Peringati Hari Dokter, Intip Kisah Pengabdian Para Dokter Tanpa Pamrih Ini

Indonesia enggak pernah kehabisan orang-orang baik, berani berjuang untuk orang banyak, meski harus meninggalkan gemerlap penghasilan melimpah.

Di peringatan Hari Dokter, Quipperian harus sedikit melihat sisi lain kerja-kerja kemanusiaan seorang dokter. Mereka berjuang, bahkan meninggalkan keluarga tercinta, hanya untuk memastikan setiap manusia di penjuru negeri mendapat layanan kesehatan.

Kisah-kisah inspiratif tersebut Quipper Blog bagikan di Hari Dokter ini agar kalian memaknai ulang sebuah profesi. Bukan melulu tentang fee, tapi bekerja sepenuh hati untuk menunaikan tugas. Yuk, langsung simak kisah-kisah inspiratifnya di bawah ini.

1. Dokter Apung Lie A Dharmawan

health.detik.com

“Orang miskin dilarang sakit. Sakit itu mahal!” selorohan itu terasa tak lagi tepat ketika Quipperian menyimak kisah pengabdian dokter Lie Agustinus Dharmawan. Dokter kelahiran Padang, Sumatera Barat, 16 April 1946 tersebut mendirikan rumah sakit swasta pertama di atas kapal alias terapung (floating hospital).

Ia memberikan layanan pengobatan gratis bagi masyarakat di daerah terpencil, seperti Bangka Tengah, Belitung Timur, Ketapang, Kepulauan Kei, Pontianak, Nusa Tenggara Timur, dan berbagai wilayah tak tersentuh layanan kedokteran lainnya. Dokter Lie menggunakan kapal motor berukuran 25,13 x 6,82 meter.

Pria yang memiliki nama kecil Lie Tek Bie ini memiliki alasan khusus mengapa dirinya rela bekerja banting tulang tanpa bayaran dari pasien hingga ke pelosok negeri.

Kisah getirnya di masa lalu menjadi alasan kuat dr. Lie terus berjuang membantu orang miskin. Ia memang terlahir dari keluarga serba-kekurangan. Ayahnya, Lie Goan Hoey, meninggal dunia saat dr. Lie berumur 10 tahun. Sang Ibu, Pek Leng Kiau atau Julita Diana, lantas berjuang menghidupi ketujuh anaknya seorang diri dengan menjadi buruh kasar.  

Lantaran tak memiliki cukup uang, suatu ketika Lie harus merelakan kepergian adiknya karena menderita diare akut lantaran tak beroleh pertolongan medis karena kesulitan ekonomi.

Dari peristiwa itu, Lie bertekad kuat untuk menjadi dokter dan memberikan pengobatan gratis kepada orang miskin di Indonesia. Coba cek di sini kalau kamu kepo, Quipperian.

Setelah bersusah payah meraih gelar dokter, Lie bersama Lisa Suroso mendirikan organisasi nirlaba bernama doctorShare atau Yayasan Dokter Peduli. Melalui organisasi tersebutlah mimpi Dokter Lie membantu masyarakat miskin tercapai melalui program Rumah Sakit Apung. Ia pun mendapat julukan sebagai Dokter Apung.

2. Dokter Seribu Rupiah FX Soedanto

www.kompasiana.com

Bagi Quipperian di Jakarta mungkin merasa duit sebesar Rp2.000 tak cukup berarti. Membeli nasi bungkus pun kurang. Paling-paling hanya bisa untuk bayar parkir.

Tapi siapa sangka, justru duit Rp2.000 bisa sangat berarti bagi kesehatan. Di Abepura, Papua, masyarakat cukup membayar Rp2.000 sudah bisa mendapat layanan kesehatan. Tak heran bila masyarakat berbondong-bondong mendaftar untuk berobat.

Sang Dokter, Fx Soedanto, tak pernah lelah menerima sekira 100 pasien sehari dari pukul 7 dan terkadang hingga malam hari. Ia telah berjannji untuk mengabdi memberikan layanan kesehatan di Papua.

Sejak lulus Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada tahun 1976, Soedanto langsung mendaftar program Dokter Inpres, untuk penempatan di Kabupaten Asmat, Papua. Ia bertugas selama 6 tahun, untuk melayani 4 kecamatan terpencil.

Saban hari, Soedanto harus berjalan kaki berkilo-kilo dengan medan perjalanan cukup menguras tenaga. Meski harus bersusah diri, ia tak pernah memiliki alasan untuk berhenti memberikan layanan.

Ia sengaja memasang tarif antara Rp1.000 sampai Rp2.000 kepada setiap pasien. Tentu tarif itu sebatas agar masyarakat tetap berniat untuk berobat. Soedanto hingga kini tetap konsisten menjadi dokter dan memberikan layanan medis di pedalaman Papua.

3. Dokter Lintas Batas

parstoday.com

Sebuah organisasi independen di bidang medis internasional, Medicines Sans Frontiers (MSF) atau Dokter Lintas Batas menjalankan misi kemanusiaan untuk memberikan layanan kesehatan di wilayah konflik, terdampak wabah penyakit, dan korban bencana alam.

Para dokter muda Indonesia bergabung dan turun langsung ke beberapa wilayah tersebut, seperti Sierra Leone, Malawi, Sudan Selatan, Pakistan, Serbia, Yaman, hingga Mozambik.

Dokter Husni Mubarak, seperti dilansir hipwee.com, bertugas di wilayah konflik, seperti Sudan Selatan, Malawi, Sierra Leone, Pakistan, bekerja membantu korban konflik yang datang tak kenal waktu.

Di sisi lain, Dokter Rani Wirantika Sudrajat, terjun langsung mengelola emergency room untuk pasien di wilayah Yaman. Begitu pun Dokter Ivan Sinaga, tak kenal lelah membantu para pengungsi Sudan Selatan di Serbia.

Dokter Lukman Hakim Bauty pun bekejaran dengan desingan peluru di wilayah konflik Sudan untuk menolong para pasien. Ia menerima pasien-pasien korban peperangan.

Sementara, Dokter Vini Fardhiani, bertugas di Mozambik untuk membantu pemerintah di sana menangani HIV/AIDS. Semangat dokter-dokter muda ini dalam berjuang patut diapresiasi.

4. Lo Siaw Ging, Dokternya Orang Miskin

www.maxmanroe.com

Bagi Dokter Lo Siaw Ging, bayaran dari pasien menjadi nomor sekian. Yang penting pasien mendapat pertolongan. Bila pasien sama sekali tak mampu, Dokter Lo pun menggratiskannya.

Lo Siaw Ging merupakan contoh betapa nilai kemanusian jauh lebih tinggi ketimbang pundi-pundi. Banyak pasien terutama masyarakat dengan kemampuan ekonomi pas-pasan sangat terbantu dengan pelayanan mendiang Dokter Lo.

Saban hari, Dokter Lo menerima sekira 60 pasien di tempat praktiknya sekaligus kediamannya di Jagalan, Jebres, Solo. Pasiennya sangat beragam, mulai orang berduit sampai orang menjerit tak punya harta benda.

Meski begitu, Dokter Lo tak pernah memasang tarif. Terkadang pasien dengan kemampuan ekonomi berlebih sengaja menyelipkan amplop berisi duit di mejanya. Tentu pasien gratis pun lebih banyak lagi jumlahnya.  

Kedermawanan Dokter Lo membuatnya dijuluki sebagai “Dokternya Orang Miskin”.

5. Dokter “Klinik Tukar Sampah” Gamal Albinsaid

www.bbc.com

“Jika anda sakit, carilah sampah,” celoteh itu mungkin agak ganjil ya, Quipperian. Tapi, sampah justru menjadi alat tukar mujarab di klinik milik Dokter Gamal Albinsaid.

Dokter Gamal membuka Klinik Asuransi Sampah sebagai jalan keluar untuk memberikan layanan kesehatan sekaligus membantu mengurai sampah menumpuk di sekitarnya.

Pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya tersebut menjalani kerja sosialnya lantaran teringat pesan ibunda untuk peduli terhadap sesama.

Dokter Gamal memulai Klinik Asuransi Sampah lantaran terdorong mengetahui kisah seorang anak pemulung nan meninggal dunia akibat diare lantaran sang ayah tak memiliki uang untuk berobat.

Pria kelahiran 8 September 1989 ini lalu mengembangkan program “Open Doors to Health Access“. Ia mengajak para warga bergabung untuk menjadi bagian program tersebut.

Masyarakat diminta mengumpulkan dan menyetorkan sampah untuk ditukar dengan layanan kesehatan. Ia pun berhasil mengajak berbagai rekan petugas medis lainnya untuk sama-sama membesarkan Klinik Asuransi Sampah.

Berkat perjuangannya, Dokter Gamal mendapat banyak penghargaan. Ia bahkan menerima penghargaan “The Prince of Wales Young Sustainable Entrepreuner” dari Pangeran Charles. Amazing!

Gimana, Quipperian? Apakah kamu yang bercita-cita jadi dokter makin terinspirasi dengan kisah di atas? Atau yang tadinya enggak pingin jadi dokter, sekarang malah mau jadi dokter? Akhir kata, Quipper Blog mengucapkan selamat Hari Dokter, ya! Semoga negara kita bisa menuju negara yang lebih melek lagi akan kesehatan. Salam sehat selalu!

Sumber:

Penulis: Rahmat Ali