Nonton Film Gie: Belajar Sejarah Indonesia di Tahun 1960an

Nonton Film Gie: Belajar Sejarah Indonesia di Tahun 1960an

Bagi sebagian orang belajar sejarah Indonesia dirasa masih kurang menarik dan membosankan. Eiiits… tunggu dulu, jangan mudah percaya dengan anggapan tersebut. Itu semua kembali lagi ke bagaimana cara kamu mempelajarinya lho!

Kamu bisa kok belajar sejarah tapi tetap menyenangkan, seru, dan juga efektif. Salah satu caranya adalah dengan nonton film sejarah. Iya, kisah yang disajikan melalui film sering kali membuat kita nggak sadar bahwa sebetulnya kita sedang belajar sejarah.

Kali ini Quipper Video Blog akan membawa Quipperian untuk mengenal salah satu film sejarah Indonesia yang harus pake banget kamu tonton. Film garapan Riri Riza yang rilis di tahun 2005 ini bercerita mengenai seorang pemuda Tionghua bernama Soe Hok Gie (Diperankan oleh Nicholas Saputra) yang tumbuh dalam pergolakan politik era 1960 yang kemudian direkam dalam buku catatan hariannya.

Tips Menyenangkan Belajar Sejarah!

Sejak remaja, Soe sudah mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Nggak heran jika Soe selalu terusik bila ada sesuatu yang dirasa tidak adil terjadi di sekitarnya. Masuk ke bangku kuliah, Soe semakin kritis dan aktif dalam mengikuti forum diskusi dan menulis di media cetak dalam dan luar kampus.

Film dengan durasi 147 menit ini menyajikan beberapa peristiwa sejarah Indonesia yang penting banget untuk Quipperian ketahui. Melalui pandangan seorang Soe Hok Gie, kamu akan diantar untuk melihat kondisi politik Indonesia  pada akhir 1950an hingga pertengahan tahun 1960an.

1959: Penerapan sistem demokrasi terpimpin

Pada masa itu dikeluarkanlah keputusan Presiden RI No. 75/1959, sebuah dekrit yang selanjutnya dikenal dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit tersebut berisi mengenai pembubaran konsituante dan berlakunya kembali UUD 1945 dalam kerangka sebuah sistem demokrasi yang disebut sebagai demokrasi terpimpin.

Dalam sistem demokrasi terpimpin, seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpin negara yang kala itu dipimpin oleh Presiden Soekarno. Adapun ciri-ciri dari demokrasi terpimpin yaitu: dominasi presiden dalam penyelenggaraan negara, terbatasnya peran partai politik, meluasnya peran militer sebagai unsur politik, dan berkembangnya pengaruh PKI (Partai Komunis Indonesia).

Tujuan dari dikeluarkannya Dekrit Presiden ini ialah untuk menyelesaikan masalah negara yang semakin tidak menentu. Dalam proses pelaksanaannya, sistem demokrasi terpimpin dirasa banyak melakukan bentuk penyimpangan baik dalam aspek kebijakan politik maupun ekonomi.  Hingga akhirnya pada tahun 1965 sistem demokrasi terpimpin berakhir dan digantikan dengan demokrasi pancasila pada masa pemerintahan Soeharto.

1965: Peristiwa G 30 S

Peristiwa sejarah yang satu ini memang berhasil membuat kita penasaran untuk mencari tahunya lebih jauh. Ada beberapa versi teori sejarah yang memaparkan mengenai siapa dalang di balik aksi gerakan ini. Quipperian kalau penasaran silakan jelajah sendiri ya, supaya sensasinya lebih greget.

Peristiwa ini di awali pada sebuah isu bahwa Dewan Jenderal ingin menggulingkan atau merebut kekuasaan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. Berdasarkan isu tersebut, lahirlah Gerakan 30 September 1965 yang menyebabkan terbunuhnya 6 jenderal senior AD (Angkatan Darat) dari 7 yang ditargetkan.

Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut ialah Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen TNI Siswindo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo. Akan tetapi Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama selamat dari upaya pembunuhan tersebut.

Jangan Lupakan Sejarah! Ini 19 Contoh Soal UAS Sejarah Kelas X Semester Ganjil!

10 Januari 1966: Aksi demonstrasi TRITURA

Pada bulan Oktober 1965 berbagai gerakan atau organisasi yang terdiri dari kaum muda, buruh, pelajar, dan mahasiswa mulai tumbuh dan menyatukan diri. Mulai dari  KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), KABI (Kesatuan Aksi Buruh Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), KAWI (Kesatuan Aksi Wanita Indonesia), KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia) bersatu untuk menuntut penyelesaian secara politik terhadap oknum-oknum yang terlibat dalam Gerakan 30 S/PKI dan kondisi ekonomi yang terus memburuk.

Hingga akhirnya, pada 10 Januari 1966 dipelopori oleh KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) melakukan aksi demonstari  dengan mengajukan tiga tuntutan yang kemudian dikenal dengan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) kepada pemerintah.

Tiga tuntutan tersebut antara lain: bubarkan PKI, bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur PKI, dan turunkan harga perbaikan ekonomi. Aksi demonstrasi ini disebut sebagai sejarah aksi gerakan mahasiswa Indonesia pertama pada transisi pemerintahan orde baru.

Maret 1966: Lengsernya pemerintahan Soekarno

Setelah dibubarkannya PKI pada Februari 1966 lalu, kondisi perekonomian Indonesia masih terpuruk. Berbagai harga kebutuhan pokok masih membubung tinggi sehingga aksi demostrasi tetap ada dan semakin tak terkendali. Kondisi tersebut tidak menguntungkan bagi pemerintahan Soekarno, ditambah dengan kondisi kesehatannya pada saat itu sedang tidak baik. Soekarno kemudian merencanakan serangkaian pertemuan yang berlangsung tiga hari untuk memulihkan kekuasaannya.

Yang pertama, pada tanggal 10 Maret berlangsung pertemuan yang melibatkan dengan para pimpinan partai politik. Ia berhasil membujuk mereka untuk menandatangani deklarasi peringatan terhadap perlawanan atas otoritas presiden oleh demonstrasi mahasiswa.

Tahap kedua ialah rapat kabinet yang direncanakan untuk tanggal 11 Maret, yang selanjutnya dikenal sebagai dokumen Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Supersemar mengawali lahirnya pemerintahan orde baru atau berakhirnya masa pemerintahan sistem presiden terpimpin yang dipegang Soekarno.

Penulis: Laenelson

Makin Seru Belajar Biologi, Sosiologi, dan Sejarah di Quipper Video!



Promo SPESIAL Semester Genap, mulai dari 390ribu aja! Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang