Strategi untuk Mencapai Cita-cita Impian!

shutterstock_267126296_800x561

Quipperian! kalian pasti pernah mendengar kalimat seperti ini: “Gantunglah cita-cita setinggi langit!”

Nah! Kata-kata itu ditujukan untuk membakar semangat kaum muda agar berani bermimpi. Karena kata-kata itu pula, banyak dari kita yang sejak kecil sering ditanyain oleh guru dan orangtu. Kalimatnya seperti ini: “Cita-citamu kalau udah gede mau jadi apa?”

Terlepas dari apakah waktu kita kecil udah bisa mikir jauh ke depan, jawaban kalian pasti biasanya lumayan klise, dari mulai jadi presiden, jadi dokter, jadi pilot, jadi artis, dan lain-lain.

Bagi kalian yang kebanyakan sudah berumur 15-18 tahun, pertanyaan cita-cita ini mungkin tidak sesepele waktu dulu masih kecil. kalau dulu kalian sempat berpikir pertanyaan tentang cita-cita, pasti kalian hanya menganggap hal itu adalah pertanyaan yang biasa saja. Bagi kalian yang sekarang di bangku SMA/SMK & sedang mempersiapkan diri masuk kuliah, atau kalian yang mungkin sekarang sedang menjalani kuliah, pertanyaan soal mimpi dan cita-cita ini mungkin tidak ditanyakan oleh guru atau orangtua, tapi justru ditanya pada diri kalian sendiri.

Bicara soal cita-cita dan tujuan hidup memang bukan perkara mudah, belum lagi untuk menjalani dan mewujudkannya, itu akan jadi perkara yang jauh lebih sulit lagi. Jika waktu kecil kalian ditanya cita-citanya mau jadi apa, mungkin dengan entengnya kalian jawab misalnya jadi dokter. Sekarang bagi kalian yang masih SMA, bicara soal “gue mau jadi dokter” bukan jadi sekadar menjawab pertanyaan basa-basi. Karena di umur segitu, kalian  udah harus mulai mikirin hal-hal yang lebih konkrit supaya bisa beneran jadi dokter, nih gua kasih contoh beberapa hal yang kalian harus pikirkan kalau mau jadi dokter:

  • Kalian harus merenungkan baik-baik apakah kalian  sanggup jadi dokter, sanggup melihat darah, sanggup diberikan tanggung jawab atas nyawa orang lain, sanggup ditelp jam 3 pagi untuk situasi darurat, dsb.
  • Sudah saatnya kalian siap bersaing masuk ke fakultas kedokteran yang (pada umumnya) memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi.
  • Kalian harus siap menghadapi kenyataan bahwa waktu kuliah kalian akan jauh lebih lama dari teman-teman kalian di jurusan lain.
  • Kalian harus pastikan orangtua kalian sanggup (atau minimal menyiasati) terkait mahalnya biaya kuliah di kedokteran, caranya dengan mendapat beasiswadan lain-lain.

Nah, empat poin di atas mungkin hanya segelintir hal yang perlu kalian pikir kalau misalnya cita-cita mau jadi dokter, untuk jadi pilot pastinya ada banyak poin lain yang perlu kalian pikirkan, apalagi kalau kalian ingin jadi presiden.

Terlepas dari itu semua, berani bermimpi dan bercita-cita setinggi langit tentu baik. Tapi keberanian untuk bermimpi itu juga harus diiringi dengan strategi yang mantap juga dari diri kalian sendiri. Tapi, kalian harus mengerti maksudnya strategi itu yang harus bagaimana?

jadi, maksudnya strategi itu, bukan hanya untuk sekadar punya mimpi dan cita-cita itu mudah, tapi berapa banyak sih orang yang benar-benar memikirkan bagaimana cara membangun cita-cita itu supaya punya arah yang jelas, punya tujuan yang konkret, paham akan setiap konsekuensinya, dan juga dipikirin secara serius tahap demi tahapnya?

shutterstock_34118947_799x533

Buatlah Cita-cita Sesepesifik Mungkin

Pada saat kita menentukan arah tujuan klian, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tujuan itu harus spesifik. Karena kebanyakan orang pada umumnya, membuat tujuan yang terlalu general, misalnya dalam menentukan tujuan jangka panjang: “Gue mau menjadi orang sukses!”

Nah, ketika kalian  nentuin bahwa apa yang kalian  mau adalah “jadi orang sukses,” kalian harus mendefinisikan dengan lebih jelas lagi, emang “sukses” itu apa, sih? Punya banyak uang? Punya kekuasaan dan pengaruh atas banyak orang? Atau apa? Setiap orang punya definisi sendiri-sendiri tentang kesuksesan.

Nah, semakin kalian repot bicara tentang apa yang kalian mau, dan semakin banyak hal-hal yang kalian butuhkan untuk mencapai apa yang kalian mau, artinya rencana awal kalian itu belum cukup spesifik. Mungkin saja, kalian sebenarnya tujuan kalian tidak bisa secara mudah direpresentasikan oleh kata “sukses.” Tapi, setelah kalian renungkan, tujuan kalian sebetulnya sederhana, yaitu (misalnya) memiliki penghasilan di atas 20 juta per bulannya. Nah jika seperti ini akan jadi lebih spesifik.

Contoh lainnya misalnya tujuan kalian  (kali ini bersifat jangka pendek), “Gue mau jago berbahasa inggris!” Nah, tujuan ini bisa lebih dijabarkan lagi pada hal-hal yang lebih spesifik. Misalnya kalian  coba uraikan 4 keterampilan berbahasa Inggris, yaitu nulis (writing), baca (reading), denger (listening), ama ngomong (speaking). Dari keempat keterampilan berbahasa ini, kalian mau fokus di keterampilan yang mana?

Kalau kalian ingin jago di semua keterampilan tersebut? Sah-sah saja! Coba kalian urutkan, sejauh ini kalian paling merasa hebat di keterampilan yang mana? Dan paling lemah di mana? Di situ kalian bisa buat prioritas dan tahu kira-kira di mana kalian harus investasikan waktu dan energi kalian lebih banyak untuk mengasah masing-masing keterampilan tersebut. Dengan merancang tujuan yang lebih spesifik, kalian  bisa lebih jeli melihat upaya-upaya yang tepat untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Buatlah Ukuran Pencapaian

Pastikan kalian  punya tolak ukur dan indikator yang jelas terkait sama hal yg mau kalian capai. Kalau misalnya kalian ingin jadi orang ‘kaya,’ jadikan kekayaan itu bisa diukur dengan jelas. ‘Kaya’ itu seberapa kaya? Apakah punya uang seratus juta rupiah itu menurut kalian sudah bisa dianggap kaya? Atau satu milyar, sepuluh milyar, seratus milyar, atau berapa? Sama hal juga dengan tujuan-tujuan jangka pendek yang lebih spesifik, jadikan semua itu terukur dan punya indikator yang jelas.

Jadikan setiap tujuan kalian  itu bisa terukur dan punya indikator yang jelas! Pada contoh yang pertama, kita mengubah kata-kata “lancar” dan “bagus” dengan membuat 2 indikator yaitu waktu “lamanya proses kuliah” dan “nilai IPK.” Sementara pada contoh yang kedua, kita mengubah “harmonis” jadi punya indikator “frekuensi pertengkaran.” Dengan kalian  membuat tujuan kalian  lebih terukur dan punya indikator, maka kalian  akan lebih mudah bisa mengevaluasi sudah sejauh mana kalian mencapai tujuan kalian tersebut.

1

Mengambil Langkah Konsisten

Setelah kalian membuat tujuan kalian secara spesifik, terukur, dan punya indikator yang jelas. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa tujuan kalian  ini bisa diuraikan menjadi langkah-langkah yang jelas bentuk aktivitasnya seperti apa. Ini merupakan salah satu elemen yang paling penting sekaligus paling sering diabaikan. kalau  kita menentukan tujuan udah oke, terukur, dan punya indikator tapi bentuk aktivitasnya gak jelas juga percuma aja.

Ada sebuah penelitian  yang  dilakukan oleh beberapa psikolog pendidikan mengenai performa akademik dari mahasiswa-mahasiswa di Universitas McGill. Nah, si psikolog ini pengen mencari tahu: Apakah peningkatan performa nilai akademis punya korelasi yang tinggi jika mahasiswa bener-bener nyusun, menjabarkan dengan detail, dan mikirin langkah tahap demi tahap untuk meningkatkan nilai-nilai mereka?

Jadi, psikolog ini mengambil sampel dari 85 mahasiswa yang IP-nya di bawah 3.00 (kita asumsikan saja bahwa IP di bawah 3.00 itu tergolong mahasiswa yang kurang berprestasi). Dari 85 mahasiswa itu, kemudian dibagi menjadi dua kelompok dengan proporsi orang yang sama. Satu kelompok akan menjabarkan hal-hal spesifik yang perlu mereka lakukan untuk meningkatkan performa akademis mereka, dan satu lagi nggak disuruh untuk ngelakuin hal tersebut.

Hasilnya? Kelompok yang diminta untuk menyusun, menjabarkan dengan detail, dan memikirikan performa akademik mereka, memiliki IP yang meningkat secara signifikan di semester selanjutnya ketimbang tidak disuruh apa-apa! Nah, kesimpulannya bagimana? Ternyata dengan menjabarkan hal tersebut, mereka jadi tahu langkah apa untuk meningkatkan nilai akademis mereka. Makin jelas rencana dan step-step yang akan kalian lakukan, maka akan semakin besar pula peluang kalian  untuk mendapatkan tujuan. Nggak ada lagi tuh pertanyaan “duh habis ini gue harus ngapain ya?”

Bentuk aktivitas itu kesannya mungkin sepele tapi justru jadi kunci utama untuk mewujudkan tujuan kalian. Contohnya nih, misalnya tujuan kalian  adalah untuk bisa lolos seleksi SBMPTN atau UM supaya bisa kuliah di PTN impian. Semangat Quipperian raih cita-citamu! 

Penulis: Sritopia



DISKON s/d Rp600.000. Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang