Matematika Dasar SBMPTN Tentang Pengertian dan Klasifikasi Masalah

Matematika Dasar SBMPTN Tentang Pengertian dan Klasifikasi Masalah

Quipperian! Quipper Video Blog memberikan teori Matematika Dasar tidak hanya soal dan pembahasannya saja lho! Tapi, ada juga materi tentang pemecahan masalah. Diawali dengan pengertian masalah dan kelasifikasi masalah.

Intinya, kalian akan mempunyai wawasan yang lebih luas tentang masalah dan pemecahan masalah di dalam melaksanakan tugas Matematika Dasar SBMPTN kelak, maupun soal-soal keseharian di sekolah, lho!

Kali ini, diharapkan setelah belajar pada artikel ini, kalian akan mengerti materi tentang:

  1. menunjukkan kondisi yang harus dipenuhi terjadinya masalah
  2. menyebutkan klasifikasi masalah matematika

    Yuk mulai belajar!

Pengertian Masalah

Kata “masalah” memiliki arti yang sangat komprehensif. Masalah hampir selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Jika sesuatu merupakan masalah bagi kita maka kita akan berusaha sesuatu tadi menjadi bukan masalah bagi kita. Kita mengusahakan suatu perbuatan untuk membuat sesuatu tadi menjadi bukan masalah.

Apakah pengertian masalah? Perhatikan Alinea berikut!

Mendapatkan makanan umumnya bukan suatu masalah dalam kehidupan modern, masa kemerdekaan sekarang ini. Jika saya lapar dan saat itu saya sedang di rumah sendiri maka saya akan menuju lemari makan untuk mendapatkan makanan atau dapat juga saya pergi ke warung penjual makanan yang dekat dengan rumah saya.


Dengan demikian, saya mudah mendapatkan makanan untuk mengobati rasa lapar saya saat itu. Tetapi akan berbeda apabila ternyata saat itu di lemari makan kosong, tidak ada makanan atau saat itu saya tidak mempunyai uang untuk membeli makanan di warung. Tentu saja saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan menjadi menjadi masalah bagi saya.

SBMPTN Saintek? Pelajari Dulu 10 Topik Teratas yang Selalu Muncul di SBMPTN Kimia

Perhatikan juga kondisi-kondisi yang digambarkan berikut!

  1. Kondisi 1: Saat pukul 21.00 tidak ada lampu menyala dan tidak ada cahaya yang masuk dalam sebuah ruangan. Di ruangan itu Ani sedang tidur pulas, ia tidak mengetahui situasi saat itu.
  2. Kondisi 2: Ani sedang belajar sambil mendengarkan radionya, Tiba-tibab radio tak bersuara. Ani mencoba menghidupkan radio dengan membetulkan posisi baterai radionya, tetapi tidak berhasilo. Ani memutuskan baterai radionya habis, dan Ani melanjutkan belajar. (Ani beranggapan bahwa pengalaman tadi bukan bagian penting dari belajarnya sehingga bukan nmasalah bagi Ani).
  3. Kondisi 3: Menjelang tengah malam, lampu padam. Ani melihat saklar lampu dalam keadaan on (hidup), tetapi Ani langsung tidur saja. (Ani memahami situasi saat itu dan melakukan suatu perbuatan, tetapi Ani tidak memerlukan lampu atau tidak mengusahakan lampu menyala sehingga situasi itu bukan masalah bagi Ani)
  4. Kondisi 4: Ani sedang belajar sambil mendengarkan radio. Tiba-tiba radio tak bersuara Ani mencoba menghidupkan radio dengan membetulkan posisi baterai radionya. (Ani memahami situasi saat itu dan ia mengusahakan suatu perbuatan (mesikupun sebenarnya tidak perlu bagi belajarnya) sehingga mungkin situasi tadi merupakan masalah bagi Ani).
  5. Kondisi 5: Ani sedang belajar, ketika lampu padam. Ani tidak menghentikan belajarnya karena ia ingin berhasil dalam ujian besok pagi. (Ani memahami situasi saat itu, mengetahui apa yang harus diperbuat, dan tindakan apa yang harus dilakukannya (meskipun ia tidak melakukannya) sehingga situasi saat itu mungkin bukan nmasalah bagi Ani).
  6. Kondisi 6: Ani sedang belajar, ketika lampu padam. Ani membutuhkan lampu agar dapat melanjutkan belajar untuk ujian besok pagi. Ani pergi ke luar rumah menuju pusat sirkuit listrik rumahnya (boks meteran listrik). Ani mengetahui saklar sirkuit dalamk keadaan off, Ani membetulkan saklar saklar dalam keadaan on, dan lampu menyala kembali, Ani dapat belajar kembali. (Meskipun Ani memahami situasi saat itu, (Ani mengetahui apa yang harus diperbuat, melakukan perbuatan itu, dan memberikan hasil), ntetapi situasi tadi bukan masalah bagi Ani karena Ani mudah menemukan penyelesaiannya).
  7. Kondisi 7: Ani sedang belajar ketika listrik padam, Ani ingin melanjutkan belajar. Ani menanyakan kepada Dewi tetangganya, bagaimana menghidupkan saklar pusat siukuit listrik. Dewi menunjukkan caranya. Ani mencoba melakukan petunjuk Dewi, tetapi listrik tak kunjung menyala. Ani memberi tahu nkepada Dewi bahwa ia telah melakukan petunjuk Dewi, tetapi listrik tidak hidup juga. Dewi berjanji akan meminjami lampu minyak. Ani kembali ke rumahnya meskipun listrik masih padam, ia duduk dan membunyikan radio, dan ternyata radio berbunyi dan terdengar siaran RRI. Beberapa menit kemudian Dewi dating membawa lampu minyak yang dijanjikan pada Ani. Dengan lampu minyak dari Dewi, Ani dapat melanjutkan belajarnya sehingga masalah Ani dapat terselesaikan.

Situasi yang dialami Ani tadi merupakan elemen-elemen masalah bagi seorang siswa yang sedang belajar. Ani menghadapi beberapa macama masalah dan telah mendapatkan penyelesaiannya. Apabila situasi yang sama dialami lagi oleh Ani, ia akan mengetahui bagaimana menanganinya. Sehingga situasi tersebut bukan lagi masalah bagi Ani karena Ani dapat menyelesaiakannya.

Pada dasarnya masalah muncul pada situasi yang tidak diharapkan oleh seseorang. Situasi yang tidak diharapkan terjadi pada Si A, mungkin dianggap sebagai masalah, mungkin juga tidak bagi Si A sendiri. Situasi yang tidak diharapkan terjadi pada Si A, dianggap sebagai masalah bagi Si A, tetapi mungkin tidak bagi Si B. Suatu masalah dikatakan masalah besar jika masalah itu teramat sulit di cari penyelesaiannya.

Sebaiknya, suatu masalah dikatakan masalah kecil jika masalah itu tidak sulit dicari penyelesaiannya. Tingkat kesulitan suatu masalah tergantung pada kerumitan masalah itu; dimana tidak ada kerumitan maka tidak ada masalah.

Suatu masalah terjadi apabila kondisi-kondisi berikut dipenuhi:

  1. Seseorang tidak siap dengan prosedur untuk mencari penyelesaiannya,
  2. Seseorang menerimanya sebagai tantangan dan menyusun suatu tindakan untuk menemukan penyelesaiannya.

Klasifikasi Masalah

Perhatikan contoh berikut:

Ajid membawa sekantong plastik berisi dua macam buah yang baru dibelinya di pasar. Kantong itu berisi buah jeruk dan buah apel. Sebuah jeruk harganya seratus lima puluh rupiah, sedangkan sebuah apel harganya dua ratus rupiah. Untuk sekantong plastik itu ia harus membayar lima ribu rupiah. Berapa banyak buah jeruk dalam kantong plastik itu?”

Jika kita menggunakan suatu cara untuk menyelesaikan masalah terseebut, tentu kita harap akan mendapatkan penyelesaiannya. Sebelum menyelesaikan suatu masalah, kita perlu mengetahui tipe masalah tersebut.

Jika kita dapat menentukan tipe suatu masalah yang kita hadapi maka kita dapat memperkirakan apakah bmasalah ntersebut dapat diselesaikan atau tidak dapat diselesaikan. Agar kita mengetahui tipe suatu masalah, kita perlu mengetahui klasifikasi masalah.

Pengklasifikasian masalah matematika didasarkan pada struktur matematika yang dimulai dari aksioma, definisi, dan “proporsi” (dari Euclid). Sebuah proposisi membawa kita pada suatu masalah penemuan atau pada suatu masalah pembuktian.

Misalnya, akan digambar sebuah segitiga sama sisi dengan ukuran 6 cm; merupakan masalah bagi kita untuk menunjukkan gambar segitiga yang dimaksud; akan dihitung hasil kali 5 dengan 3; merupakan masalah bagi kita untuk menentukan hasil perkalian dua bilangan tersebut.

Misalnya, akan ditunjukkan bahwa jumlah besar sudut-sudut suatu segitiga adalah 180 derajat ; merupakan suatu masalah bagi kita untuk menunjukkan atau membuktikan benar atau salah bahwa jumlah besar sudut-sudut suatu segitiga adalah 180 derajat.

10 Topik yang Paling Sering Muncul di Soal SBMPTN Ekonomi. Anak SOSHUM Wajib Baca!

Masalah matematika diklasifikasikan menjadi 2, sebagai berikut:

  1. Masalah penemuan Menunjukkan gambar, ementukan hasil perhitungan, mengientifikasi, dan sebagainya suatu obyek tertentu yang tidak diketahui.
  2. Masalah pembuktian Memutuskan apakah pernyataan tertentu benar atau salah dengan membuktikan langsung atau membuktikan kebalikannya

Misalnya, Anda dihadapkan suatu masalah matematika (soal). Setelah memahami masalah tersebut Anda bertanya dalam hati, “Apakah yang tidak ada dalam masalah ini?” Anda menempatkan masalah yang dihadapkan pada Anda merupakan masalah penemuan. Mungkin juga Anda bertanya, “Mengapa dikatakan demikian?”

Anda menempatkan masalah yang dihadapkan pada Anda merupakan masalah pembuktian. Pada umumnya masalah matematika dapat berupa soal cerita meskipun tidak setiap soal cerita adalah pemecahan masalah. Bagi anak yang belum pernah menemukan soal cerita yang dimaksud maka soal tersebut dapat merupakan soal pemecahan masalah.

Penulis: Sritopia