Cakrawala Baru Dunia Kerja Lulusan Psikologi yang Tidak Semua Orang Tahu

Cakrawala Baru Dunia Kerja Lulusan Psikologi yang Tidak Semua Orang Tahu

“Kalau teman-teman pernah dengar tentang mahasiswa psikologi yang bisa baca isi hati, jangan percaya, itu cuma mitos. Saya lebih bisa baca isi lambung kalian yang udah kelaperan nih kayaknya,” begitu kelakar salah seorang mahasiswa Magister Psikologi dalam sebuah sesi sharing di Introduction to Psychology (ITP), acara tahunan yang diadakan BEM Fakultas Psikologi untuk memberikan pengalaman menjadi mahasiswa psikologi kepada siswa-siswi SMA.

Memang banyak anggapan umum tentang lulusan psikologi di masyarakat bahwa lulusan ini dapat membaca pikiran orang, mahir hipnotis, dan calon HRD (Human Resource Development). Anggapan yang terakhir bisa jadi masih bisa dibenarkan. Memang lulusan psikologi memiliki kesempatan dan kredibilitas memulai karirnya di bidang pengembangan dan pengelolaan SDM di sebuah perusahaan, NGO, atau organisasi sejenis. Secara umum, karir inilah yang sering menjadi pilihan para lulusan psikologi. Namun selain itu, ada beberapa karir yang masih jarang diketahui oleh masyarakat luas.

Behavioral Economics

Belakangan mulai tumbuh bidang baru yang juga banyak diwarnai oleh lulusan-lulusan psikologi. Sebagai gambarannya, perhatikan kasus yang dikutip dari salah satu artikel Psychology Today bulan Februari 2017 ini: Di awal tahun 2011, Bank Wells Fargo dituntut melakukan penipuan akan adanya dua juta rekening palsu hasil dari upaya agen-agen mereka menggaet nasabah dan memperdayai nasabah untuk membuat lebih dari satu rekening.

Kasus yang mengakibatkan denda jutaan dolar dan dipecatnya ribuan karyawan ini disebabkan oleh sebuah kebijakan bonus bagi peraih nasabah baru, dan ancaman akan pemutusan hubungan kerja jika tidak ada penambahan jumlah nasabah tertentu setiap bulannya. Kebijakan perusahaan yang awalnya dimaksudkan agar agen-agennya termotivasi memperoleh nasabah justru berbalik menjadi bencana.

Kasus-kasus perilaku terkait pengambilan keputusan ekonomi sehari-hari seperti contoh di atas disebut juga sebagai behavioral economics, sebuah persilangan ilmu antara psikologi dan ekonomi yang kini menjadi primadona dalam analisis-analisis keuangan serta perilaku konsumsi masyarakat.

Di Indonesia sendiri penerapan behavioral economics mulai diterapkan program-program revolusi mental. Salah satu contohnya adalah pelatihan pencatatan keuangan sehari-hari oleh istri PNS yang ditujukan untuk menjaga alur pemasukan dan pengeluaran sehingga terhindar dari pengeluaran tidak perlu dan jeratan utang. Siapa sangka jika ilmu ekonomi yang selama ini mempelajari alur keuangan perusahaan maupun personal, ternyata sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan seseorang atau kondisi masyarakat luas?

Resolusi Konflik dan Resiliensi Bencana

Bagi sebagian orang, pekerjaan yang menuntut mereka terjun ke situasi tidak menyenangkan adalah panggilan jiwa tersendiri yang jarang dimiliki oleh orang lain. Di dalam ilmu psikologi sosial, ada peminatan khusus untuk topik penanganan konflik dan penguatan masyarakat yang mengalami korban bencana. Bahkan, Fakultas Psikologi UI memiliki sebuah lembaga bernama Pusat Krisis yang bergerak untuk pengabdian masyarakat berbasis riset dengan menyediakan, mengembangkan, dan mempromosikan program kesehatan mental dan dukungan psikososial terkait dalam upaya penanggulangan bencana dan konflik.

Lembaga ini bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Departemen Pendidikan Nasional, Yayasan Pulih, Hope Indonesia, Muhammadiyah, dan berbagai lembaga terkenal lainnya.

Kalau kamu adalah orang yang tidak pernah puas dengan informasi “kata orang” dan ingin langsung terjun untuk mencari tahu fakta di lapangan dan memandangnya secara ilmiah serta objektif, maka disiplin ilmu Psikologi Sosial di Universitas Indonesia sangat cocok untuk kamu. Selain memberikan lingkungan akademis yang sangat dinamis, departemen Psikologi Sosial UI juga bekerja sama dengan banyak instansi pemerintah, LSM, dan organisasi-organisasi lain yang membuka kesempatan untuk kamu mencari pengalaman dan kesempatan bekerja.

Selain untuk penanganan bencana dan konflik, di bidang ini kamu juga bisa aktif di kegiatan-kegiatan preventif untuk menghindari bencana dan konflik sebelum terjadi. Psikologi Sosial UI aktif mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh nasional untuk berbagai permasalahan seputar dinamika sosial perkotaan, perilaku seksual, ideologi, termasuk juga behavioral economics dan hal-hal lain yang menjadi penggerak kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sastra dan Seni

Jika Quipperian melihat bagaimana ilmu psikologi dapat bersinergi dengan ilmu ekonomi dan ilmu sosial dari pembahasan di atas, mungkin ada benarnya juga anggapan yang mengatakan kalau lulusan psikologi leluasa bergerak ke berbagai pilihan karir. Dan ternyata ilmu psikologi sangat dekat juga dengan sastra dan seni lho!

Bahkan para pendiri ilmu psikologi dikenal juga sebagai pencinta dan pengamat karya-karya sastra dan seni. Misalnya, dalam bukunya berjudul Art & Jung: Seni Dalam Sorotan Psikologi Analitis Jung, Buntje Harbunangin mengulas Carl Gustav Jung sebagai salah satu teroris yang menelaah proses kreatif dari seorang seniman dalam karya-karyanya. Salah satu buku klasik berjudul Theory of Literature tentang kajian literatur oleh René Wellek dan Austin Warren juga menyinggung psikologi sebagai sebuah pendekatan memahami karya sastra dalam salah satu bab tersendiri.

Emosi, pemikiran, respons, stimulus, tekanan, dan hal-hal lain yang menjadi topik bahasan sehari-hari di psikologi adalah tema-tema yang juga biasa digunakan dalam seni. Oleh karena itu, mereka yang sudah terlatih dan terbiasa dengan ilmu kejiwaan pun dapat mengolah pengetahuan tersebut menjadi sebuah karya yang indah. Beberapa tokoh terkenal di dunia perfilman dunia pun memiliki latar belakang ilmu psikologi, seperti Wes Craven dengan khas film horornya di “A Nightmare on Elm Street” dan “The Hills Have Eyes”, juga Natalie Portman dengan peran-perannya yang memiliki karakter kompleks dalam film “The Black Swan” dan “V for Vendetta”.

Jadi, selain karir-karir untuk lulusan psikologi yang sering dibahas di berbagai artikel, Quipperian juga bisa melihat serunya mendalami ilmu psikologi ketika diterapkan di beragam bidang lain yang sedang membutuhkannya saat ini. Maraknya tren sinergi psikologi dengan ilmu lain pun memberikan peluang yang sangat besar buat kamu berkarya selepas lulus nanti. Apalagi jika kamu mau mulai eksplorasi karir sejak dini ketika kuliah. So, lets explore it with Quipper Video!

Penulis: Naufal Umam

Sumber:

Harbunangin, Buntje. 2016. Art & Jung: Seni Dalam Sorotan Psikologi Analitis Jung. Antara Publishing

Wellek, René, dan Austin Warren.  1977. Theory of Literature. Hartcourt Brace Jovanovich Publisher

Drevitch , Gary. The Mystery of Motivation pada Psychology Today edisi February, 2017.

Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI (http://www.puskrispsiui.or.id/)

https://www.verywell.com/famous-people-with-psychology-degrees-2795612