Tantangan Menjadi Pengajar Dalam Mendidik Siswa Di Era Digital

Tantangan Menjadi Pengajar Dalam Mendidik Siswa Di Era Digital

Sebuah kisah seorang pendidik di abad 21 yang berhasil menemukan perannya dalam mewujudkan generasi kompeten.

Menjadi Pengajar, Berawal Dari Mimpi

Menjadi seorang pengajar adalah salah satu mimpi saya sejak kuliah. Saya teringat bagaimana saya begitu terkagum-kagum ketika di ajar oleh dosen-dosen yang membuka mata saya kepada dunia. Mereka memperkenalkan saya pada aplikasi dan manfaat ilmu sosial di dunia nyata, menginspirasi saya untuk memiliki mimpi besar dalam hidup.

Mimpi saya sederhana. Menjadi seorang pengajar.

Seperti layaknya lulusan sekolah ekonomi dan bisnis jurusan pemasaran, pada akhirnya saya terjun bekerja menjadi praktisi di dunia pemasaran dan menekuni branding. Sebuah pekerjaan yang saya cintai. Setelah beberapa tahun mengecap pengalaman sebagai praktisi, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah, dan kembali bekerja kembali. Satu setengah tahun lalu, akhirnya saya mendapatkan kesempatan menjadi dosen paruh waktu di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Mimpi saya menjadi kenyataan. Saya ingin menjadi guru terbaik untuk anak didik saya, ingin memberi inspirasi bagi mereka untuk menjadi yang terbaik.

Menjadi Pengajar Kids Zaman Now

Memiliki profesi sebagai pengajar ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Berbeda pada saat saya kuliah, anak-anak sekarang yang kerap disebut dengan kids zaman now, memiliki pola perilaku yang sangat berbeda. Mereka tumbuh dengan kemudahan teknologi dan sumber informasi yang tak terbatas, atau dengan kata lain; budaya gadget dan tanyakan semua pada Mbah Google. Hasilnya, rentang perhatian anak-anak ini menjadi semakin pendek, sangat terlihat dari kurangnya perhatian/fokus di kelas terhadap pelajaran sehingga pekerjaan sebagai seorang pengajar menjadi jauh lebih menantang.

Perubahan fokus peran pengajar menjadi sangat terasa. Pada akhirnya saya mendapatkan realisasi diri bahwa peran seorang pengajar saat ini bukan lagi berfokus pada penyampaian materi, namun lebih fokus kepada pendidikan literasi dan penguatan karakter peserta didik.

6 Tips Mengajar Dalam Meningkatkan Literasi Dalam Kelas

Tantangan Menjadi Pengajar Dalam Mendidik Siswa Di Era Digital

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana caranya untuk mengembangkan level literasi anak didik saya di dalam kelas? Berbagai pendekatan sudah saya coba lakukan dan berikut ini adalah hasil dari pembelajaran saya. 

1. Mulai dengan tujuan

Satu hal yang sering dilupakan oleh seorang pengajar pada saat memulai semester baru adalah benar-benar menyampaikan tujuan pembelajaran. Khususnya dosen, seringkali membagikan silabus dirasa sudah cukup. Padahal pertemuan pertama menjadi sangat penting untuk memberikan pemahaman mengapa siswa harus belajar sesuatu, dalam hal ini bukan hanya terkait pada mata kuliah tertentu, namun berlaku untuk semua mata pelajaran. Sebagai contoh, kita bisa menjelaskan kepada peserta didik bahwa manfaat dari belajar dan menyelesaikan soal-soal matematika adalah untuk menanam mentalitas seorang problem solver. Dengan begitu akan melatih mereka menjadi seorang yang pantang menyerah. Dengan memberikan pemahaman ini kepada peserta didik, mereka akan lebih memahami tujuan dari setiap kegiatan pendidikan.

2. Kurangi tugas

Saya percaya bahwa kita bisa memaksimalkan proses belajar mengajar di kelas dengan baik, sehingga tidak perlu memberikan tambahan tugas yang terlalu banyak yang berpotensi menjadi sumber stress atau beban bagi siswa. Dari sisi pengajar, ini juga menjadi sebuah tantangan tersendiri. Dengan demikian, sebagai pengajar kita harus berusaha sebaik mungkin untuk membuat perencanaan yang lebih matang untuk memaksimalkan proses belajar di dalam kelas.

3. Perbanyak contoh

Salah satu hal yang saya perhatikan mengapa sebuah mata pelajaran tertentu kurang menarik bagi siswa adalah ketika mereka tidak paham mengapa mereka harus mempelajari hal tersebut atau apa contoh nyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Disinilah peran riset menjadi sangat penting. Sebelum semester dimulai atau juga beberapa hari sebelum pertemuan, biasanya saya banyak melakukan riset pribadi, sebagai bahan ajar. Alih-alih berpatok pada buku ataupun sumber utama, saya malah banyak mencari referensi dari internet. Sebagai contoh, karena saya mengajar mata kuliah pemasaran, maka yang saya lakukan adalah mencari contoh-contoh iklan terbaru yang berkaitan dengan topik terkait, ini lebih relevan daripada menggunakan contoh yang ada di buku yang sudah sangat ketinggalan. Metode ini terbukti sukses menarik perhatian siswa, dan mendorong lebih banyak diskusi. 

4. Perluas kesempatan berdiskusi

Pada banyak kesempatan, saya hanya mengajar materi sekitar 30 menit saja dalam satu pertemuan, sisanya saya mengarahkan siswa untuk berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Pada saat menyampaikan materi, saya berusaha untuk selalu menggelitik keingintahuan mereka dengan berbagai macam pertanyaan. Setelah materi selesai di berikan saya berikan arahan untuk siswa berdiskusi, bahkan saya juga izinkan mereka untuk browsing langsung di internet melalui gadget yang mereka miliki, selama sumber yang digunakan relevan dan kredibel. Di banyak kesempatan saya juga memberikan waktu untuk mereka melakukan presentasi singkat ke depan kelas untuk melatih kemampuan komunikasi siswa, tanpa beban berlebihan.

5. Berikan tips praktis

Presentasi menjadi sebuah hal yang lumrah dalam kegiatan belajar mengajar, apalagi dengan adanya dukungan fasilitas sekolah yang semakin mumpuni. Namun, kadang kita sebagai pengajar malah lupa memberikan pengarahan bagaimana berkomunikasi dan melakukan presentasi yang baik. Saya berusaha menjadikan kegiatan presentasi kelas menjadi hal menyenangkan, salah satunya dengan melakukan sesi persiapan presentasi ketimbang materinya itu sendiri. Banyak tips praktis yang saya bagikan di dalam kelas, misalnya mengenai public speaking, bagaimana membuat slide presentasi yang menarik, penampilan yang baik dan juga contoh-contoh presentasi yang cool. Kerap kali saya mengambil referensi dari Ted Talks, dan menyiarkannya di kelas supaya anak-anak bisa lebih mudah mendapat gambaran, dan mengambil inspirasi dari situ.

6. Libatkan teknologi yang sewajarnya

Seperti kita ketahui bersama, kids zaman now sudah tidak dapat lepas dari gadget yang mereka miliki, maka saya putuskan untuk berdamai dengan keadaan tersebut. Seperti yang telah saya singgung di poin sebelumnya, saya mengizinkan penggunaan gadget di dalam kelas pada waktu-waktu tertentu untuk kebutuhan berdiskusi. Namun hal ini tidak saya lepaskan begitu saja, saya tetap memberikan pengarahan mengenai bagaimana mencari referensi yang sesuai dengan pembahasan terkait. Saya juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, bukan hanya pada saat kegiatan sekolah namun juga dalam kehidupan. Di sinilah saya juga mencoba untuk lebih banyak mengembangkan literasi digital kepada anak-anak.


Tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi pengajar zaman now bukanlah hal yang mudah dan penuh tantangan. Semoga tulisan singkat saya ini bisa meberikan sedikit inspirasi untuk rekan-rekan pendidik dalam melakukan praktik meningkatkan level literasi peserta didiknya.

“The art of teaching is the art of assisting discovery.” –  Mark Van Doren

Penulis:

Tri Nuraini – PR & Marketing Manager Quipper Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply