Yuk,Tengok Prestasi Alumni Unsrat, Dari Peneliti Berkelas Internasional Hingga Ketua Umum Partai

Yuk, Tengok Prestasi Alumni Unsrat, Dari Peneliti Berkelas Internasional Hingga Ketua Umum Partai
Sumber: Facebook.com

Ada yang bilang kalau kualitas suatu perguruan tinggi bisa dilihat dari prestasi yang diraih alumninya. Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) punya banyak alumni yang berprestasi di berbagai bidang lho. Yuk, kita lihat siapa saja mereka. Siapa tahu, Quipperian bisa terinspirasi untuk mengikuti jejak mereka.

Vennetia Ryckerens Danes , Terima Pujian dari Dua Penerima Nobel Kedokteran

Siapa menduga kalau dokter kelahiran Manado, 27 Maret 1962, ini menyimpan potensi sebagai peneliti berkelas dunia. Penelitian yang dilakukan Vennetia Ryckerens Danes membuat dua pemegang Nobel kedokteran dari Max Plank Institute (Jerman), yakni Prof. Bert Sakmann dan Prof. Erwin Neher, berdecak kagum. Mereka tidak menduga ketika menyaksikan penelitian yang sangat rumit dilakukan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado itu. Selain terkagum-kagum, Bert Sakmann juga dengan terus terang menyatakan rasa bangganya.

Dengan menggunakan alat atau teknologi patch clamping temuan Prof. Sakmann dan Prof. Erwin Neher lah, Vennetia melakukan penelitian mengenai aktivitas sel jantung. Karena alat tersebut sempat tidak berfungsi, ia memberanikan diri berdiskusi dengan Prof. Sakmann, mengenai salah satu instrumen penelitiannya. Keduanya berdiskusi sambil mengutak-atik sejumlah sel jantung yang masih hidup. Sakmann juga mengakui, penelitian sel-sel jantung dengan menggunakan alat patch clamping jauh lebih rumit ketimbang meneliti sel-sel saraf.

Peraih nobel tersebut kemudian ikut mencarikan jalan keluar saat teknologi patch clamping yang digunakan dalam penelitian Vennetia tidak mampu mengeluarkan data yang dibutuhkan. Ia kemudian merancang desain struktur alat baru yang akan diorder untuk meneliti sel-sel jantung.  Menurut Venne, lewat teknologi patch clamping, aktivitas ion yang masuk keluar pada sel saraf neuron pada penderita epilepsi bisa diukur.

Penemuan teknik itu telah membawa revolusi sangat berarti di bidang kedokteran, terutama di bidang sel, molekul, dan elektrofisiologi. Teknik ini dapat mengukur voltase, aliran listrik, serta aplikasi molekuler lainnya terhadap sel mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku, termasuk sel jantung.

Istri dari Mochtar Siby, dosen Fakultas Teknik Unsrat ini mengatakan, melalui teknologi itu pula ia melahirkan terobosan dalam penelitian bidang molecular and cellular cardiology yang kemudian mengantarnya dalam penemuan channel baru penyebab lain pembesaran dan kegagalan jantung. Lewat temuan itu pula Venne berhak atas gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya berjudul “Cardiomyocyte Calcium and pH Regulation in Primary Cardiac Hypertrophy” pada Fakultas Kedokteran Universitas Melbourne, Victoria, Australia.

Yuk, Tengok Prestasi Alumni Unsrat, Dari Peneliti Berkelas Internasional Hingga Ketua Umum Partai
Sumber: Facebook.com

Deny Tewu, Salah Satu Pendiri Partai Damai Sejahtera

Pria berdarah Manado kelahiran Surabaya, 11 Juli 1963 ini termasuk tipe orang yang suka bergaul dengan siapa saja. Semasa mahasiswa, jiwa kepemimpinannya makin terasah dengan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi di kampus. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi Manado dan Ketua Unit Pelayanan Kerohahanian (UPK) se-Universitas Sam Ratulangi.

Setelah mengantongi gelar sarjana ekonomi dari Unsrat Manado tahun 1991, Denny mengadu nasib di ibu kota Jakarta. Ia pernah berkiprah di salah satu perusahaan properti sebagai  marketing. Kemudian ia menapaki karier sebagai PNS Departemen Keuangan di Badan Pelayanan Kemudahan Ekspor RI. Sembari bekerja pula, Denny melanjutkan studi ke tingkat S2 dan berhasil menyelesaikan program master bidang manajemen Universitas Trisakti tahun 1993. Dalam organisasi kerohanian, Deny dipercaya menjadi Ketua Bidang Kerohanian Persekutuan Oikumene Departemen Keuangan RI (1995-1997).

Untuk memperluas jangkauan pelayanan dibentuklah Jakarta Youth Fellowship (JYF) pada tahun 1999 yang menjadi cikal bakal lahirnya Partai Damai Sejahtera. Pada awalnya ia masih belum berpikir untuk bergelut dalam dunia politik karena ia masih menikmati pekerjaannya di Depkeu dan menjadi konsultan ekspor-impor yang dirintis bersama teman-temannya. Namun perjumpaannya dengan Ruyandi Hutasoit membuat ia terdorong untuk berkiprah dalam dunia politik.

Denny dan Ruyandi sepakat ambil bagian menggarami dunia perpolitikan di Indonesia untuk meletakkan nilai bagi proses demokrasi yang sedang berkembang di Indonesia. Meski tidak memiliki latar belakang politik dan hanya bermodalkan pengalaman berorganisasi dan jaringan persekutuan doa, Denny dan Ruyandi sepakat mendirikan Partai Damai Sejahtera (PDS) di tahun 2001.

Setelah menjadi Sekretaris Jenderal (2001-2006) dan Wakil Ketua Umum (2006-2010), Denny diangkat secara aklamasi sebagai Ketua Umum (2010-2015) dalam Munaslub yang dipercepat di Manado 6-8 Mei 2010. Munaslub yang seyogyanya dilakukan pada tahun 2011 itu dipercepat untuk memperkuat konsolidasi partai dalam menghadapi Pemilu 2014. Pada 11 Juni 2011, Denny juga dianugerahi sebagai Pemimpin Pancasila oleh Yayasan Indonesia Satu bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X dan beberapa tokoh nasional lainnya.

Yuk, Tengok Prestasi Alumni Unsrat, Dari Peneliti Berkelas Internasional Hingga Ketua Umum PartaiMarcelino Lefrandt, Tidak Hanya Ganteng Tapi Juga Pintar

Aktor laga Marcelino Lefrandt ternyata tidak hanya bermodalkan wajah ganteng, tetapi ia juga memiliki otak yang cerdas. Terbukti dengan kiprahnya sebagai dosen honorer di Universitas Sam Ratulangi, Manado, di sela-sela kesibukannya syuting film. Mulanya, Marcell, yang menamatkan pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi, pada tahun 1998 mencari kesempatan kuliah pascasarjana di almamaternya. Alhasil, ia justru bertemu dosen pembimbing skripsi sarjana yang saat itu sudah menjadi rektor dan menawarkan Marcell untuk menjadi dosen.

Marcell, mengambil tawaran tersebut dan mengajar Mata Kuliah Hukum Lingkungan dan Hukum Humaniter Internasional. Pada hari-hari pertama mengajar, suasana kelas sangat pasif. Kemudian Marcell berimprovisasi menggunakan pendekatan diskusi. “Saya membuat kelompok-kelompok kecil, lalu memberikan mereka contoh masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ucapnya. Contohnya, melalui alur film perang, seperti Band of Brothers atau Saving Private Ryan. Trik Marcell terbukti jitu. Suasana kelas menjadi lebih aktif dan menyenangkan.

Ia menikmati dunia pendidikan. Karena itu, Marcelino pun kembali menjadi mahasiswa. Dia mengikuti program pascasarjana di Universitas Jayabaya, Jakarta. ”Kalau tidak (lulus) S2, tidak dapat mengajar full di Unsrat, tetap jadi dosen luar biasa,” pungkas mantan suami Dewi Rezer ini.

Bagaimana Quipperian? Keren kan, alumni Unsrat!

Penulis: Dwi Pravita

Referensi:

https://gosipseleb.wordpress.com

http://www.tokohindonesia.com