Biografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Foto: pixabay.com

Hai, Quipperian!

Sebagai pelajar, kamu pasti tahu dong siapa bapak pendidikan Indonesia? Ayo, coba sebutkan nama lengkap beliau!

Kalau jawabanmu adalah Ki Hajar Dewantara, kamu betul banget! Eits, tapi, kalau jawabanmu adalah Raden Mas Sowardi Soerjaningrat, kamu juga betul kok. Lho, kok bisa begitu? Memangnya bapak pendidikan Indonesia ada dua orang?

Daripada bingung, Quipper Blog sudah punya biografi beliau yang bisa kamu cek di bawah ini.

Masa Kecil Ki Hajar Dewantara

Foto: flickr.com

Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Pakualaman. Pssst, kamu langsung ngeh dong, kalau hari lahir beliau kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional? Kala itu, nama lahirnya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Nama kecil beliau adalah Sowardi.

Ki Hajar Dewantara lahir di dalam sebuah keluarga Keraton Yogyakarta. Beliau adalah anak dari Gusti Pangeran Harya Soerjaningrat dan cucu dari Pakualam III. Beliau mengganti namanya menjadi ‘Ki Hajar Dewantara’ dan melepas gelar bangsawan yang dimilikinya pada tahun 1922.

Dengan status keluarganya tersebut, Ki Hajar Dewantara muda mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Belanda, Europeesche Lagere School (ELS). Seusai ELS, Ki Hajar Dewantara melanjutkan pendidikan ke sekolah dokter Bumiputera, STOVIA, namun tidak menamatkan pendidikan tersebut karena jatuh sakit.

Masa Aktif Ki Hajar Dewantara di Dunia Jurnalis

Foto: pexels.com

Tidak menamatkan studi di STOVIA, Ki Hajar Dewantara mulai bekerja sebagai wartawan dan penulis di sejumlah surat kabar, di antaranya Midden Java, De Express, Kaoem Moeda, dan Tjahaja Timoer.

Dalam kariernya, Ki Hajar Dewantara menghasilkan tulisan-tulisan komunikatif, tajam, dan patriotik yang penuh dengan semangat anti penjajahan.

Tidak hanya aktif di dunia jurnalis, Ki Hajar Dewantara juga mulai aktif dalam organisasi sosial dan politik, salah satunya Budi Oetomo. Dalam organisasi ini, beliau berperan aktif pada bagian propaganda dalam rangka membangun kesadaran rakyat Indonesia akan pentingnya persatuan dan kesatuan.

Ia juga mendirikan Indische Partij bersama dengan Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo pada tahun 1912. Ketiga pendirinya dikenal dengan sebutan ‘Tiga Serangkai’.

Pada 1913, warga pribumi diberatkan dengan permintaan sumbangan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dana yang terkumpul tersebut digunakan untuk merayakan kemerdekaan Belanda dari Prancis. Kebijakan Hindia Belanda ini sangat menyinggung perasaan rakyat Indonesia karena mereka merayakan kemerdekaan di atas tanah bangsa yang mereka rebut kemerdekaannya dengan meminta dana oleh rakyat yang kemerdekaannya terebut itu.

Hal ini juga memicu reaksi kritis dari Ki Hajar Dewantara. Ia menuangkan kritik terhadap pemerintah Hindia Belanda lewat dua tulisan: Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Saya Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu).

Tulisan pertamanya ini membuatnya ditangkap pemerintah Hindia Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo memprotes hal ini. Akibatnya, Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda.

Ki Hajar Dewantara Setelah Pengasingan

Foto: pexels.com

Selama berada di Belanda, Ki Hajar Dewantara menggunakan waktunya untuk belajar. Ia bahkan sempat memperoleh Europeesche Akta, sebuah ijazah dalam bidang pendidikan.

Saat masa pembuangannya selesai pada 1918, beliau kembali ke Indonesia dengan tekad untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan. Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada 1922 dengan tujuan untuk menanamkan rasa kebangsaan dalam rangka memperoleh kemerdekaan.

Ki Hajar Dewantara Setelah Kemerdekaan Indonesia

Foto: freepik.com

Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Beliau mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada dan dinyatakan sebagai bapak pendidikan.

Ki Hajar Dewantara menghembuskan napas terakhirnya di tanah kelahirannya, Yogyakarta, pada tanggal 26 April 1959.

Kini, meskipun Ki Hajar Dewantara telah wafat puluhan tahun silam, namun generasi muda wajib banget meneruskan semangat perjuangannya.

Bagaimana caranya? Ingatlah pesan-pesan beliau. Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Artinya: di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan.

Ayo, Quipperian, kita wujudkan keinginan beliau: setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah. Generasi muda di Indonesia harus mengingat perjuangan bapak pendidikan kita, ya! Say no to malas-malasan dalam belajar dan jangan lupa gabung bersama Quipper Video!

Penulis: Evita



DISKON s/d Rp600.000. Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang