Yuk, Menjadi Teladan Disiplin Positif bagi Sesama dan Lingkungan!

Quipperian, apa kabarnya? Semoga semua baik dan hebat. Nah, Quipperian apa ingat bahwa pada 23 Juli lalu kita bangsa Indonesia merayakan hari kita sebagai pelajar nasional? Sayangnya, justru berita pahit yang kita dapat. Seorang teman kita sesama pelajar bernama Mas Hanum Dwi Aprilia (16) justru menjadi korban dari kekerasan fisik di sekolah. Hanum mengalami cedera usai menjalani hukuman fisik akibat datang terlambat dan juga menanggung jatah hukuman sesama temannya yang terlambat.

Aduh, sangat memprihatinkan tentunya melihat bahwa di abad 21 ini ternyata ragam praktik hukuman fisik atau korporal masih diterapkan di sekolah. Padahal secara internasional, Indonesia adalah salah satu negara penginisiasi Gerakan Tolak Hukuman Fisik. Nah, kira-kira bagaimana ya Quipperian kita sebagai pelajar Indonesia zaman now bisa mendukung disiplin positif anti kekerasan ini? Nah, mari kita simak ulasan Quipper Blog di bawah ini.

Disiplin Positif untuk Zaman Now

Hukuman yang dialami teman kita Hanum di atas termasuk ke dalam jenis hukuman fisik, atau dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah corporal punishment. Komite PBB tentang Hak Anak, dalam Komentar Umum No. 8 (2006), menjelaskan hukuman fisik atau fisik sebagai “hukuman di mana kekuatan fisik digunakan dan dimaksudkan untuk menyebabkan beberapa tingkat rasa sakit atau ketidaknyamanan, betapapun ringannya.”

Sebagai lawan dari hukuman fisik, pendidik dan pendidikan abad 21 mengenal apa yang disebut dengan disiplin positif. Apa sih disiplin positif itu? Berikut penjabarannya:

  • Sebuah bentuk penerapan disiplin tanpa kekerasan.
  • Upaya mengomunikasikan perilaku yang efektif antara orangtua dan murid (sesama kita pelajar).
  • Mengajarkan kita sebagai pelajar untuk memahami konsekuensi dari perilaku kita.
  • Mengajarkan kita tanggung jawab dan rasa hormat ketika berinteraksi dengan lingkungan kita.

Disiplin Positif bukanlah …

Disiplin Positif adalah …

Membiarkan kita sebagai pelajar melakukan apapun yang kita mau

Membantu kita sebagai pelajar mengembangkan kontrol diri sepanjang waktu

Tidak memiliki aturan

Mengomunikasikan dengan jelas

Bereaksi cepat terhadap situasi

Menghormati kita sebagai pelajar dan mendapatkan rasa hormat dari kita

Menghukum daripada memukul atau membentak

Mengajari kita sebagai pelajar bagaimana membuat keputusan yang baik

 

Membangun keterampilan dan kepercayaan diri kita sebagai pelajar

 

Mengajarkan sikap respect kita sebagai pelajar terhadap perasaan orang lain

 

Ciri-Ciri Individu Ramah Anti Kekerasan

 

1. Konsisten menjadi suri teladan tindak positif

Kita pelajar adalah peniru yang ulung terhadap lingkungan, terutama orangtua. Namun kita juga menjadikan diri sendiri sebagai model yang baik dan melakukannya secara berkesinambungan, baik secara langsung dalam praktik lingkungannya atau dengan berbagi cerita pengalaman kepada teman kita sebaya

2. Berkosakata positif

Terdapat perbedaan yang jelas di benak ketika kita mendengar: “Saya tidak suka dengan kamu, kamu nakal” dan “Saya tidak suka dengan perilakumu yang seperti itu.” Pernyataan yang pertama menjadikan kita sebagai subjek yang negatif, sementara pernyataan yang kedua hanya menjadikan perilakunya sebagai subjek yang negatif.

Kemudian bedakan antara: “Jangan  pegang colokan listrik itu, berbahaya!” dan “Tolong jauhi colokan listrik itu, berbahaya, aku tidak mau kamu terluka.” Pernyataan yang pertama dapat terasa sebagai perintah, sementara pernyataan yang kedua dapat terasa sebagai permintaan yang penuh rasa sayang.

3. Instruksi bernada positif

Daripada berkata “Jangan panik” terhadap apa yang tidak boleh dilakukan, seseorang individu ramah sesama akan berkata “Tarik napas dahulu, coba tenang sejenak.” Daripada “Jangan berisik, lebay” lebih baik “Tolong hening dulu” atau “Tolong jaket digantung di belakang pintu” daripada “Jangan taruh jaketmu di mana saja.”

4. Mengawali proses dengan kesepakatan bersama

Ketika kita berteman kita dapat saling menghargai dengan menyepakati batasan yang jelas atas kebebasan yang diberikan antar kita dan sahabat kita. Dalam tarikan yang pas, batasan yang dibuat bersama justru dapat membuat anak merasa aman dalam menjalani kesehariannya.

5. Dialog konsekuensial sebagai pengganti hukuman

Kita dapat menanamkan pemahaman kepada teman dan lingkungan bahwa jika kita melakukan kesalahan maka bukan hukuman yang akan kita dapatkan, tetapi konsekuensi atas perbuatannya tersebut.

Ketika seseorang menumpahkan air di teras rumah misalnya, kita tidak harus memarahi lalu menyuruhnya mengepel begitu saja, namun dengan penuh penghargaan kepada orang tersebut, kita dapat mengajaknya melihat kemungkinan orang lain akan terpeleset dan jatuh, lalu memintanya bertanggung jawab untuk mengepelnya agar menghindari kemungkinan buruk tersebut. Jadi mengepel bukan menjadi hukuman, namun konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan, yang dicapai melalui dialog.

Quipperian, itulah beberapa contoh yang bisa kamu terapkan selama di sekolah dengan teman-teman. Jangan lupa kunjungi Quipper Blog untuk membaca artikel menarik lainnya, ya. Selamat menjadi teladan baik di sekolah!

Sumber:

Penulis: Jan Wiguna


KODE PROMOSI AKUMAU TOP BANNER