Perkenalkan Inspirator Muda Alumnus Universitas Cenderawasih, Nur Fadil Syam

Perkenalkan Inspirator Muda Alumnus Universitas Cenderawasih, Nur Fadil Syam

Tak pernah terlintas di benak Nur Fadil Syam, atau yang akrab disapa Fadil, untuk melanjutkan kuliah di Universitas Cenderawasih (Uncen). Sama dengan anak SMA seumurannya saat itu, ia tergiur untuk menghabiskan masa kuliah di kota besar yang menawarkan gaya hidup yang jauh berbeda dengan kota Jayapura.

Tak disangka, nasihat orangtua untuk membatalkan niatnya kuliah di Bandung, justru sekarang membuatnya mensyukuri keputusan yang diambilnya 11 tahun lalu itu. Pada akhirnya, ia mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Cenderawasih.

Tertarik dengan Universitas Cenderawasih

Ketertarikan pria kelahiran Jayapura, 2 September 1988 ini pada dunia kesehatan masyarakat memang tidak disengaja. Berawal dari percakapannya dengan seorang kakak kelas yang mengungkapkan tantangan menjadi seorang petugas kesehatan masyarakat di Papua, Fadil seakan mendapat sebuah pencerahan tentang masa depan yang ingin diraih.

Ia pun mencari tahu tentang FKM Uncen yang saat itu baru resmi berdiri selama dua tahun sebagai sebuah fakultas sendiri. Melalui jalur Ujian Mandiri, Fadil berhasil merebut tiket masuk menjadi mahasiswa FKM Jurusan Kesehatan Lingkungan bersama dengan puluhan mahasiswa lainnya.

Ia juga berkesempatan untuk memperoleh beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Sarmi yang memberikan bantuan biaya pendidikan program sarjana selama 4 tahun penuh. Beasiswa ini memang dikhususkan bagi mahasiswa yang orangtuanya berstatus sebagai PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sarmi.

Fadil mengaku, keterbatasan infrastruktur dan tenaga pengajar saat itu menjadi kendala utama FKM Uncen yang baru pertama kali dibuka di Provinsi Papua dan Papua Barat. Bayangkan, mahasiswa FKM harus berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya untuk melakukan praktikum karena saat itu Uncen belum dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang memadai.

Praktisi bidang kesehatan, dosen tamu dari Poltekes di sekitar kota Jayapura, bahkan lulusan FKM tahun sebelumnya juga ikut diberdayakan untuk mengakomodasi kebutuhan belajar mahasiswa yang merupakan angkatan ke-5.

Keadaan ini memang sangat berbeda dengan kondisi Uncen saat ini yang jauh lebih maju, mulai dari ketersediaan sarana dan prasarana, sistem manejemen yang terintegrasi, dan keberadaan staf pengajar yang memiliki kompetensi sesuai dengan standar DIKTI.

Namun, usaha Pemerintah Daerah dan para dosen yang gigih untuk mengembangkan Ilmu Kesehatan Masyarakat seakan menjadi motivasi terbesar Fadil untuk tetap bertahan dan akhirnya berhasil menyelesaikan studi selama 4 tahun. Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pun resmi ia raih pada 2010 lalu.

Menjadi Seorang Abdi Negara

“Saya adalah orang yang beruntung,” ungkap Fadil. Tak lama setelah menyelesaikan pendidikan di Uncen, ia lulus Seleksi Masuk Penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Papua yang  terkenal sangat kompetitif. Program Pemerintah Daerah yang memprioritaskan pengembangan bidang kesehatan membuka peluang baginya untuk diterima menjadi PNS. Apalagi Pemerintah Daerah memang mengutamakan lulusan Uncen dalam kuota penerimaan PNS dengan satu syarat utama, pendaftar harus bersedia ditempatkan di kabupaten pemekaran baru yang letaknya di pedalaman Papua.

Fadil memutuskan keluar dari zona nyaman dan menerima tantangan untuk terlibat dalam proyek analisis dampak lingkungan di Kabupaten Mamberamo Raya. Letak geografis Kabupaten Mamberamo Raya yang dikelilingi oleh banyak anak sungai menjadi daya tarik tersendiri bagi Fadil. Dampak analisis lingkungan sungai yang terdiri atas material air sesuai dengan fokus peminatannya saat mengambil jurusan Kesehatan Lingkungan Uncen.

Namun, kondisi kabupaten pemekaran yang serba terbatas menuntutnya untuk tidak sekadar melakukan pekerjaan yang sesuai dengan minat, pengetahuan, dan keahlian yang ia pelajari sewaktu menjadi mahasiswa. Lulusan FKM yang umumnya berperan sebagai administrator kesehatan tidak berlaku di Mamberamo Raya karena terbatasnya jumlah tenaga medis dan non-medis di pedalaman.

Artinya, ia juga harus menjalankan fungsi jabatan aparatur sipil negara yang dituntut menguasai keahlian teknis bidang kesehatan dengan terlibat langsung untuk membantu dokter, perawat, dan ahli gizi melayani pasien yang berobat ke beberapa Puskesmas wilayah pedalaman Mamberamo Raya.

Perkenalkan Inspirator Muda Alumnus Universitas Cenderawasih, Nur Fadil Syam

Bagi Fadil, menjalankan tanggung jawab sebagai sebuah amanah bukan perkara yang mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Selain harus mempelajari keahlian baru dalam waktu singkat, akses jalan menuju Puskesmas di Mamberamo Raya yang tergolong ekstrim tidak pernah mematahkan semangatnya untuk melayani masyarakat pedalaman.

Terbukti sampai 5 tahun berlalu, kecintaannya pada pekerjaan ini seakan tak pernah pudar. Mampu berbaur dengan kearifan lokal Mamberamo dan mengakomodasi kebutuhan kesehatan kelompok masyarakat marginal adalah buah dari pengorbanan Fadil yang sangat ia syukuri.  

Inspirator Muda

Fadil adalah salah satu alumnus Uncen yang layak menjadi inspirator muda bagi Quipperian yang sebentar lagi akan meninggalkan masa putih abu-abu. Ia meyakini tujuan dari ilmu pengetahuan pada dasarnya untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Oleh karena itu, universitas dan jurusan hanya menjadi kendaraan yang mengantarkan Quipperian menuju cita-cita yang ingin diraih. Menurutnya, lulusan cum laude dari universitas dan jurusan favorit seakan tidak berarti jika Quipperian tidak berperan aktif untuk melayani dan memberikan solusi atas setiap masalah yang terjadi di lingkungan sekitar.

Pengalaman Fadil menjadi bukti bahwa untuk mengubah keadaan, Quipperian harus berani menjadi agen perubahan. Universitas Cenderawasih dan segala permasalahan kompleks yang terjadi di Provinsi Papua seharusnya dapat menjadi batu loncatan yang dapat membentuk mental Quipperian sebagai anak muda yang membawa misi perubahan untuk Indonesia yang lebih baik dari Sabang sampai Merauke.

Nah, apakah Quipperian bersedia menjadi agen perubahan selanjutnya?

Penulis: April Sirait

Referensi

Wawancara Langsung Nur Fadil Syam

Be the first to comment

Leave a Reply