Di Jepang Sudah Ada Hari “No Video Game” untuk Prestasi Siswa, Bagaimana Jika diterapkan di Indonesia?

Jepang Sudah Memulai Hari No Video Game untuk Prestasi Belajar Siswa, Bagaiman Jika diterapka di Indonesia?
Quipperian! Siapa di sini yang nggak suka maen game? Pasti hampir semua yang ngacung! Iya, kan? Nah, Jepang adalah tempat bersejarah bagi dunia game. Karena game-game legendaris di dunia lahirnya di Jepang. Misalnya Nintendo. Sudah kenal nintendo belum? Game ini termasuk yang klasik, lho!

Nintendo tidak hanya sekadar dikenal sebagai game yang fungsinya menciptakan ‘fun‘ alias pemberi rasa senang bagi para ‘gamers,’ tapi sudah dipercaya sebagai sebuah simbol tonggak sejarah game di dunia. Bangsa Jepang terlihat tidak hanya senagai pencipta game-game legendaris namun juga sebagai penyuka game. Anak-anak muda hingga orang dewasa di Jepang sangat keranjingan bermain game.

Namun ternyata tidak seluruhnya orang di Jepang menyukai game. Atau lebih tepatnya lagi, sebagian dari mereka justru tidak menyukai game. Lebih jauh, mereka bahkan tidak bisa menerima kehadiran game di dalam kehidupan masyarakat di Jepang!

Contohnya para anggota Dewan Pendidikan di daerah Hokkaido, yang terletak di bagian utara Negeri Sakura.

No Video Game Day

Mulai Februari 2015, mereka akan memberlakukan kebijakan ‘No Video Game Day’ alias Hari Tanpa Video Game. Pada hari itu semua orang akan dilarang untuk bermain game dalam bentuk apapun. Tidak hanya bagi anak-anak, orang dewasapun juga dilarang menyentuh game.

Untuk membuat semangat ‘Jangan Kebanyakan Nge-Game’ di Jepang, No Video Game Day akan diselenggarakan tidak hanya dalam waktu sehari atau dua hari dalam setahun. Tetapi diberlakukan satu atau dua hari dalam setiap bulan!

Mungkin tindakan ini diharapkan mampu menghadirkan obat atas kecanduan game, paling tidak untuk fase awal ‘pengobatan’ para pecandu game dipaksa 2 hari menjauhi game kesayangan mereka.

Mau Nilai Ujian Tinggi? Jangan Sekali-kali Belajar dengan Sistem Kebut Semalam!

Penurunan prestasi belajar akibat game

Sebenarnya apa manfaatnya melarang game di masyarakat Jepang?

Saat dilansir oleh japantoday.com, kebijakan ini dilakukan lantaran para pelajar di Hokkaido mengalami penurunan prestasi belajar. Penurunan performa dan nilai mereka disinyalir karena kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu untuk bermain game.

Di Indonesia pun sebenarnya tidak jauh berbeda. Merebaknya gadget-gadget canggih di masyarakat telah membuat anak-anak SD hingga mahasiswa memiliki akses yang sangat mudah bermain game. Dulu sering ditemui orang tua yang sampai bercucur air mata menemukan anak-anak mereka ‘menghilang’ dari sekolah.

Ternyata, mereka berada di dalam Game Center. Tidak hanya berjam-jam, tapi hingga berhari-hari. Maka, saat ini sangat mudah kita temui anak-anak meminjam gadget orang tua mereka hanya untuk main game.

Contohnya, ketika anak-anak kita diajak datang ke pertemuan keluarga besar, arisan trah keluarga besar. Bukannya mereka berinteraksi dengan sanak saudara atau sesepuh mereka, namun mereka kompak asyik bermain game. Kadang-kadang orang tuanya pun merasa ‘lega’ melihatnya, daripada anak-anak mereka membuat keributan di acara tersebut.

Sumber: Benazio Putra

No video game untuk seluruh dunia

Kembali ke kebijakan No Video Game Day di Jepang, kecenderungan penurunan prestasi di sekolah membuat pihak Dewan Pendidikan Wilayah Hokkaido berinisiatif untuk mengadakan ‘No Video Game Day.

Nantinya, Dewan Pendidikan Wilayah Hokkaido akan mulai memberlakukan kebijakan ‘No Video Game Day‘ pada hari Minggu pertama dan ketiga di bulan Februari 2015. Mereka berharap semua orang bisa pergi menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman ketika dilarang untuk bermain video game.

Nantinya, ‘No Video Game Day’ diharapkan tidak hanya dilaksanakan di Hokkaido, tetapi bisa dilaksanakan di seluruh Jepang ataupun di seluruh dunia. Meskipun hanya beberapa hari dilaksanakan, mereka berharap kebijakan ini akan memberikan efek positif bagi para gamer yang ada di Hokkaido.

Untuk menggantikan kegiatan di hari-hari game dilarang tersebut, Pemerintah setempat akan menyelenggarakan acara-acara bersama seperti Snow Rafting atau memancing. Diharapkan kegiatan-kegiatan tersebut akan menjauhkan anak-anak dan masyarakat dari game, dan menciptakan kebersamaan di dalam keluarga dan masyarakat.

Respon/tanggapan beragam para Gamer

Bagaimana tanggapan para gamer di Jepang terhadap kebijakan tersebut? Tentu saja mereka skeptis dan cenderung mempertanyakan dasar logika mengapa kebijakan tersebut diambil. Berikut beberapa petikan tanggapan mereka seperti dilansir japantoday.com.

“Can’t they just make the school days longer?”

Mereka menyalahkan sekolah yang kurang lama membuat anak-anak belajar di sekolah!

“I think the real problem is irresponsible parents.”

Bahkan, orang tualah yang paling patut disalahkan!

Jangan Mengeluh Malas Belajar Kalau Belum Mencoba Gaya Belajar Ini!

“Geez, this again?”
“They should take cell phones away from junior high and elementary kids before worrying about games.”

Dan macam-macam lagi seabrek alasan dan tindakan menyalahkan orang lain, termasuk menyalahkan orang tuanya tidak menjauhkan HP canggih mereka dari anak-anaknya!

Last but not least, tindakan melarang dan menjauhkan game dari anak-anak seharusnya mampu memperbaiki pola dan karakter orang tua dalam mendidik anaknya. Karena kecenderungan pola ‘Parenting’ masa kini mau tak mau terpengaruh karakter instan dan maunya yang praktis-praktis saja.

Anak-anak dikasih game agar tidak terlalu sering keluar rumah, begitu kira-kira maksudnya. Namun akibat negatifnya justru bisa leboh dahsyat, yaitu anak-anak kita dikuatirkan akan tumbuh menjadi generasi anti sosial. Kemampuan komunikasi mereka akan terganggu. Tidak hanya prestasi belajarnya yang terganggu.

Penulis: Sritopia



Promo SPESIAL Semester Genap, mulai dari 390ribu aja! Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang