Simak Cara Cerdas Jawab Pertanyaan Super Ngeselin Orang Awam Tentang Kuliah Sastra Korea!

Simak Cara Cerdas Jawab Pertanyaan Super Ngeselin Orang Awam Tentang Kuliah Sastra Korea!

Quipperian, ketika kamu menjadi mahasiswa sastra ada beberapa hal menjengkelkan dan sering terjadi saat bertemu orang awam. Mereka akan bertanya peluang kerja, menggampangkan objek studi, masa depan, dan segudang pertanyaan super ngeselin lainnya.

Apalagi ketika kamu menjadi mahasiswa Sastra Korea. Seakan stigma KPOPers mudah melekat. Begitulah perspektif orang awam dalam melihat mahasiswa jurusan ini. Maklumlah, mereka memang tidak mengerti objek studi sastra, terutama Sastra Korea. Justru itu, kalian harus mampu mengedukasi mereka.

Kalian harus tahu trik menghadapi dan menjawab pertanyaan super ngeselin orang awam mengenai Sastra Korea. Simak ulasannya.

Kalau Nanti Lulus Mau Kerja Apa?

Nah, kalian nanti akan muak dengan pertanyaan “anak sastra nanti kerjanya apa?”. Ngeselin sih, tapi kamu musti sabar. Ada beberapa cara cerdas untuk menjawabnya. Bisa kalian buat si penanya makin sebal, bisa pula jawaban runut nan mengedukasi, bisa pula jawaban sembari becanda.

Kata Siapa Jurusan Sastra Tak Punya Masa Depan?

Kalau emang si penanya nganggap remeh, bahkan cenderung menghina, kamu bisa banget untuk challenge balik dia. “Emang lulusan Fakultas Hukum (FH) udah pasti jadi pengacara!”. Tantang dia untuk riset kecil-kecilan lulusan FH, berapa persen dari mereka jadi pengacara atau berkerja sesuai bidang. Boom! Jelas dia kena hook.

Berbeda bila kalian mendapat penanya memang ingin tahu dan sopan saat bertanya. Tentu kalian akan semangat memberi edukasi. Kalian sangat boleh menjelaskan secara runut bahwa di Prodi Sastra Korea kami mendapat tak hanya kemahiran berbahasa Korea, melainkan kebudayaan baik populer dan tradisi, belajar politik, sejarah, dan budaya perusahaan berkait ekonomi bisnis.

Dari situ, peluang kerja lulusan Satra Korea sangat diserap lapangan kerja. Paling populer menjadi penerjemah dan intepreter di perusahaan-perusahaan Korea di Indonesia, juga bekerja di instansi pemerintah semisal kedutaan Korea di Indonesia, KJRI, atau bisa berpeluang menjadi dosen.

Nah, kalau mau jawab sembari becanda gampang guys. Kamu cukup bilang “rejeki, jodoh, dan maut semua di tangan Tuhan YME. Kita cuma bisa berusaha. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, kekurangan milik Bunda Dorce”. LOL.

Pasti Mahasiswanya KPOP Lovers?

Mungkin pertanyaan sekaligus stigma bahwa mahasiswa Sastra Korea pasti KPOP Lovers paling sering muncul. Simak pula artikel (Hindari Mitos Menyesatkan Program Studi Korea)

Memang tak bisa dipungkiri sebagian besar alasan mereka mendaftar Sastra Korea lantaran Hallyu (Korean Wave), entah karena penggemar KPOP, Drakorholic, pecinta reality show, dan beragam produk kebudayaan pop Korea.

Meski, tidak sedikit pula mahasiswa Sastra Korea sama sekali bukan KPOP lovers. Jadi tak bisa dipukul rata. Mereka mungkin ingin belajar industri hiburan Korea, budaya perusahaan, bahkan militer. Mereka, non KPOP lovers, tentu akan jengkel bila orang awam memberi stigma bahwa mahasiswa Sastra Korea udah pasti KPOP lovers.

Paling Kuliahnya Gampang, Cuma Nonton Drakor?

Anak Sastra Korea sering banget mengusap dada, menahan sabar untuk pertanyaan dan anggapan sebelah mata orang awam mengenai objek studi Sastra Korea.

Orang awam mengira kuliah Sastra Korea itu gampang. Cuma nonton Drakor, stay tuned reality show Korea, dan ngehafal lagu-lagu KPOP. KZL alias kesel sih. Tak jauh beda dengan jurusan sastra lainnya, Sastra Korea juga mempelajari filsafat, kebudayaan, sejarah, linguistik, dan kebudayaan pop. Mahasiswa Sastra Korea pasti akrab dengan sukce atau tugas kuliah.

Sejak tahap semester awal para mahasiswa akan mendapat sukce dan terus berlangsung hingga semester akhir. Tugasnya juga macam-macam, dan hallyu cuma sepersekian dari tugas membaca drama atau sastra klasik.

Mahasiswa Sastra Korea juga dituntut mahir berbahasa Korea, baik lisan maupun tulis. Mereka akan digembleng keras mengenal kosa kata, pembentukan kata, serta belajar fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Gimana, masih mikir kuliah Sastra Korea gampang?

Kok Enggak Tahu Sih Artinya Apa?

Ketika sedang menonton Running Man, reality show Korea, tiba-tiba seorang teman bertanya “Eh meo ri a peao artinya apa sih?”. Kamu enggak tahu atau perlu kamus, dan tiba-tiba dia bilang “gimana sih lo anak Sastra Korea kok enggak tahu!”.

Sumpah guys, pasti jengkel abis. Orang awam pasti enggak paham kalau mahasiswa Sastra Korea bukan kamus. Mereka sedang belajar, dan belum menjadi expertMahasiswa Kedokteran Gigi juga ga bisa langsung praktik Veneer!

Lagian guys, soal bahasa, Korea punya juga bahasa dialek atau varian bahasa menurut wilayah goegrafis. Korea, paling tidak, memiliki 6 satoori atau dialek berdasar pembagian geografis meliputi wilayah bahasa: Gyeong-gi, Gang-won, Chung-cheong, Gyeong-san, Jeol-la, dan Je-ju.

Tiap wilayah tersebut memiliki karakteristik dialek tersendiri. Misalnya, Gyeong-gi akrab dengan vokal oe, Gang-won sering menggunakan kata rae-yo di akhir kalimat. Rumit kan!

Nah, lagi-lagi kamu harus sabar-sabar dan mulai mengedukasi orang-orang awam, apalagi bila mereka menganggap sebelah mata Sastra Korea, wajib banget buat kamu membangun awareness terhadap hal-hal tersebut.

Mari mengedukasi!

Penulis: Rahmat Ali



Promo SPESIAL Semester Genap, mulai dari 390ribu aja! Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang