5 Materi yang Sering Muncul pada Soal SBMPTN Bahasa Indonesia

shutterstock_80114104_799x533

Setiap hari, kita berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Tapi, kenapa kita justru menemui kesulitan ketika dihadapkan dengan soal-soal mata pelajaran tersebut? Sudah menjadi rahasia umum bahwa tingkat kesulitan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) lebih tinggi dibandingkan dengan Ujian Nasional (UN), termasuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebenarnya, materi apa saja, sih, yang akan kamu temui dalam soal-soal bahasa Indonesia di SBMPTN nanti?

Ejaan

Kamu pasti sering mendengar istilah EYD atau Ejaan yang Disempurnakan. Hal itulah yang menjadi pedoman dalam penulisan bahasa Indonesia. Soal-soal yang muncul dalam SBMPTN pun tidak akan jauh dari hal tersebut. Dalam EYD, kamu harus mempelejari aturan pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, serta tanda baca.

Biasanya, pada soal-soal bahasa Indonesia di SBMPTN, kamu akan disuruh memilih kalimat yang memiliki tata cara penulisan paling benar sesuai dengan EYD. Kamu harus memperhatikan penulisan huruf besar, kata singkatan, awalan dan akhiran, pemilihan huruf yang dimiringkan, dan sebagainya. Untuk mempelajarinya, kamu bisa membeli buku khusus EYD yang banyak dijual di pasaran.

Gagal Lulus SBMPTN Bukanlah Akhir Dunia!

Wacana

Pernah menemui teks bacaan dalam soal-soal bahasa Indonesia di UN maupun SBMPTN? Hal itu termasuk dalam salah satu jenis materi wacana. Ternyata, ada banyak hal yang tergolong dalam wacana, lho, Quipperian. Pertama, ada wacana argumentasi yang bertujuan memengaruhi pembaca agar setuju dengan pernyataan yang dikatakan. Kedua, wacana eksposisi bertujuan untuk menerangkan sesuatu kepada pembaca. Wacana jenis ini biasanya muncul pada topik-topik seperti ekonomi dan teknologi.

Ketiga, wacana persuasi memengaruhi pembaca untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan penutur. Kamu akan menemuinya dalam teks kampanye atau iklan. Keempat, ada wacana deskripsi yang berusaha menyajikan suatu obyek dalam tulisan agar pembaca seolah dapat melihatnya sendiri. Kelima, yaitu wacana narasi yang bersifat cerita. Ada unsur peristiwa, waktu, dan pelaku di dalamnya. Biasanya, kamu akan diminta menjawab beberapa soal berdasarkan teks bacaan yang ada.

Morfologi

Pada materi morfologi, kamu harus mempelajari seluk-beluk bentuk kata dan pengaruh perubahan bentuk kata terhadap artinya. Untuk mempelajari morfologi, kamu harus terlebih dulu memahami morfem, yakni satuan bentuk terkecil yang dapat membedakan makna. Bentuknya dapat berupa impuhan, partikel, dan kata dasar. Nah, menurut bentuk dan arti, morfem dibedakan menjadi dua macam, yaitu morfem bebas dan morfem terikat.

Morfem bebas merupakan morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kelimat, seperti “ibu makan pisang” atau “kamar saya kotor”. Jadi, bisa dibilang bahwa morfem bebas merupakan gabungan dari kata dasar. Sedangkan, morfem terikat tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata sehingga tidak mampu mebentuk arti. Morfem terikat hadir dalam bentuk imbuhan seperti “me-“, “ber-“, “ke-“, “-kan”, “-an”, “-I”, dan sebagainya.

Karya Ilmiah

Jangan langsung kabur begitu mengetahui ada karya ilmiah dalam soal SBMPTN bahasa Indonesia, Quipperian. Kamu tidak akan diminta untuk membuat karya ilmiah, kok. Materi karya ilmiah biasanya muncul pada soal-soal tentang daftar pustaka, tabel, diagram, atau grafik. Pada soal daftar pustaka, kamu akan diminta untuk mencari jawaban dengan susunan yang paling benar. Jadi, hal ini masih ada hubungannya dengan materi EYD. Sedangkan, untuk soal sejenis tabel atau diagram, biasanya kamu akan diminta untuk mencari kesimpulan yang pas berdasarkan gambar tersebut.

6 Tipe Ujian yang Lebih Susah Ketimbang UN & SBMPTN

Sintaksis

Sintaksis merupakan cabang linguistik yang membahas tentang struktur internal kalimat, yakni frasa, klausa, dan kalimat. Jadi, dapat dikatakan bahwa frasa adalah unsur sintaksis terkecil dan kalimat adalah unsur sintaksis terbesar. Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak membentuk hubungan subjek dan predikat, seperti “anak sehat” dan “pisang goreng”.

Sedangkan, klausa berpotensi untuk menjadi kalimat. Kedua hal tersebut terkesan cukup mirip, memang, tetapi klausa tidak diakhiri dengan intonasi final berupa berita, tanya, maupun perintah. Sebagai contoh, lihatlah kalimat “aku sedang mandi ketika ibu menelepon rumah”. Ia merupakan kalimat yang terdiri dari dua klausa, yaitu “aku sedang mandi” dan “ibu menelepon rumah”. Jadi, memiliki ide pikiran yang lebih utuh daripada klausa.


 

Agar kamu tidak kaget dengan soal-soal SBMPTN bahasa Indonesia, sering-seringlah berlatih mengerjakan soal. Cukup banyak, kok, toko buku yang menjual buku kumpulan soal. Atau, kamu juga bisa mendapat pinjaman dari teman-teman atau kakak kelas kamu. Jangan lupa untuk menanyakan materi yang belum kamu pahami pada guru atau mentor kamu, ya, Quipperian.