Kamu Pemalas? Coba Deh Tanyakan Hal Ini Kepada Dirimu!

Kamu Pemalas? Coba Deh Tanyakan Hal Ini Kepada Dirimu!

Quipperian! Tetap semangat dan termotivasi selama seharian adalah hal yang semakin sulit untuk dilakukan oleh banyak orang. Entah ketika mengerjakan pekerjaan yang nggak disukai, maupun yang memang disukai. Dan yang bikin makin parah, kalau: perasaan tenaga masih ada, tapi kok kayak lemes, nggak mampu nyelesain semua tugas. 

Sering sekali kita berada di kondisi yang mager (males gerak), padahal pekerjaannya mudah, tapi kok berat banget badan sama tangan buat gerak. Di lain sisi kita jmenjadi mentoleransi rasa males tersebut menjadi hal yang normal atau wajar. Manusiawilah. Tapi, jangan lupakan, adalah normal juga bila kita kembali semangat! Itu sebabnya, ada pepatah yang mengatakan bahwa motivasi itu ibarat pembersih tatkala mandi. Bermanfaat, tapi efeknya nggak untuk selamanya. 

Nah, berikut ini, adalah beberapa cara ampuh yang bisa kamu praktekkan untuk menghilangkan rasa malas pada diri kamu secara total!

Kamu Anak Sibuk? Ini Cara Efektif Mengatur Waktu antara Olahraga dan Sekolah

Ingatkan dirimu, “KENAPA” harus melakukan hal tersebut?

Silakan sesuaikan  dengan identitas kamu. Misalnya: agar bisa menjadi pemimpin yang baik bagi diri sendiri, yang mampu memberi contoh dan menginspirasi.  Apalagi kamu adalah seorang pelajar dengan kewajiban utama, yaitu belajar. Dan lain-lain, mungkin karena agar survive dari persaingan, agar dapat bonus, atau yang lainnya.

Jauhi demotivasi!

Silakan kamu lakukan research. Kapan terakhir kali kamu merasa down, galau, males, futur, dan sejenisya? Kira-kira, apa yang kamu lakukan sebelum hal itu terjadi? Nah, cobalah, untuk menghindari itu sebisa mungkin! Misalnya:

  1. Gara-gara kamu stalking facebook mantan pacar, makanya semangat kamu hilang. Nah, maka janganlah pernah lagi untuk nge-stalk akunnya. Karena itu adalah demotivasi.
  2. Gara-gara sering bergaul dengan si dia, makanya rasa malas kamu makin menjadi-jadi. Nah, maka, ubahlah cara pergaulan kamu dengan si dia. Karena cara pergaulan seperti yang biasanya adalah demotivasi.
  3. Gara-gara melakukan kemaksiatan, jadi terhantar melakukan kemaksiatan lainnya. Nah, maka, segeralah kamu motivasi.

Dan lain-lain. Intinya, setiap kejadian terjadi karena ada suatu sebab. Nah, ceklah apa sebabnya itu. Dan sikapilah dengan bijak.

Periksa makanan dan minuman yang masuk ke kamu

Jangan salah, kenapa orang itu bisa cepet banget capek, gampang ngantuk, kebanyaan tidur, hingga akhirnya males ngerjain apa-apa, itu bisa juga sebabnya karena makanan dan minuman yang ia konsumsi bukanlah makanan yang baik. Misal:

  1. Makan mie instan. Padahal, kabarnya mie instan itu butuh waktu sekitar 3 hari baru selesai dicerna. Sehingga, tubuh jadi lebih cepet capek karena dipake cuma buat mencerna si mie instan kampring itu aja.
  2. Makan gula kebanyaan. Yah, seperti yang kita lihat, kebanyakan mereka yang kena diabetes, biasanya cepet lupa sesuatu, dan gampang ngantuk.
  3. Dan lain-lain.

Ukur kapasitas dirimu dan target yang akan dicapai. Serta target yang telah dicapai kemarin

Lebih jelas, lebih bagus. Dan lebih enak ngerjainnya juga tentunya. Misalnya begini: ada tugas membuat 1 artikel dalam sehari. Syaratnya, minimal 1000 kata, disertai gambar yang inspiratif plus menghibur, dan tentunya setiap aspek di artikel tersebut harus didasari keputusan yang bagus, yang notabene berawal dari research dan survey.

Waktu yang kamu butuhkan dari mulai hingga selesai, sekitar 5 jam.

  1. Kira-kira, sanggupkah kamu memberikan 5 dari 24 jam kamu dalam sehari, untuk menyelesaikan tugas tersebut?
  2. Apakah tugas tersebut bisa kamu kerjakan tanpa istirahat?
  3. Atau perlu ada istirahat di tengah jalan?
  4. Apa kamu butuh bantuan fasilitas lain, agar menjadi lebih mudah?
  5. Apakah memang caranya sudah efektif?
  6. Ternyata kamu hanya bisa memproduksi 5 artikel dalam 7 hari. Berarti, untuk bisa
  7. memproduksi 7 artikel, butuh berapa hari?
  8. Apakah tidak apa-apa tidak memproduksi artikel setiap harinya? Kenapa?
  9. Dan lain-lain.

Lanjut ke tahap evaluasi.

Setelah tulisannya jadi, kemudian tersebar, kira-kira di daerah mana yang paling banyak menyukai tulisan tersebut?

  1. Setelah dapat datanya, daerah A menunjukkan kesenangan senilai 50%, daerah B menunjukkan kesenangan senilai 48%, daerah C menunjukkan kesenangan senilai 83%, dan seterusnya. Maka, besok-besok bisa diatur, berapa jatah jumlah masing-masih daerah disebari artikel tersebut.
  2. Setelah artikel tersebut dapat respon, lihat, apa tanda-tanda yang ada di artikel tersebut, yang membuatnya jadi bagus? Bandingkan dengan tanda-tanda di artikel kemarin yang responnya jelek. Mungkin, ternyata orang lebih suka kalau judul artikelnya ditonjolkan manfaat dan yang enak-enak, kalau judulnya “Bagaimana Cara”, dan aspek-aspek lainnya.
  3. Dengan begitu, tidak mungkin kamu berprasangka buruk, bahwa jangan-jangan kamu belum ada melakukan hal yang bermanfaat hari ini.

Yah, intinya, kamu coba bacalah sebab-akibat kejadian-kejadian yang telah kamu alami, sedang alami, dan insya Allah akan kamu alami, seobjektif mungkin.

Karena sekiranya makin jelas, akan makin kecil kemungkinan kamu untuk males-malesan. Karena males-malesan itu adalah bentuk dari ketidakjelasan.

Mau Nilai Ujian Tinggi? Jangan Sekali-kali Belajar dengan Sistem Kebut Semalam!

Jernihkan Diri dan Kondisikan Keadaan

Kerap, wajarlah kamu jadi males kalau kamu lagi lemes, capek, ngantuk, laper, mengkhawatirkan sesuatu, dan lain-lainnya. Kondisikanlah agar kamu tetap fokus. Beresin dululah hal-hal lain yang mengganggu kamu, sehingga membuat kamu menjadi males. Kalau ngantuk banget, tidurlah. Kalau laper banget, makanlah.

Hati-hati ya, jangan gunakan cara nomor ke-5 ini justru dijadiin modus untuk menunda-nunda pekerjaan utama tersebut. Maka, gunakanlah tabel prioritas. Kamu tentukan, mana yang:

  1. Penting dan mendesak
  2. Nggak penting, tapi mendesak
  3. Penting, tapi nggak mendesak
  4. Nggak penting dan nggak mendesak

Sekiranya pekerjaan yang tengah kamu lakukan lebih utama, sedangkan kekhawatiran yang membuat kamutidak begitu utama, bisalah itu diabaikan. Karena kemungkinan besar itu adalah keinginan, bukan kebutuhan. Dan, kemungkinan besar itu didorong oleh emosi dan ego, bukan dengan akal dan fakta.

Penulis: Sritopia



DISKON s/d Rp600.000. Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang