#CeritaSNMPTN: Jatah Gagal Berkurang Satu

Ini adalah cerita dari pengalaman nyata Nafisatul Laeli, pejuang SNMPTN, pemenang kompetisi #CeritaSNMPTN dari Quipper. Nafisatul adalah siswa SMA Negeri 1 Karangkobar yang sedang berjuang untuk meraih PTN impiannya. Ada banyak hal yang ia alami, mulai dari menjual hasil panen sampai berkeliling kantor desa dan kabupaten. Kisahnya yang penuh jatuh bangun ini bisa jadi inspirasi untuk kita semua, lho!

Jual Hasil Panen

Aku nggak mau setelah lulus SMA hanya ‘luntang-lantung’ nggak jelas.

Dari SMP, aku sudah mencari informasi tentang beasiswa perkuliahan dari orang-orang yang lulus SMA di kampungku. Pokoknya, aku sudah bertekad, kalau lulus SMA harus kuliah, jangan sampai nganggur. Kalau nganggur, ya sekalian saja nggak usah SMA.

Aku mulai mantap untuk melanjutkan ke jenjang SMA karena ada peluang yang besar untuk lanjut kuliah lewat SNMPTN, SBMPTN, dan Ujian Mandiri. Untuk masalah biaya, aku juga bisa mendaftar Bidikmisi agar bisa lebih ringan biaya kuliahku nanti.

Makanya, aku berkomitmen untuk belajar giat di SMA supaya kelak aku bisa berkuliah. Pokoknya aku nggak boleh malas. Singkat cerita, tekad itu pun berbuah manis. Aku bisa meraih peringkat 2 di kelas saat kelas 10 semester 1. Yes!

Aku harus pertahankan ini. Kalau bisa, aku tingkatkan.

Pas aku kelas 10, sekolahku kedatangan sosialisasi dari Quipper. Jujur saja, tanpa pikir panjang aku langsung berminat dan ingin berlangganan Quipper agar belajarku lebih terbantu.

Tapi, apa orang tuaku mengizinkan aku berlangganan Quipper, ya? Aku hanya takut mereka sedang tidak ada uang. Jujur saja, Ibu dan Bapak adalah petani yang penghasilannya pas-pasan.

Namun, aku tetap mencoba untuk bilang bahwa aku ingin langganan Quipper. Paling tidak, aku sudah mengutarakan keinginanku untuk bisa lebih baik lagi dalam belajar.

Ternyata, Ibu dan Bapak mendukung penuh keinginanku untuk langganan Quipper! Tapi…. Ternyata juga mereka sedang tidak ada uang…

Singkat cerita, untuk mendapatkan uang untuk aku berlangganan Quipper, Ibu dan Bapakku menjual dua karung dari hasil panen mereka supaya bisa dibelikan untuk paket langganan Quipper.

“Kami percaya kalau kamu bisa amanah dan benar-benar belajar dengan baik.”

Itulah pesan Ibu dan Bapak kepadaku. Ibu, Bapak. Amanahmu akan kujaga dengan baik. Aku akan berusaha dan tak menyia-nyiakan hasil jerih-payahmu!

Perjuangan Dimulai Lagi

Sejak saat itu, aku mulai rutin menggunakan Quipper untuk membantu belajarku. Hasilnya langsung terlihat di kelas 10 semester 2, saat itu aku masuk 3 besar paralel untuk jurusan IPS! Senang banget rasanya! Ibu dan Bapak juga senang mendengar kabar baik dariku.

Tapi, memang yang namanya perjalanan panjang nggak selalu mulus.

Di kelas 11 semester 1, aku nggak bisa mempertahankan pencapaian yang sudah kudapat di kelas 10. Aku sadar, aku nggak begitu banyak mengalokasikan waktu untuk belajar seperti yang kulakukan di kelas 10. Saat-saat itu, aku lebih banyak main dan lupa kalau ada amanah yang sedang kujaga.

Maju ke kelas 12, saatnya perjuangan itu kumulai kembali.

Oh iya, ketika aku kelas 12, masa berlangganan akun Quipper-ku sudah habis. Karena itu, aku butuh untuk memperpanjangnya. Tapi, kali ini aku nggak minta sama Ibu dan Bapak. Kali ini, aku sudah menyiapkan uang tabungan dari sejak lama, sehingga aku punya cukup uang untuk perpanjang langganan Quipper!

Kali ini, aku nggak boleh sia-siakan kesempatan lagi. Apalagi, aku sudah capek-capek menabung, masa aku nggak belajar dengan baik?

Singkat cerita, perjuanganku kali ini berbuah manis kembali pada kelas 12 semester 1. Akhirnya, kali ini aku bisa meraih peringkat 1 di kelas dan juga 3 besar paralel di jurusan IPS! Senang dan bersyukur banget. Tidak lupa juga aku berterima kasih kepada Ibu dan Bapak untuk kepercayaan dan doanya untukku. 🙂

Pelajaran yang Kupetik

Di semester 2 kelas 12, usahaku dari kelas 10 terbayarkan (sebagian). Pada pengumuman pemeringkatan SNMPTN, aku dinyatakan eligible untuk mengikuti SNMPTN. Yes! Selangkah lagi menuju bangku kuliah.

Oh ya, selain SNMPTN, aku juga coba untuk mencoba jalur SPAN-PTKIN, semoga aku bisa mendapat keberuntungan di salah satunya, kalau bisa dua-duanya deh!

Untuk SNMPTN, aku memilih jurusan yang sudah aku pertimbangkan dari dulu, yaitu Sosiologi Antropologi di Unnes dan Ilmu Hukum di Undip. Aku berharap banget bisa lolos jalur ini. Siang malam tak lupa aku berdoa agar diberikan kemudahan.

Selain memilih jurusan, aku juga mengurus KIP Kuliah untuk tujuan meringankan biaya kuliah. Perjuangan kembali aku alami. Aku harus berputar-putar dari kantor desa, kecamatan, hingga Dinas Sosial di kabupaten. Tidak apa-apa, yang penting aku bisa memperoleh kesempatan menggunakan KIP Kuliah. Semangat!

Beberapa hari kemudian, pengumuman SNMPTN pun tiba. Cemas, deg-degan, nggak karuan deh perasaanku waktu itu! Banyak temanku yang tidak lolos dan aku semakin takut. Aku sangat tidak siap untuk kecewa.

Aku membuka HP-ku untuk mengecek hasil SNMPTN. Bahu ini merosot, nafas tercekat, mata menatap nanar ke layar HP, berharap bahwa ini salah. Aku tidak dinyatakan lulus SNMPTN. Sumpah, sedih banget waktu itu. Nggak bisa aku gambarkan lagi perasaan sedihku.

Tidak berapa lama kemudian, aku juga mendapat pengumuman bahwa aku tidak dinyatakan lolos SPAN-PTKIN. Luka yang satu belum sembuh, sudah muncul luka lagi. Seharian aku menangis dan bertanya-tanya apa kekuranganku. Belajar sampai tengah malam sudah, berdoa juga sudah. Aku mencoba mengikhlaskan semua ini, namun tidak semudah itu.

Akhirnya, yang menenangkanku adalah Ibu, kata beliau, kegagalan yang kualami ini berarti aku akan diberi keberuntungan lewat cara yang tidak diduga. Semacam kejutan gitu…

Iya juga sih, aku harus percaya kalau satu pintu tertutup, maka pintu-pintu lain akan terbuka untukku selama aku terus mengusahakannya agar ia terbuka untukku.

Aku akan berusaha lagi untuk berjuang di SBMPTN, dengan ditemani Quipper Video. Semoga di usaha kali ini, aku bisa mendapatkan hasil yang kuharapkan, yaitu lulus SBMPTN!

Pelajaran yang kudapatkan dari kegagalanku adalah, sebenarnya setiap manusia pasti memiliki jatah gagalnya masing-masing. Kalau kita gagal, kita sebenarnya harus senang karena jatah gagal kita sudah berkurang satu.

Doakan aku ya, teman-teman pembaca! Semoga tahun ini aku bisa lolos UTBK SBMPTN dan masuk ke PTN tujuanku. 


 

 

Cerita ini berdasarkan kisah nyata dari Nafisatul Laeli, siswa SMA Negeri 1 Karangkobar, Jawa Tengah.

Nafisatul membagikan kisahnya dalam kompetisi #CeritaSNMPTN yang diadakan oleh Quipper pada bulan April 2020 lalu. Nafisatul terpilih sebagai salah satu pemenang utama dan ceritanya ditampilkan di Blog dan media sosial Quipper.

Nggak cuma satu cerita aja yang kita punya. Masih ada dua cerita yang nggak kalah menarik dan inspiratif dari pemenang #CeritaSNMPTN lainnya hanya di Quipper Blog!