Seperti Apa Laporan Hasil Observasi dan Bagaimana Cara Menyusunnya?

Seperti Apa Laporan Hasil Observasi dan Bagaimana Cara Menyusunnya?

Hai, Quipperian!

Pernahkah kamu ditugaskan oleh sekolah untuk melakukan observasi atau pengamatan? Menurut KBBI, observasi ialah peninjauan secara cermat. Dengan melakukan observasi, kamu bisa mengumpulkan data untuk kemudian digunakan dalam sebuah penelitian.

Setelah melakukan observasi, data yang telah terkumpul harus diolah terlebih dahulu, baru bisa digunakan untuk penelitianmu. Salah satu caranya ialah dengan menyusun laporan hasil observasi. Sudah pernah dengar, belum?

Apa Itu Laporan Hasil Observasi?

Laporan hasil observasi adalah sebuah teks dengan isi yang menjabarkan informasi-informasi yang telah dihimpun oleh peneliti alias kamu sendiri. Laporan ini harus bersifat sistematis dan objektif, sesuai dengan kenyataan serta fakta yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Laporan ini seringkali disebut sebagai teks klasifikasi karena mengandung klasifikasi akan suatu objek pengamatan berdasarkan kriteria tertentu di dalamnya.

Untuk dapat dikatakan sebagai laporan hasil observasi, sebuah laporan harus memenuhi sejumlah persyaratan. Pertama, teks yang ada haruslah bersifat objektif dan universal. Kemudian, teks yang ada harus ditulis secara lengkap dan faktual. Teks tidak boleh mengandung prasangka atau dugaan yang belum terbukti. Lalu, isi dari laporan juga harus dapat dibuktikan kebenarannya.

Sebuah laporan hasil observasi punya tiga sifat: informatif, komunikatif, dan objektif.

Kenapa Kita Membutuhkan Laporan Hasil Observasi?

Kamu telah mengetahui bahwa laporan hasil observasi dibutuhkan untuk kelangsungan penelitian yang kamu lakukan. Namun, apa lagi kegunaannya?

Rupanya, laporan hasil observasi dapat membantumu dalam penelitianmu untuk mengatasi persoalan yang ada, mencari teknik terbaru, mengambil keputusan yang efektif, melakukan pengawasan, bahkan hingga mengetahui perkembangan dari persoalan dalam penelitianmu.

Sebuah laporan hasil observasi tidak hanya digunakan sebagai pertanggungjawaban dari tugas dan kegiatan observasi, tetapi juga sebagai sarana dokumentasi dan sumber informasi yang kredibel. Dengan laporan hasil observasi, kamu sebagai peneliti nantinya dapat menjelaskan dasar akan keputusanmu dalam melakukan pemecahan masalah yang kamu teliti.

Bagaimana Cara Menyusun Laporan Hasil Observasi?

Secara sederhana, kamu harus melakukan penyatuan data dengan memperhatikan struktur laporan hasil observasi itu sendiri.

Dalam laporan hasil observasi, kamu butuh pernyataan umum yang berperan sebagai pengantar akan objek penelitianmu. Di samping itu, dibutuhkan pula pembahasan atau rincian dari objek tersebut.

Saat menyusun laporan hasil observasi, jangan lupa ciri kebahasaan yang perlu kamu gunakan, ya! Misalnya, harus digunakan verba relasional (meliputi, terdiri atas, …), verba aktif alam (bertelur, makan, …), dan kata keilmuwan atau teknis (ovipar, herbivora,…).

Pastikan pula kamu menjadikan laporanmu lebih mudah dimengerti dengan menggunakan kata penghubung yang tepat. Sudah siap? Ini dia langkah yang dapat kamu lakukan sesaat setelah observasi yang kamu lakukan usai:

  1. Membuat judul laporan.
  2. Membuat kerangka teks sesuai dengan hasil observasi.
  3. Menyusun teks yang dimulai dari pernyataan umum, klasifikasi, hingga penjabarannya.
  4. Meneliti kembali teks yang telah kamu buat agar bisa diperbaiki jika ditemukan kesalahan.

Seperti Apa Contoh Laporan Hasil Observasi?

Ingat, sebuah laporan hasil observasi yang baik harus punya struktur yang urut dan lengkap. Dalam laporan itu juga tidak boleh ditemukan opini dari penyusunnya. Dan ingat, harus faktual!

Seperti apa ya, contohnya? Coba simak contoh yang dihimpun dari satriabajahitam.com ini.

Banjir Kali Ciliwung

Lingkungan ada di sekitar manusia untuk menopang sekaligus mempengaruhi kehidupan manusia. Kesatuan antara ruang, benda, dan makhluk hidup di dalamnya, termasuk manusia, disebut sebagai lingkungan hidup. Karenanya, lingkungan perlu dijaga supaya keberlangsungan hidup manusia berjalan normal.

Dalam lingkungan hidup, ada ekosistem darat dan ekosistem air. Ekosistem air memiliki pengaruh lebih besar. Perlu diingat, 2/3 dari Bumi adalah air. Bahkan, dalam tubuh manusia sekalipun, 60%-70%-nya adalah air.

Ciliwung adalah sungai yang seringkali menyebabkan banjir tiap tahun, terutama bagian hilir. Sungai dengan aliran utama sepanjang 120 km ini melewati beberapa wilayah, sebut saja DKI Jakarta, Bogor, dan Depok.

Ketika curah hujan tinggi, peningkatan debit air di Sungai Ciliwung bisa mencapai lebih dari 200 cm (siaga 2).

(dapat dilanjutkan dengan fakta-fakta lain seputar Sungai Ciliwung)

Hasil pengamatan kami, banjir di sekitar Sungai Ciliwung disebabkan oleh dua faktor:

1. Ulah manusia

Penduduk setempat masih butuh edukasi terkait pentingnya menjaga kebersihan dan betapa bahayanya membuang sampah di sungai. (dapat dilanjutkan sesuai fakta yang ada, ini hanya contoh)

2. Faktor alam

Rusaknya ekosistem di sepanjang sungai juga berpengaruh besar. Normalisasi dari pemerintah masih belum merata. (dapat dilanjutkan sesuai fakta yang ada, ini hanya contoh)

Hmm, tidak kan, Quipperian? Next time, cobalah lakukan observasi dan susun laporannya. Kalau observasi penelitianmu seru, jangan sungkan untuk membagikannya lewat kemudahan teknologi supaya bisa dimanfaatkan banyak orang, ya! Semoga cara penyusunan dan contoh dari laporan hasil observasi ini dapat membantumu!

Nah, buat kamu yang masih mau baca artikel menarik lainnya, yuk langsung saja kunjungi Quipper Blog!

Penulis: Evita