri ini, maka gunakan kesempatan selama kamu menjadi mahasiswa untuk mengikuti berbagai organisasi.  Jika kamu mengikuti berbagai aktivitas, secara tidak langsung kamu akan belajar manajemen waktu, seperti yang telah dituliskan di atas.

Kamu perlu mempunyai skala prioritas, di samping kamu bisa beraktivitas. Ingat Quipperian, waktu tidak akan kembali, maka manfaatkanlah dengan sebaik mungkin agar tidak menjadi orang yang merugi.

Penulis : Nurul Fatihah

Referensi

Wawancara Langsung dengan Narasumber

http://kbbi.web.id



DISKON s/d Rp600.000. Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang