Kepoin Cara Kerja Pawang Hujan, Blessing in Disguise-nya Panitia Pensi

Quipperian pernah jadi panitia pensi alias pentas seni sekolah? Kalau pernah, pasti kalian ngerti banget tentang alokasi anggaran “Biaya Tak Terduga”. Enggak semua kepanitiaan sih pakai nama begitu, tapi satu hal, alokasi tersebut biasanya diperuntukan untuk membayar jasa Pawang Hujan.

Pensi dengan lokasi outdoor, hampir pasti panitianya akan menggunakan jasa ahli pengusir atau pemindah hujan. Harapannya, tentu agar pensi berjalan optimal tanpa terganggu kendala teknis, seperti venue becek, instalasi perlistrikan konslet, dan lainnya.

Bagi orang di luar kepanitian pensi, jasa Pawang Hujan memang terdengar aneh. Terkadang eksistensinya seperti ada dan tiada. Ayo ngacung siapa di antara Quipperian yang juga baru kepikiran sebenarnya ada enggak sih profesi Pawang Hujan? Gimana cara kerja pawang hujan? Dan untuk keperluan apa aja? Kalau kalian penasaran dengan cara kerja pawang hujan dan hal-hal lainnya, lebih baik pantau terus artikel kali ini. Kuy!

Beragam Istilah

Kata “Pawang” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna orang yang memiliki kemampuan istimewa atau pandai menangkal sesuatu. Bila orang tersebut mampu mengendalikan gajah, disebut Pawang Gajah. Sementara, orang dengan kemampuan khusus untuk menangkal atau memindahkan hujan, disebut Pawang Hujan.

Di Indonesia, tiap-tiap daerah memiliki istilah tersendiri untuk menyebut Pawang Hujan. Orang Betawi menyebutnya Dukung Rangkeng.

Hampir di setiap hajat, seperti sunatan, pernikahan, syukuran, menurut Budayawan Betawi Andi Yahya Saputra, seperti dilansir tempo.co, orang Betawi selalu menggunakan Dukun Rangkeng untuk memindahkan hujan. Disebut Dukun Rangkeng karena saat melakukan ritual, sang dukun akan mengkerangkeng dirinya bersama sesajen di dalam kamar.

Di Bali, penyebutannya berbeda lagi. Orang Bali menyebutnya Tukang Nerang Ujan. Tata caranya lebih-kurang sama dengan Pawang Hujan lainnya. Bedanya, tentu menggunakan sesaji khas Bali dan mantra berbahasa Bali. Begitu pula Pawang Hujan di daerah-daerah lainnya.

Figur Pawang Hujan

Bila dahulu orang-orang sering kebingungan mencari jasa Pawang Hujan, harus keluar-masuk kampung, maka kini cukup dengan berselancar di dunia maya, kamu akan dengan mudah menemukan laman-laman menawarkan jasa tersebut.

Meski begitu, masih banyak orang penasaran dengan figur Pawang Hujan. Mereka sering menebak-nebak. Entah benar, entah tebakannya meleset.

Namun, tampang seorang Pawang Hujan kini juga sudah bisa kalian lihat tanpa harus bertemu langsung. Tim beritagar.id telah membuat semacam video dokumenter singkat tentang Pawang Hujan bernama Muslimin Suparman di channel youtubenya.

Pakde Mus, sapaan karibnya, di dalam video tersebut, memiliki figur seperti orang Jawa tradisional pada umumnya. Mengenakan blangkon atau penutup kepala khas Jawa, memakai lurik, dan mengoleksi pusaka berupa keris dan tombak.

Ketika menerima pesanan untuk menggunakan jasanya, Pakde Mus lantas pergi berbelanja untuk keperluan sesajen. Setelah sesajen berupa kembang tujuh rupa, rokok kretek, kopi pahit dan manis, telur, dan uba rampe lainnya siap, Pakde Mus lantas membakar setanggi atau kemenyan.

Ia pun mengeluarkan pusakanya, mulai dari keris, tombak, dan mata panah. Pusaka tersebut lantas diberi asap kemenyan dan kemudian dibawa keluar untuk dibacakan mantra sambil mengarahkan pusaka tersebut ke beberapa penjuru mata angin.

Tak jarang Pakde Mus juga mendatangi lokasi untuk memastikan pekerjaannya berjalan lancar. Begitulah sekiranya gambaran tentang cara kerja Pawang Hujan di kota Jakarta. Lantas bagaimana dengan upacara menangkal hujan di desa-desa?

Ritual Nyirep Udan

Seperti di kota-kota besar, penggunaan jasa Pawang Hujan di desa pun selalu tentang hajat besar, atau penyelenggaraan sebuah acara di ruang terbuka.

Bedanya, bila di kota besar sepenuhnya dipercayakan kepada sang dukun atau Pawang Hujan, lain lagi dengan pelaksanaan di desa-desa. Peran seorang dukun, menurut Anne Resfanda pada penelitian berjudul “Nyirep Udan dalam Acara Pernikahan Masyarakat Dusun Damarsi, Mojoanyar, Mojokerto”, tetap ada, namun masyarakat sekitar juga turut aktif mengikuti seluruh prosesi, seperti pada pelaksanaan ritual Nyirep Udan, dusun Damarsi, Mojokerto, Jawa Timur.

Ketika akan melakukan ritual tersebut, sang empunya hajat harus memenuhi beberapa persyaratan dan menjauhi beberapa larangan.

Persyaratan pertama, menyiapkan sesajen berupa menyan untuk sarana memanggil jin pengganggu agar tidak mengganggu jalannya acara. Kemudian, melengkapi sesajen, seperti kembang setaman, pisang setangkep, pisang kepok, dan pisang raja, lalu kelapa sepasang, nasi satu takir, uang receh, keluwek, bawang merah, cabai, ayam goreng bekakak, kendi berisi beras, dan kain putih.

Setelah semua sesajen lengkap, Pawang Hujan sebagai pemimpin ritual lalu memulai Nyirep Udan. Sang pawang akan masuk ke salah satu ruangan membawa sesajen dan air putih untuk didoakan.

Setelah didoakan, air putih tersebut akan disiram ke berbagai lokasi. Sementara, si tuan rumah penyelenggara acara harus mematuhi larangan agar tidak makan dan minum serta tidak boleh mandi atau sering ke toilet selama ritual berlangsung.

Setelah ritual dan selama acara terkabul tidak turun hujan, maka sang pawang dan masyarakat akan berdoa bersama.

Benci Tapi Rindu

Di setiap kebudayaan, hujan juga berperan membentuk peradaban. Ketika paceklik melanda, masyarakat Amerika percaya membunyikan suara serupa katak akan mendatangkan hujan. Selain suara katak, terkadang membuat asap pun menjadi sarana masyarakat memanggil hujan.

Di banyak kebudayaan terdapat beragam ritual memanggil hujan. Hujan di satu sisi merupakan sebuah keberkahan, namun di sisi lain dianggap mengganggu jalannya sebuah acara atau bahkan dianggap menimbulkan bencana. Begitulah kontak manusia dan hujan di setiap kebudayaan. Terkadang meminta hujan, terkadang ingin menangkalnya.

Nah, Quipperian gimana gambaran sekilas mengenai cara kerja pawang hujan di atas? Memang tidak pernah ada yang bisa membuktikan dengan jelas proses penghentian hujan oleh pawangnya, karena mungkin itu adalah rahasia Ilahi dengan sang Penangkal. Namun, biar bagaimanapun tetap saja kita bersyukur dengan adanya keberadaan para pawang. Jangan lupa ikuti artikel menarik lainnya hanya di Quipper Blog, ya!

Penulis: Rahmat Ali



DISKON s/d Rp600.000. Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang