Ini Dia Orang Pertama yang Berhasil Mengaplikasikan Teori Mutasi Biologi Genetik Pada Tumbuhan!

Ini Dia Orang Pertama yang Berhasil Mengaplikasikan Teori Mutasi Biologi Genetik Pada Tumbuhan!

Hey Quipperian! Sering enggak sih ngerasa mentok banget belajar Biologi? Misalnya, kesusahan memahami bahasa Latin, maupun istilah Biologi lainnya.

Meski sebenarnya belajar Biologi merupakan studi tentang kehidupan dan organisme hidup, artinya dekat dengan manusia, hewan, dan tumbuhan, namun enggak sedikit siswa sulit memahami penjelasan nan rumit.

Alhasil, tentu dampak terbesar kalian enggak sepenuh hati belajar Biologi, menjadikan nilai kalian anjlok.

Well, mungkin kalian akan relate bila penjelasan bahkan teori Biologi dilakukan dengan mengisahkan keberhasilan seorang ilmuwan mempraktikan teori tersebut dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Bila begitu, saatnya kalian pantau artikel ini untuk menelisik kisah pengaplikasian kali pertama teori mutasi genetik pada tumbuhan. Kalian tentu kepingin tahu siapa orang itu, bagaimana kisahnya, apa dampaknya bagi kehidupan? Yuk, simak bareng!

Si Lembut Dari Connecticut

Barbara McClintock lahir pada tanggal 16 Juni 1902 di Hartford, Connecticut, Amerika Serikat. Dia mendapat nama baptis Eleanor McClintock, namun orang tuanya tetap memanggil Barbara karena cocok dengan karakter anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Thomas Henry McClintock-Sara Handy yang terlalu lembut bahkan terlalu feminin bagi seorang perempuan.

 

Barbara sempat hijrah ke tempat sang bibi di Massachusetts karena keadaan sang ibu yang mengalami stress mendalam. Dia kemudian pulang ke rumah untuk memulai sekolah di Hartford, dan pindah bersama seluruh keluarga ke Brooklyn, New York pada tahun 1908.

Di Brooklyn’s Erasmus Hall High School, para guru melihat bakat Barbara pada dunia Biologi. Dia merupakan murid cerdas. Sang ibu cukup khawatir dengan keadaan tersebut karena menjadi pintar dan kemudian hidup sebagai profesor seringkali tak memiliki minat untuk menikah, hidup berkeluarga.

Sang ibu menolak Barbara melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun sang ayah, anak seorang asal Inggris, bersikeras mendukung cita-cita Barbara. Dia lantas berpergian menuju New York untuk mendaftar menjadi mahasiswa Cornell University.

Sejak berstatus mahasiswa, Barbara tak lagi menjadi seorang pemalu. Dia begitu terbuka, berosialisasi dengan mahasiswa lain, bergabung dengan band Jazz, dan terpilih menjadi President of the Women’s Freshman Class.

Meski lebih santai dan bahagia, Barbara tetap serius menekuni bidang kegemarannya; genetika. Dia mengikuti kursus genetika pada tahun 1921. Kemampuan Barbara di bidang genetika segera menarik perhatian gurunya, Claude Hutchison, dan segera pula merekomendasikannya kursus tingkat sarjana pada tahap lanjut. Barbara senang mengikuti kursus sepanjang waktu, hingga semakin terpesona pada genetika tanaman.

Mutasi Kromosom

Seusai mendapat gelar sarjana botani, Barbara kemudian melanjutkan studi pasca-sarjana di Cornell dan mendapat gelar Master of Science pada tahun 1925. Tak berhenti sampai di situ, dia pun mendapat gelar Ph.D Botani di kampus serupa dua tahun sesudahnya.

Fokus penelitian Barbara tetap pada investigasi gentika tanaman. Dia berkerja di laboratorium mengamati genetika tanaman melalui mikroskop-terutama mempelajari kromosom (potongan kode genetik di dalam sel).

Dia melompati genetika tradisional, mengenai pelibatan pemuliaan generasi berturut-turut organisme dan mengamati perbedaan dengan mata telanjang, kemudian menggunakan Sitogenetika.

Barbara mulai membimbing Harriet B. Creighton, mahasiswa pasca-sarjana, dengan ketertarikan serupa, genetika tanaman.

Belajar Biologi Teori Mutasi untuk Materi Dasar SMA

Mereka kemudian semakin larut meneliti perilaku kromosom. Barbara telah mengembangkan tehnik perwanaan lebih baik, sehingga memungkinkan melihat kromosom di bawah mikroskop jauh lebih baik.

Barbara lantas dapat membuktikan adanya mutasi kromosom, ketika sel-sel yang berperan dalam reproduksi seksual dibuat pada proses meiosis.

Seperti banyak sel di dalam tubuh manusia, sel reproduksi mengandung komosom, namun sel telur dan sperma berbeda dengan sel normal karena hanya mengandung setengah jumlah kromosom normal.

Barbara menemukan bahwa ketika sel-sel kelami sedang diproduksi, alam dapat mengubah paket gentik untuk menghasilkan variasi kromosom sebelum reproduksi seksual.

Jadi variasi genetik diperkenalkan bahkan sebelum sel serma bertemu dengan sel telur. Dua kromosom dapat terbagi untuk menghasilkan bahan genetik empat sperma. Masing-masing sel sperma akan berbeda secara genetis dan menbentuk mahluk baru dengan keunikan secara genetik.

Mutasi kromosom Barbara kemudian diajukan sebagai teori pada tahun 1931. Barbara dibantu Creighton telah menunjukan bagaiman perubahan pada kromosom selama roduksi sel seks jagung benar-benar terjadi sesuai dengan perubahan sifat pada tanaman jagung hasil dari benih yang telah dibuahi.

Mutasi Genetika Tanaman

Pada tahun 1936, memasuki usia 34 tahun, Barbara menjadi asisten profesor di University of Missouri. Di sana dia mendapati penggunaan sinar-X untuk melakukan mutasi sel, dan menemukan bahwa mutasi skala besar timbul dari pemecahan, perpaduan, dan penjembatanan kromosom.

Penelitiannya terus berkembang, seiring perpindahannya pada tahun 1941 menjadi dosen tamu di Columbia University, dan setahun kemudian bekerja di Cold Spring Harbour Laboratory di Long Island.

Pada tahun 1944, Barbara mulai mempelajari hubungan pola warna pada tanaman jagung dan tampilan kromosom. Salah satu warna paling diminati adalah ungu. Dia lantas ingin memahami, mengapa genetik jagung berwarna ungu?

Dia kemudian menyerbuki tanaman jagung dari generasi ke generasi, membandingkan keturunan dengan kromosom induk, dan menemukan kromosom keturunan direorganisasi kromosom induk.

Barbara menemukan bagian-bagian kromosom, dengan sebutan Dissociators (Ds) dan Activators (Ac), dapat menyebabkan penyisipan, penghapusan, dan relokasi gen dalam kromosom.

Ds bisa mematahkan kromosom dan mengubah perilaku gen di sekitarnya, namun hanya berlaku di hadapan Ac. Warna ungu bisa dinyalakan dan dimatikan oleh Dc. Dengan kata lain, sifat fisik dapat dikendalikan oleh Dc dan Ac.

Pada tahun 1948, dia menemukan bila Dc dan Ac dapat mentransmisikan atau melompat ke tempat berbeda pada kromosom. Dia menghasilkan teori bahwa Dc dan Ac merupakan pengedal gen.

Ds dan Ac mengendalikan gen pada kromosom, menghambat dan memodifikasi perilaku, sehingga mampu menjelaskan mengapa mahluk hidup individu, seperti manusia, dapat menghasilka berbagai macam sel berbeda meskipun setiap sel memiliki kode genetik sama.

Dalam pandangannya, gen tidak dapat lagi dianggap sebagai instruksi, tidak dapat diubah, dari orang tua kepada keturunannya. Barbara mempublikasikan penemuan tersebut pada tahun 1950, dan setahun berikutnya mempresentasikan karya tersebut di hadapan para ilmuwan pada simposium musim dingin di Cold Spring Harbor, Amerika.

Dia kecewa lantaran para ilmuwan tak memiliki minat besar terhadap temuannya dan tak bisa mengikuti alur pikirnya. Dia merasa diacuhkan, tertekan, dan berhenti mempublikasi karya ilmiah lagi.

Seiring berjalan waktu, dua orang ahli genetik, Francois Jacob dan Jacques Monod mempublikasi karya mengenai peraturan genetik bakteri pada tahun 1960. Sadar pekerjaan dua ilmuwan tersebut serupa dengan publikasinya, Barbara kemudian merespon publikasi tersebut pada sebuah artikel bertajuk: Some Parallels Between Gene Control Systems in Maize and in Bacteria.

Perlahan, teori Barbara tentang unsur-unsur transposable dan kontrol gen mulai mendapat kredibilitas. Pada awal tahun 1970-an, ahli biologi molekuler menemukan transposisi pada bakteri dan virus. Mereka mulai melihat bahwa transposisi penting dalam imunologi dan kanker. Para ilmuwan pun memandang penting tranposisi dalam memanipulasi gen agar berfungsi untuk rekayasa gen.

Pada bulan Mei tahun 1971, Barbara menerima National Medal of Science dari Presiden Richard Nixon, kemudian diikuti penghargaan puncak hadiah Nobel tahun 1983 atas jasanya tentang Fisiologi atau Pengobatan, untuk penemuan unsur genetik seluler.

Di sisa hidupnya, Barbara memilih hidup sendiri. Dia menganggap dirinya sebagai roh bebas, dan terlalu dekat dengan seseorang mungkin akan merampas kebebasan ros tersebut. Dia meninggal pada 2 September 1992.

Sumbangsihnya kini dapat diaplikasikan untuk imunologi dan kanker, serta pembudidayaan tanaman tanpa biji, seperti semangka, jeruk, dan melon tanpa biji.

Belajar Mutasi Biologi SMA Kelas 12 untuk Persiapan UN yang Matang

Nah, Quipperian sekarang sudah lebih mengerti pengaplikasian teori mutasi genetik pada tanaman, kan? Simak lagi cerita tentang sosok yang berpengaruh lainnya dan pembahasan tentang teori mutasi biologi lainnya di Quipper Video Blog!

Penulis: Rahmat Ali