Tiffani dan Prisca, Lulusan Unsrat Peraih Rekor MURI sebagai Dokter dan Gelar Master Termuda di Indonesia

Sumber: Tempo.co

Tahukah kamu Quipperian, kalau orang Minahasa terkenal pintar? Sebagaimana Dr. Sam Ratulangi, Pahlawan Nasional asal Minahasa selaku peraih doktor matematika pertama di Asia Tenggara yang kini terpatri menjadi nama perguruan tinggi tersohor di Manado.

Kali ini, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) kembali mencetak generasi penerus berbakat, ia adalah Tiffani Sharon Kairupan S.Ked, penerima anugerah Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai sarjana kedokteran termuda di Indonesia. Penghargaan diberikan bersama dengan ulang tahun MURI ke-22 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin, 23 April 2012.

Siapa Tiffani Sharon?

Dia menyandang predikat tersebut setelah lulus dari Universitas Sam Ratulangi, Manado, pada usia 17 tahun 7 bulan. Dengan demikian, Tiffani menggeser kedudukan Riany Helmy, alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang meraih gelar sarjana kedokteran saat usia 17 tahun 11 bulan.

Jenjang pendidikan kedokteran yang terkenal dengan masa studi paling lama tersebut, ditempuhnya hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,55. Luar biasa bukan?

Ingin tahu bagaimana perasaan dara cantik kelahiran Jakarta, 25 Juni 1994 ini menyandang gelar sarjana kedokteran termuda? “Tentunya senang”, katanya. “Semua ini tidak membuat saya lupa bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan anugerah luar biasa dan berkat terbesar dalam hidup” ucap Tiffani, tersenyum.

Dikaruniai otak cemerlang membuatnya mudah menghafal, bukan berarti ia memiliki waktu khusus untuk belajar. Sosok Tiffani sebenarnya jauh dari ciri orang kutu buku. “Saya sebenarnya nggak hobi belajar”, katanya. “Paling kalau baca, saya lebih senang membaca novel”. Status sarjana yang begitu cepat diraihnya tak lepas dari keikutsertaan Tiffani dalam program akselerasi.

Latar belakang pendidikan Tiffani

Masa belajarnya dari tingkat SD hingga SMA juga dilewati secara tak wajar. Tiffani mengaku belajar di SD hanya dihabiskan selama empat tahun. Mengikuti orangtuanya yang ketika itu menjalani pendidikan di Australia, Tiffani mengenyam pendidikan di Clayton Primary School, Vic. Australia (1999), Bouchier St. Primary School, Vic. Australia (2000).

“Akhir tahun 2000, kami sekeluarga pindah ke Manado di mana saya menyelesaikan sekolah dasar di GMM IX. Seharusnya, saya duduk di kelas satu. Karena ada perbedaan kalender akademik antara Indonesia dan Australia, saya diperbolehkan di kelas dua. Di bulan Juni 2001, saya naik kelas tiga dengan jangka waktu tujuh bulan saja. Enam bulan berada di kelas lima, seorang guru dan kepala sekolah menawarkan saya untuk mengikuti pendidikan di kelas enam”, ucap gadis berambut panjang ini.

Memasuki usia 10 tahun ia sudah berstatus pelajar SMP yang dilampauinya hanya dalam waktu dua tahun. Mengenakan seragam putih abu pada usia 14 tahun, ternyata ia pun sudah dinyatakan lulus setelah bersekolah selama dua tahun di SMA.

Prestasi yang diraih Tiffani

Tiffani pada awalnya ragu menerima tawaran kepala sekolahnya untuk akselerasi “Saya khawatir tidak bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran kelas enam”, kata Tiffani. Tapi ternyata, ia ketagihan mengikuti program akselerasi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dari pemerintah yang hanya dua tahun saat SMP dan SMA. Kuliahnya pun diselesaikan dengan judul skripsi “Profil Status Mental Mahasiswa Baru Fakultas Kesehatan Masyarakat tahun akademik 2011-2012”.

“Terlibat dalam program akselerasi membuat saya memiliki banyak waktu untuk mencoba sesuatu yang baru”, ujarnya. Ternyata kecerdasan luar biasa yang dimiliki Tiffani tak lepas dari keturunan kedua orangtuanya. Walau katanya kecerdasan tidak bersifat menurun, namun status Guru Besar dari kedua orangtua Tiffani, Prof. Dr. Ralph Kairupan M.Sc dan Prof. Dr. Nova Kapanto, cukup menjadi permakluman bahwa Tiffani layak disebut anak pintar. Keduanya adalah Guru Besar di Universitas Sam Ratulangi. Dua kakak Tiffani juga sudah menyandang predikat dokter.

Ia tak menampik jika pilihannya menempuh studi bidang kedokteran tak lepas dari pengaruh orangtua dan kedua kakaknya. Tiffani yang suka membaca novel Agatha Christy ini mengaku nantinya akan mengambil spesialis kesehatan jiwa. Dan kini ia tengah mempersiapkan menjalani kepaniteraan klinik atau koas (ko-asisten dokter).

Mengenal Prisca Rumokoy

Setahun sebelumnya, Unsrat juga telah meluluskan sarjana hukum termuda Prisca Octavia Rumokoy, yang saat itu berusia 18 tahun. Tak dinyana, selang setahun setelah Tiffani mendapatkan rekor MURI, Prisca turut naik panggung dan didaulat sebagai Peraih Gelar S2 Termuda di Indonesia.

Prisca layak mendapat penghargaan dari MURI karena telah menyelesaikan studi S2 di usia 20 tahun dari Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Penganugerahan rekor MURI terhadap Prisca berlangsung, Selasa (28/5/2013) di lantai empat Kantor Pusat Universitas Sam Ratulangi, Manado, diserahkan Senior Manager MURI, Paulus Pangka, dihadapan para anggota senat.

Prestasi dan penghargaan di bidang akademik

Dengan Tesis berjudul “Politik Hukum Desentralisasi Fiskal Otonomi Daerah” yang dipertahankan dalam sidang senat terbuka Fakultas Pascasarjana bidang ilmu hukum. Ia dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Sama seperti Tiffani, Prisca getol mengikuti program akselerasi sehingga dapat menyandang predikat Magister dalam usia masih sangat Belia. Dia tamat sekolah dasar Negeri XI Manado pada usia 10 tahun, dan dua kali ikut program akselerasi di SMP maupun SMA.

Berkat kecerdasannya setelah lulus sarjana, Prisca yang kala itu berusia 18 tahun dipercayakan pemerintah menjadi asisten dosen di Fakultas Hukum Unsrat, dengan mengajar mata kuliah bahasa Inggris Hukum dan Hukum Tata Negara.

“Sewaktu mengajar menjadi asisten dosen, kadang perasaan saya merasa tidak enak, karena mahasiswa saya banyak umurnya lebih tua. Tetapi saya selalu percaya diri seperti yang diajarkan orangtua,” kata Prisca yang mengidolakan tokoh asal Sulawesi Utara Dr Josias Semuel Sam Ratulangi. Tak ditampik juga, bakat tersebut menurun dari ayahnya, Prof. Dr. Donald A Rumokoy SH.,MH yang menjabat sebagai rektor Unsrat dari 2008-2014. Kini dara cantik ini sedang mengambil pendidikan Doktor (PhD) di University of Washington.

Sumber:

http://sentramedis.com/?sentra-medis=newsdetail&id=56

https://www.facebook.com/SeputarSulut/posts/655693617775482

https://acsujabodetabek.wordpress.com/2012/03/12/triffani-sharon-kairupan-sarjana-kedokteran-termuda-di-indonesia/

http://dev.republika.co.id/berita/koran/555804

http://swaramanadonews.com/?p=15616

Lainya Untuk Anda

Rahasia Kuliah Gratis & Pengalaman Keren? Cek Beasiswa Djarum Foundation!

Fakultas Farmasi: Cocok Buat Kamu yang Suka Sains, Penasaran Sama Obat, dan Mau Jadi Peneliti Keren di Dunia Kesehatan!

Gratis Kuliah S1 di Korea? Daftar GKS Aja!