Simak Testimonial dari SMA Ignatius Slamet Riyadi, Pengguna Quipper School Ini, Yuk!

Hai Quipperian! Kamu pernah dengar tentang SMA Ignatius Slamet Riyadi? Sekolah yang terletak di daerah Jakarta Timur ini sangat dikenal dengan guru-gurunya yang ramah, mendidik dan melek teknologi, lho.

Kebetulan belum lama ini Quipper Blog melakukan kunjungan ke sana untuk menanyakan bagaimana pengalaman mereka dalam menggunakan Quipper School.

Buat kamu yang belum tahu, Quipper School adalah sebuah LMS (Learning Management System) yang diciptakan untuk memudahkan proses belajar mengajar di lingkungan sekolah. Melalui Quipper School, guru-guru bisa menciptakan kelas virtual, di mana mereka bisa memberikan pekerjaan rumah, forum diskusi, dan juga ulangan harian kepada murid-muridnya. Nah, langsung saja kita simak cerita-cerita seru mereka di bawah ini!

Ibu Nina: Dukung Perkembangan Teknologi Demi Siswa-Siswi

Di balik sosoknya yang cantik, anggun dan cukup tegas, Ibu Dra. M.B. Nina Dwi Esti Prabandari sebagai Kepala Sekolah SMA Ignatius Slamet Riyadi ternyata telah mengabdi selama 31 tahun di sekolah yang terletak di Jl. Raya Bogor KM. 24, Pasar Rebo, Jakarta Timur ini. Sejak 2007 hingga sekarang beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah yang menurutnya sudah mempunyai ribuan alumni yang kini telah melanglang buana tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

Tiap tahun visi dan misi sekolah memang berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman dan teknologi serta keadaan. Sehingga, untuk tahun ini visi dan misinya adalah “Peningkatan kuantitatif jumlah siswa yang diterima di Universitas Negeri, pengembangan individual siswa untuk pencapaian prestasi belajar dalam hal peningkatan nilai UN dan daya serap ke PTN, serta peningkatan karakteristik siswa untuk hal non akademis dengan menjalankan program 3S (Senyum, Sapa, Salam).”

Lantas, bagaimana proses Ibu Nina dan Quipper School sebagai salah satu portal pembelajaran online dapat bekerja sama? Beliau pribadi melihat teknologi abad 21 harus diikutsertakan dalam proses belajar mengajar demi kemajuan individual siswa maupun pengajar.

“Kita tidak bisa tutup mata ataupun menolak kenyataan bahwa teknologi sekarang ini sudah menjadi bagian dari keseharian kita, termasuk di dalam dunia pendidikan. Maka dari itu, kami sebagai bagian dari proses kegiatan belajar mengajar, mau tidak mau harus mau mengambil bagian dari adanya teknologi ini. Pada dasarnya, teknologi ada untuk memudahkan hidup kita. Hanya cara pandang dan bagaimana kita bisa bijak menggunakannya saja,” menurut Ibu Nina.

Dari awal bekerja sama sejak dua tahun lalu, Ibu Nina percaya bahwa Quipper School hadir untuk membantu siswa dan guru dalam memberikan metode belajar yang baru dan seru agar siswa tidak jenuh, memudahkan guru dalam memberikan tugas atau ujian kapanpun dan dimanapun serta kemudahan menarik nilai secara realtime walaupun dari jarak jauh.

Inilah beberapa poin mengapa hingga sekarang SMA Ignatius Slamet Riyadi menggunakan Quipper untuk berbagai program kegiatan belajar mengajar mereka. Dimulai dari pemberian tugas latihan, ujian harian, Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir Semester hingga pemberian Tes Minat dan Bakat bagi siswa-siswanya.

Ketika ditanya, kenapa percaya dan begitu ‘ngotot’ mengimplementasikan Quipper School dalam KBM di sekolahnya, Ibu Nina menjawab, “Menjadi seorang manusia itu harus maju! Harus berani dan jangan sampai ketinggalan. Moso’ kita sebagai pengajar ketinggalan wawasan soal teknologi dengan anak-anak didik kita? Moso’ Ujian Nasional saja sudah memakai komputer dan kita masih meminta siswa untuk ‘uret-uret’ lembar jawaban?”

“Awalnya memang pasti ada saja guru yang menolak akan sesuatu yang baru,” lanjutnya. “Tapi ‘lha ya masa anak-anak tidak kita support dalam menggunakan Quipper dan kita malah malas-malasan? Kesusahan hanya di awal saja,” paparnya optimis.

Dari semua usaha di atas, harapan Ibu Nina sebagai seorang kepsek hanya satu, yakni peningkatan jumlah siswa yang diterima di PTN. “Melihat adanya jumlah siswa yang diterima PTN tahun kemarin meningkat setelah kita menggunakan Quipper saja sudah cukup membuat saya bahagia walaupun saya belum puas,” ujarnya.

“Saya ingin semakin banyak siswa lulusan sekolah ini yang diterima di UI, UGM, UNPAD dan universitas negeri lainnya karena saat itulah saya merasa seluruh kerja keras dan pengabdian saya berarti,” tutup Ibu Nina.

Semangat, Ibu Nina! Bersama kita pasti bisa mewujudkan seluruh cita-cita dan harapan sekolah Ibu!

Pak Waluyo: Enjoy dengan Perubahan Meski Awalnya Sulit Adaptasi

Bapak bernama lengkap St. Waluyo Budi Utomo, M. Pd. yang satu ini cihuy dan asyik banget, lho, Quipperian. Di luar jam mengajar, beliau juga sering ikut pentas Ketoprak, hobi main gamelan, menjadi pembawa acara dalam pernikahan Jawa hingga menjadi dalang wayang semalam suntuk.

Salut untuk Pak Wal, begitu biasa beliau disapa, yang hingga kini masuk ke tahun 32 mengabdi di sekolah SMA Ignatius Slamet Riyadi. Awal bergabung beliau menjabat sebagai guru untuk kemudian menjabat sebagai Wakakur hingga kini.

Pak Wal saat ini masih mengajar sebagai guru Sosiologi. Ia mengaku suka dengan Sosiologi karena senang mengamati tingkah laku dan kebiasaan orang lain di suatu lingkungan. Masih mengajar, Pak?

Beliau mengaku pada awalnya agak kesulitan ketika pertama kali diwajibkan memakai Quipper. “Agak sulit awalnya, kaku dan merasa terbebani karena banyak menyita waktu untuk adaptasi dan memasukkan soal-soal ke platform Quipper,” akunya.

Namun, ia melanjutkan, “Tapi sekarang sudah enjoy karena bisa kapanpun dan dimanapun kasih tugas, tarik nilai atau kasih materi pelajaran didalam kelas menggunakan proyektor untuk kemudian dijadikan diskusi kelompok oleh siswa. Kegiatan belajar mengajar jadi menyenangkan dan interaktif, siswa menjadi ketagihan mengerjakan soal-soal karena begitu mudahnya hanya tinggal buka gadget, mereka sudah langsung bisa mengerjakan.”

Sebagai admin dalam penggunaan Quipper School di sekolah, Pak Wal mengaku fitur yang menjadi favoritnya adalah QLink. Sebab lewat QLink, guru-guru bisa memonitor aktivitas siswa saat mengerjakan soal, mana siswa yang belum mengerjakan, mana yang sedang mengerjakan dan mana yang sudah mengumpulkan secara langsung dan akurat. Guru benar-benar dipermudah dalam hal ini,” tuturnya.

Secara tidak langsung, beliau melihat penggunaan gadget yang tepat sasaran sebenarnya dapat membantu siswa meraih cita-cita mereka. Tidak hanya untuk bermain sosial media atau game online, tapi juga membantu mereka mengubah mindset untuk menggunakan gadget dalam hal pembelajaran. Wah, nampaknya Pak Wal sudah benar-benar beradaptasi dengan teknologi walau awalnya agak sulit, ya. Terima kasih, Pak Wal! Sukses selalu.

Ibu Tati: Mengajar Bahasa Indonesia Seru dengan Quipper School

Nah, kalau yang satu ini adalah guru Bahasa Indonesia di Sekolah Ignatius. Bernama lengkap Dra. Juastati, beliau biasa dipanggil Bu Tati. Sudah tahun ke-4 Bu Tati mengajar di Sekolah Ignatius dan terlihat sekali sangat bersemangat menggunakan Quipper School.

Saat ditanya apa saja manfaat yang didapat Bu Tati dengan menggunakan Quipper, ia menjawab, “Pertama, anak didik jadi lebih paham materi karena Quipper memberikan materi pelajaran yang super lengkap. Lalu, karena sering dikasih soal latihan pada akhirnya mereka ketagihan dan familiar dengan tipe soal seperti ini saat UN dan akhirnya karena saya dan murid sama-sama enjoy, kami jadi mendapatkan peningkatan nilai di setiap semesternya.”

Sebagai guru yang puas dengan penggunaan Quipper, Bu Tati mengaku paling suka dengan fitur QCreate yang ada di Quipper School. “Di fitur itu, kami sebagai guru bisa explore dalam hal pemberian tugas. Mau pilihan ganda, bisa. Mau esai, bisa. Mau memberikan tugas dalam bentuk video atau audio juga bisa,” ujarnya.

Wah, keren banget ya fitur-fiturnya? Terima kasih, Ibu Tati atas waktu wawancaranya. Sukses selalu!

Testimoni Siswa SMA Ignatius Slamet Riyadi

Kenalan dulu yuk dengan teman-teman kita di atas ini. Ini dia dari kiri ke kanan:

  1. Stefanie Denisa Sonya Mayangsukma, Kelas 12 IPS 2. Cita-cita setelah lulus ingin diterima di Universitas Sanatadharma jurusan Psikologi.
  2. Yakobus Raka Krisnanto, Kelas 12 IPS 1. Cita-cita masuk UPN Udayana jurusan Manajemen Akuntansi.
  3. Josephine Immanuella, Kelas 12 IPA. Cita-cita masuk Unibraw jurusan Kedokteran.

Kali ini Quipper Blog ngobrol dengan mereka sebagai pengguna Quipper School langsung. Awalnya, Quipper Blog bertanya dulu bagaimana sikap orang tua mereka terhadap sistem belajar berbasis teknologi dari Quipper ini.

“Orang tua aku, terutama Mama pasti bilang ke saudara-saudara yang ada di rumah untuk stop pakai wifi saat tau aku lagi belajar pake Quipper, alasannya biar gak buffer dan lemot,” tutur Mayang yang mengungkapkan bahwa orang tuanya sangat mendukung metode belajar Quipper.

Raka dan Josephine juga menjawab bahwa orangtua mereka juga mendukung dengan cara memberikan jatah kuota lebih dari biasanya (hingga 100 ribu per bulan) untuk belajar Quipper saat sedang tidak ada wifi.

Ketiga siswa ini paling suka mengerjakan soal-soal di Quipper, baik yang dari guru maupun yang disediakan Quipper. Untuk tes kemampuan, kata mereka. “Kalau bosan mengerjakan soal, kita bisa break dulu dengan main game atau mungkin ngobrol,” ujar mereka.

Mayang, Raka, dan Josephine berharap kalau sekolahnya akan terus menggunakan Quipper School agar adik-adik kelasnya bisa merasakan hal yang sama. “Kamu berharap Quipper School bisa terus lanjut supaya adik-adik kelas bisa tau kalau belajar itu bisa menyenangkan, enggak perlu sampai stres tingkat tinggi, bisa belajar kapanpun dan dimanapun kita mau,” papar ketiga siswa ini.

Nah, Quipperian, gimana tanggapan kalian setelah baca artikel testimoni ini? Masih ragu untuk langganan Quipper? Kalau memang sekolah kalian belum menggunakan Quipper, segera ajak guru-guru kamu! Informasi lebih lanjut segera kunjungi laman Quipper School di sini, ya!

Penulis: Michelle