Yuk, Kenal Lebih Jauh tentang Hoax biar Enggak Kemakan Hoax!

Hoax atau dalam Bahasa Indonesia, hoaks adalah berita bohong atau berita yang tak punya sumber. Hoax merupakan serangkaian informasi yang dibuat sesat, tetapi dijual sebagai kebenaran. Ada 43.000 situs yang mengklaim sebagai portal berita, tetapi hanya kurang dari 300 situs yang terverifikasi sebagai portal berita resmi. Sebelum ikut menyebarkan berita, saat ini kita bisa mengecek kebenaran berita lewat pengaduan ke email Kominfo atau Turn Back Hoax.

“Ah, hoax tuh!”, “Beritanya hoax!”. Quipperian pasti sering mendengar kata-kata tersebut, apalagi dengan perkembangan internet dan media sosial seperti sekarang. Sebenarnya apa itu hoax? Kenapa sih kata itu jadi trending belakangan ini? Nah, sebelum kita ikut-ikutan fenomena tersebut, lebih baik kita kenalan lebih jauh dulu yuk tentang hoax! Check it out!

Hoax atau Hoaks?

Mungkin kamu lebih familiar dengan kata “hoax”. Sebenarnya, hoax ditulis hoaks dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI, hoaks memiliki arti berita bohong, atau berita tidak bersumber. Menurut Silverman (2015) seperti dikutip di laman Wikipedia, hoaks merupakan rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, namun “dijual” sebagai kebenaran. Hoaks juga sering disebut sebagai “fake news”, atau berita maupun infomasi yang enggak memiliki landasan fakta yang jelas. Menurut filolog dari Inggris, Robert Nares (1753–1829), kata hoaks diciptakan pada akhir abad ke-18 sebagai kontraksi dari kata “hocus” yang berarti “untuk menipu” atau “untuk memaksakan”.

Bagaimana Sejarah Hoaks

Walaupun kita baru familiar dengan istilah hoaks dalam beberapa kurun waktu terakhir, ternyata berita bohong bukanlah hal baru dalam sejarah. Bahkan sudah muncul dari tahun 1617, yaitu dengan dipublikasikannya sebuah buku dari Zhang Yingyu berjudul “The Book of Swindles” pada masa dinasti Ming. Disebut-sebut bahwa ini adalah koleksi pertama Tiongkok yang bercerita tentang penipuan, berita bohong, dan berbagai bentuk tipu muslihat lainnya.

Seiring berkembangnya zaman, penyebaran hoaks dilakukan dalam berbagai bentuk dan cara; baik melalui komunikasi langsung, berita burung, tulisan di kertas, dan lain-lain. Bentuk hoaksnya pun juga berkembang, dari gosip hantu, kriminal, hingga politik.

Selama abad ke 20, hoaks menemukan pangsanya dalam skala besar lewat tabloid, dan di era abad 21 sekarang, banyak banget hoaks beredar dengan sangat cepat dan masif lewat internet dan media sosial. Walaupun sekarang peredaran hoaks lebih luas dan dalam waktu yang cepat, pada zaman dulu, hokas lebih berbahaya dari sekarang lho, Quipperian. Karena pada masa dulu, berita bohong sulit untuk diverifikasi, apalagi jika sudah menyebar dalam skala besar.

Mengidentifikasi Berita Hoaks

Sebagai generasi yang melek dengan teknologi dan informasi, kita harus banget nih memilah-milih berita sebelum kita mengonsumsinya. Sekarang, kita bisa mengetahui banyak informasi dari berbagai sumber, dan banyak berita palsu yang sengaja disebarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Jika tidak teliti dan hati-hati, bisa-bisa kita termakan oleh hoaks dan bahkan bisa mendapatkan risiko jika menyebarkan berita yang tidak valid tersebut.

Untuk mengidentifikasi mana berita hoaks dan mana berita yang asli, ada lima langkah sederhana yang bisa membantu kamu seperti dijabarkan oleh Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho dilansir dari kominfo.go.id, yaitu: hati-hati dengan judul provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta, cek keaslian foto, dan ikut serta dalam grup diskusi anti-hoaks.

Contoh Berita Hoaks

Nah ini penting banget untuk diperhatikan nih, Quipperian. Tahukah kamu bahwa di Indonesia saja ada lebih dari 43.000 situs yang mengklaim sebagai portal berita, lho. Sayangnya menurut Dewan Pers, dari jumlah yang sangat banyak tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tidak sampai 300. Artinya, ada puluhan ribu situs yang belum teruji kebenarannya dan harus kita waspadai.

Sebagai pengguna internet aktif, kamu pernah enggak membaca berita hoaks? Yup, mungkin sebagian besar Quipperian pernah melihat sendiri bagaimana berita-berita hoaks ini tersebar. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sendiri sempat merilis 10 berita hoaks paling berdampak di tahun 2018, di antaranya adalah hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet, hoaks gempa susulan di Palu, hoaks konspirasi imunisasi dan vaksin, serta hoaks rekaman black box Lion Air JT610.

Yuk, Menangkal Hoaks!

So, gimana caranya menangkal berita bohong? Tenang guys, walaupun serangan hoaks datang bertubi-tubi, tapi sudah banyak lho tindakan preventif dan solusi yang bisa dilakukan. Bahkan enggak cuma diam aja, kita juga bisa membantu mencegah penyebaran hoaks dan mengklarifikasi apakah berita tersebut asli atau palsu.

Sebelum kamu menyebarkan sebuah berita, ada baiknya kamu mengeceknya terlebih dahulu. Kamu bisa juga mengadukan konten negatif ke Kominfo dengan email ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id. Ada juga laman data.turnbackhoax.id dari Masyarakat Indonesia Anti Hoax untuk menampung aduan hoaks dari netizen. TurnBackHoax sekaligus berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoaks.

Bahkan, ada juga aplikasi berbasis web HOAX Analyzer yang diciptakan oleh wakil Indonesia, Tim Cimol yang diikutsertakan dalam ajang Imagine Cup 2017 World Finals di Seattle, Amerika Serikat. HOAX Analyzer menggunakan machine learning dan kecerdasan buatan nih, yang bisa memeriksa referensi satu sumber berita. AI yang ditanam bisa mempelajari berbagai pola yang ada, dari mulai tagar, kata kunci, sampai situs terkait. Dari situ, akan muncul deh analisis yang menghasilkan persentase terhadap tingkat hoaks sebuah berita. So cool!

Buat para anak muda yang sehari-hari main media sosial juga bisa lho membantu menangkal hoaks dengan sesimpel menggunakan fitur feedback atau report untuk melapokan hoaks, hatespeech, harassment, rude, threatening, atau kategori lain yang sesuai. Bersama-sama, yuk kita turn back hoax!

Penulis: Kiram

Be the first to comment

Leave a Reply