Mengaku Pemuda-Pemudi Indonesia? Sudah Berbahasa Indonesia dengan Baik Belum?

Mengaku Pemuda Indonesia? Sudah Berbahasa Indonesia dengan Baik Belum?
Quipperian! Tahu nggak, salah satu alat pemersatu bangsa adalah bahasa. Apalagi, jika kita ingat kalau bangsa Indonesia ini terdiri dari berbagai suku bangsa yang memiliki Bahasa Ibu masing-masing.

Hal ini menjadikan bahasa Indonesia, sebagai bahasa negara, jadi sangat penting untuk kita jaga dan kita lestarikan. Seorang penulis yang berjiwa patriot dari Jerman bernama Ernst Moritz Arndt pernah berkata bahwa, “Tak ada elemen terluhur yang dimiliki suatu bangsa selain bahasa.” Nah, betapa berharganya bukan bahasa yang kita punyai sekarang?

Bahasa disebut sebagai identitas bangsa. Ini artinya, dengan berbahasa Indonesia kita sudah memperkenalkan diri sebagai bangsa Indonesia.

Kita tinggal memilih menggunakan identitas bahasa kita dengan percaya diri sehingga penggunaannya baik dan benar atau tidak percaya diri sehingga penggunaannya “amburadul.”

Hal ini disadari betul oleh pemuda tahun 1928 sehingga dideklarasikanlah Sumpah Pemuda yang salah satunya menyebutkan bahwa Kami, berbahasa satu yaitu bahasa Indonesia.

Nah kawan, pemuda pada zaman dahulu jangan ditanya deh perihal jiwa kebangsaannya justru pemuda sekaranglah yang harus ditanyakan nasionalismenya.

Kebanyakan pemuda sekarang kurang bisa memakai bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kurangnya penghargaan terhadap bahasa Indonesia bisa jadi karena ketidaktahuan bagaimana proses bahasa itu lahir.

Sebuah ungkapan mengatakan, “kita akan menghargai nasi ketika kita lebih menghayati bagaimana proses biji padi tumbuh sampai dengan terhidang di meja makan.”

Yuk, kita ikuti cikal bakal perjalanan bahasa Indonesia hingga saat ini agar kita tahu bagaimana bahasa Indonesia itu sampai kepada kita sebagai bahasa negara.

Sejarah Bahasa Indonesia

Sekitar abad ke -7 bahasa Melayu sudah digunakan oleh kerajaan Sriwijaya. Bahasa Melayu inilah yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia.

Bahasa Melayu berkembang menjadi bahasa pengantar perdagangan di Nusantara. Akibatnya, bahasa Melayu pesat menyerap atau mengambil istilah dari bangsa lain yang terlibat dalam perdagangan.

Pada abad ke-15, Kesultanan Melaka memakai bentuk bahasa Melayu tinggi. Seorang penulis Portugis bernama Tome Pires melaporkan bahwa ada bahasa yang dipakai secara luas di Sumatera dan Jawa saat itu.

Lalu, pada abad ke -19, Alfred Russel Wallace menyatakan kalau bahasa orang Melayu/Melaka dianggap bahasa yang paling penting di “dunia Timur.”

Pada abad itu pun terobosan penting dilakukan oleh Raja Ali Haji. Beliau menulis kamus ekabahasa untuk bahasa Melayu. Ini artinya, bahasa Melayu bernilai sama dengan bahasa internasional lainnya karena memiliki dokumen yang berisi kaidah dan kata-kata yang terdefinisi dengan jelas. Bagaimana, kalian sudah mulai bangga belum? Kita lanjut ya!

Pemerintah kolonial Hindia-Belanda menyadari keberadaan bahasa Melayu yang sangat berpengaruh. Karenanya, mulai dilibatkanlah sejumlah sarjana Belanda untuk ikut dalam standardisasi bahasa Melayu.

Sejak saat inilah, bahasa Indonesia mulai terpisah dari bahasa Melayu, induknya. Tahun 1901, sarjana Belanda bernama Prof. Charles van Ophuijsen mengadakan pembakuan ejaan bahasa Indonesia.

Pembakuan ini dibantu oleh Engku Nawasi (Sutan Makmur) dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan ini dikenal sebagai Ejaan Van Ophuijsen.

Kejadian bersejarah selanjutnya adalah ketika pertama kalinya orang pribumi berpidato menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini terjadi tahun 1927 ketika Datoek Kajo berpidato di sidang Volksraad.

Volksraad adalah “Dewan Rakyat” yang pada masa kini sama dengan DPR. Volksraad sendiri terdiri atas orang Belanda, orang pribumi, dan orang asing timur lainnya seperti India, Arab, dan Tionghoa.

Dalam sidang ini bahasa yang dipakai adalah bahasa Belanda. Oleh sebab itu, ketika Datoek Kajo berpidato memakai bahasa Indonesia anggota dari Belanda sempat memprotesnya.

Namun, beliau tidak mmengindahkannya. Barulah, pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa persatuan bangsa. Nah, begitulah perjalanan bahasa Indonesia dari cikal bakalnya sampai dengan pengikraran sebagai bahasa persatuan.

Sejak Sumpah Pemuda sampai sekarang, bahasa Indonesia tumbuh pesat dengan menyerap banyak kata sekaligus menciptakan kata-kata baru demi kepentingan komunikasi, iptek, ataupun kegiatan sosial lainnya.

Bagaimana cara menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar?

Setelah membaca selintas sejarah bahasa Indonesia, apakah kamu masih tega menggunakan bahasa Indonesia secara tidak baik dan tidak benar? Semoga sudah insaf ya 🙂

Lantas, bagaimana bentuk penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:

  1. Konteks, berkaitan dengan situasi dan dengan siapa kita terlibat percakapan.
  2. Kaidah, berkaitan dengan tata bahasa baik lisan maupun tulisan.

Selain hal di atas, kita juga harus memperhatikan ragam bahasa yang akan kita pakai, yaitu:

  • ragam fomal, bahasa ini dipakai dalam dunia pendidikan ataupun pekerjaan;
  • ragam konstutisional, dipakai ketika bertransaksi di pasar atau di fasilitas umum;
  • ragam santai, bahasa yang dipakai sebagai bahasa percakapan sehari-hari;
  • ragam akrab, bahasa yang dipakai dengan teman yang akrab atau keluarga.

Umumnya, sebagai pemuda kita akan memakai bahasa formal ketika berada di lingkungan pendidikan atau pemerintahan, ragam konstutisional ketika dalam situasi transaksi, ragam santai dan akrab jika tengah bersama teman atau keluarga.

Menilik unsur konteks dan kaidah di atas, ternyata penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar ini tidak kaku loh. Tidak selamanya kamu pakai kaidah berbahasa dengan benar itu tandanya baik.

Contohnya percakapan dengan ibu akan menggunakan ragam akrab. Jadi, tidak mungkin menggunakan kaidah bahasa baku. Ganjil rasanya jika seorang anak berkata, “Bunda, saya bermaksud melanjutkan kuliah ke jurusan teknik informatika. Hal ini disebabkan oleh minat saya yang sangat besar akan jurusan tersebut. Kiranya Bunda merestui.”

Contoh lainnya adalah ketika konteks mengharuskan kita menggunakan ragam konstutisional tapi kita bersikukuh menggunakan kaidah baku.

“Abang, kenapa harga bawangnya begitu mahal? Alangkah baiknya jika Abang mempertimbangkan menurunkan harganya, sedikit saja!”

Atau, ketika konteks mengharuskan kita menggunakan ragam resmi tapi kita malah menggunakan ragam santai.

“Saya kepingin banget Pak, berubah! Lebih oke nilai-nilainya. Tapi gimana dong, nyokap ngga support sama sekali!” kata seorang siswa ketika dipanggil kepala sekolah setelah 3 kali berturut-turut nilainya anjlok.

Nah, contoh-contoh di atas bisa memberikan gambaran kan bagaimana kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Bagaimana dengan bahasa tulis?

Ini dia yang memprihatinkan. Gaya pemuda yang menggunakan bahasa tulis alay mulai meresahkan. Bagaimana kita membedakan “xmu” yang artinya kamu dengan “xray” yang artinya sinar X? Atau coba dilihat baik-baik kalimat ini.

4kwu t4u 4kwu S4L4H!!!! T4p1 xmuw h4ru5 TEtEPy c4Y4nk!

Inilah gaya tulisan yang pasti membuat kerajaan Sriwijaya malu, Datoek Kajo marah, dan para pemuda yang dulu mengikrarkan sumpah pemuda akan sumpahi kamu habis-habisan. Jangan ya! Kalau kamu mengaku pemuda Indonesia, pintarlah menempatkan penggunaan bahasa Indonesia sesuai konteks dan kaidahnya, pintarlah untuk selalu memakai ragam tulis yang benar, dan banggalah berbahasa Indonesia.

Penulis: Sritopia



Konsultasi langsung dengan tutor di Quipper Video Masterclass. DISKON, kode promo: CERMAT Daftar Sekarang