Salam, guru-guru sahabat Quipperian. Ketika murid kita menghadapi masalah yang sulit – esai Bahasa Inggris yang tampaknya tidak dapat diatasi, tes matematika yang mengambil proporsi epik, perjuangan sosial yang membuat kalian merasa frustrasi, situasi-situasi semacam ini sangat memungkinkan mereka untuk menyerah dan menggunakan empat kata yang tidak pernah ingin didengar oleh kita para pendidik: “Saya tidak bisa melakukannya. “
Agar dapat berkembang, murid harus mampu membuat transisi dari sikap negatif “Saya tidak bisa” menjadi proaktif “Bagaimana saya bisa?” Untuk melakukan itu, murid perlu memikirkan mengapa mereka terjebak, apa yang membuat mereka frustrasi, apa yang mereka perlukan untuk bisa terus maju. Singkatnya, peserta didik kita perlu memikirkan pemikiran mereka sendiri. Inilah yang disebut metakognisi.
Metakognisi sebenarnya senantiasa kita lakukan setiap hari, bahkan setiap saat. Berkaca/berefleksi/berintrospeksi pada pikiran kita sendiri adalah bagaimana kita mendapatkan wawasan tentang perasaan, kebutuhan, dan perilaku kita – dan bagaimana kita belajar, mengelola, dan beradaptasi dengan pengalaman baru, tantangan, dan kemunduran emosional.
Ini adalah percakapan berjalan yang kita lakukan di kepala kita, secara mental terdengar keluar dan membuat rencana. Melatih diri sendiri untuk menggunakannya secara proaktif untuk mengatasi rintangan, bisa menjadi alat yang ampuh dalam melewati tantangan, terutama tantangan akademis. Dan sangat esensial bagi kita para pendidik untuk memahami lebih dalam soal ini, sehingga kita dapat mengajarkannya lebih tepat kepada murid-murid kita.
Definisi Singkat
Metakognisi secara sederhana memiliki arti berpikir tentang pemikiran seseorang. Lebih tepatnya, ini mengacu pada proses yang digunakan untuk merencanakan, memantau, dan menilai pemahaman dan kinerja seseorang. Metakognisi mencakup kesadaran kritis a) pemikiran dan pembelajaran seseorang dan b) diri sebagai pemikir dan pembelajar.
Praktik-praktik metakognitif membantu murid menjadi sadar akan kekuatan dan kelemahan mereka sebagai pelajar, penulis, pembaca, peserta tes, anggota kelompok, dll. Elemen kunci adalah mengenali batas pengetahuan atau kemampuan seseorang dan kemudian mencari tahu bagaimana memperluas pengetahuan itu atau memperluas kemampuan. Mereka yang tahu kekuatan dan kelemahan mereka di bidang ini akan lebih mungkin untuk “secara aktif memantau strategi dan sumber belajar mereka dan menilai kesiapan mereka untuk tugas dan penampilan tertentu.”
Sebuah penelitian menemukan bahwa kebanyakan orang cenderung tidak menyadari ketidakmampuan mereka, kurang wawasan tentang kekurangan dalam keterampilan intelektual dan sosial mereka. Penelitian ini juga mengidentifikasi pola terkait dari hasil-hasil ujian standarisasi, tata bahasa, berpikir logis, untuk mengenali humor, pengetahuan pemburu tentang senjata api dan pengetahuan teknisi laboratorium medis tentang terminologi medis dan keterampilan pemecahan masalah.
Singkatnya, jika orang tidak memiliki keterampilan untuk menghasilkan jawaban yang benar, mereka juga cenderung tidak mampu untuk mengetahui kapan jawaban mereka, atau siapa pun, benar atau salah. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan metakognitif — untuk mempelajari keterampilan spesifik (dan benar), bagaimana mengenali mereka, dan bagaimana cara mempraktikkannya — dibutuhkan dalam banyak konteks.
Strategi dan Praktik Metakognitif dalam Kelas
Strategi metakognitif mengacu pada metode yang dapat kita gunakan sebagai pendidik untuk membantu peserta didik dalam memahami cara mereka belajar; dengan kata lain, ini berarti proses yang dirancang bagi Quipperian untuk ‘berpikir’ tentang ‘pemikiran’ mereka. Guru yang menggunakan strategi metakognitif dapat berdampak positif pada murid yang memiliki ketidakmampuan belajar dengan membantu mereka mengembangkan rencana yang sesuai untuk informasi pembelajaran, yang dapat dihafalkan dan akhirnya rutin.
1. Berpikir Lantang (Think Aloud)
Bagus untuk membaca pemahaman dan pemecahan masalah. Berpikir-lantang membantu pelakunya untuk secara sadar memantau dan merenungkan apa yang mereka pelajari. Strategi ini bekerja dengan baik ketika para guru membaca cerita atau masalah dengan keras dan secara berkala berhenti untuk mengungkapkan pikiran mereka. Ini memungkinkan murid untuk mengikuti proses berpikir guru, yang memberi mereka landasan yang mereka butuhkan untuk menciptakan strategi dan proses mereka sendiri yang dapat berguna untuk memahami apa yang mereka coba pahami.
2. Daftar Urut, Rubrik, dan Jurnal
Bagus untuk memecahkan masalah kata. Alat-alat organisasi ini mendukung pelaku dalam proses pengambilan keputusan karena mereka berfungsi sebagai bantuan untuk perencanaan dan evaluasi diri. Biasanya mereka menanyakan apa yang diketahui dan perlu diketahui untuk mendapatkan jawaban, dan menekankan perlunya membaca ulang masalah dan memeriksa respons sendiri.
3. Pemodelan Guru
Bagus untuk pelajaran matematika. Pemodelan guru secara eksplisit membantu murid memahami apa yang diharapkan dari mereka melalui contoh/model keterampilan atau konsep yang jelas. Ketika kita sebagai pendidik memberikan prosedur yang mudah diikuti untuk memecahkan masalah, murid akan memiliki strategi yang mudah diingat dan digunakan untuk memecahkan masalah mereka sendiri.
4. Pemahaman Bacaan
Pemahaman yang benar-benar memahami melibatkan murid untuk secara aktif terlibat dengan teks dan secara akurat mengartikan lapisan makna. Sangat penting bagi kita sebagai pengajar untuk mengembangkan keterampilan membaca pemahaman yang kuat dari murid-murid kita, karena statistik menunjukkan bahwa orang yang memiliki kemampuan membaca pemahaman rendah menderita dalam pengajaran akademis, profesional, dan pribadi.
Nah, bagaimana guru-guru sahabat Quipperian? Semoga penjelasan berikut tips praktis di atas membantu Anda memahami dan lebih lanjut mempraktikkan metakognisi di kelas. Salam!
Sumber:
- https://www.brookings.edu/blog/education-plus-development/2017/11/15/strategies-for-teaching-metacognition-in-classrooms/
- https://blog.innerdrive.co.uk/9-questions-to-improve-metacognition
- https://cft.vanderbilt.edu/guides-sub-pages/metacognition/
- https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3366894/
- https://childmind.org/article/how-metacognition-can-help-kids/
- https://inclusiveschools.org/metacognitive-strategies/
Penulis: Jan Wiguna


