Jangan Nge-Geng, Kalau Nggak Mau Disebut Pelaku Penyimpangan Sosial!

Sosiologi

shutterstock_129401501_800x540

Quipperian! Tahu nggak sih, kalo membuat geng atau ada di dalam perkumpulan orang-orang tertentu itu masuk ke dalam kategori penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang? Sadar atau tidak, kegiatan ini pasti pernah kalian alami atau lakukan. Nge-geng, menyontek, buang sampah sembarangan, berbohong, atau berkelahi hanyalah contoh sederhana dari perilaku yang menyimpang! Penyimpangan sosial bisa terjadi di mana pun dan dilakukan oleh siapa pun. Jadi, tulisan ini akan mengajak kalian untuk menyadari lebih jauh, betapa pentingnya menghindari dan tidak melakukan penyimpangan sosial.

Pada dasarnya, suatu perilaku dianggap menyimpang jika tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Nah, dengan kata lain, penyimpangan (deviation) adalah segala macam pola perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri (conformity) terhadap kehendak masyarakat. Pasti ujung-ujungnya dan kalo udah parah, bakal ada sanksi sosial. Kebanyakan, sanksi sosial ini lebih berat ketimbang sanksi pidana, lho! Gokil!

Menurut James W. Van Der Zanden, ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial, antara lain, longgar atau tidaknya nilai dan norma, sosialisasi yang tidak sempurna, hingga sosialisasi sub kebudayaan menyimpang. Sementara psikolog kriminal, Hervey Cleckey, menambahkan, betapa para penyimpang sering mengalami kekacauan mental (mental disorder) sehingga tidak menghargai kebenaran, tak tulus, serta tidak merasa malu, hina, atau bersalah atas apa pun yang dilakukannya.

Penyimpangan dapat bersifat individual, yakni dilakukan seseorang dan berupa pelanggaran terhadap norma-norma  yang telah mapan. Namun, bisa juga bersifat kolektif, yang dilakukan secara bersama-sama atau secara berkelompok.

Penyimpangan bersifat kolektif inilah yang akan kita kulik sampai habis! Tapi, kenapa sih, harus kita kulik? Tak lain karena fenomena penyimpangan kolektif yang terjadi dalam masyarakat pada saat ini semakin lama semakin meresahkan. Tidak ada esensi atau motivasi hidup yang bersifat positif dari sebuah penyimpangan kolektif. Nah, Quipperian tentu tidak mau masuk ke dalam golongan masyarakat itu, kan?

Penyimpangan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang beraksi secara bersama-sama (kolektif). Mereka patuh pada norma kelompoknya yang kuat dan biasanya bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Salah satu penyimpangan yang kini marak adalah kenakalan remaja yang umumnya sering dilakukan dalam bentuk suatu kelompok yang disebut geng. Nah, siapa tuh yang di sekolah bikin geng-gengan?

Keberadaan geng mulai marak di Indonesia sejak tahun 1990-an. Mengutip pendapat Le Bon (2008) geng berperilaku seperti kerumunan (crowd), yakni sekumpulan orang yang mempunyai ciri baru dan sangat berbeda dengan ciri individu yang membentuknya. Menurut Le Bon, perasaan dan pikiran seluruh individu dalam kumpulan orang tersebut memiliki visi dan tujuan yang sama, bahkan dapat membuat kesadaran perorangan menjadi lenyap ketika berada dalam kerumunan sebuah kelompok geng. Jadi, tidak heran jika pelaku geng sering berbuat onar dan suka mencari keributan. Kasus yang marak akhir-akhir ini adalah keberadaan geng motor di kota-kota besar Indonesia yang dianggap sangat meresahkan masyarakat.

Para anggota kelompok geng biasanya diisi oleh pemuda-pemudi atau remaja yang masih labil dan menuju proses pendewasaan. Mereka ini sangat bergantung terhadap rasa kebersamaan dengan banyak orang lain yang menjadi bagian dari komunitasnya. Individu yang bergabung dalam kelompok geng biasanya memeroleh perasaan kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri.

Ketika berada dalam suatu kelompok geng, maka anggota dari geng tersebut seakan-akan telah terlebur dalam suatu kerumunan, sehingga menyebabkan rasa tanggung jawab yang semula mengendalikan individu pun menjadi lenyap. Ketika menjadi bagian dari kerumunan, maka individu yang menjadi anggota dari kelompok geng tersebut dapat serta merta berubah menjadi individu yang mampu melakukan hal yang dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah dilakukannya.

Gejala kenakalan remaja menunjukkan bahwa semakin melemahnya pengendalian sosial (social control) masyarakat terhadap para anggotanya. Masyarakat tampaknya telah berkembang menjadi individualistis sehingga mengabaikan kewajibannya untuk mencegah penyimpangan perilaku sedini mungkin. Padahal, pengendalian sosial sangat dibutuhkan demi terciptanya suatu keadaan yang serasi antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat.

Jadi, harus ada upaya nih untuk menanggulangi kenakalan remaja. Keluarga dan masyarakat harus memberdayakan diri untuk melakukan pengendalian sosial agar segala bentuk tindak kenakalan dapat dicegah sedini mungkin. Pihak sekolah perlu juga dilibatkan dengan menyibukkan remaja dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang mereka minati. Seluruh guru, dibantu pengurus OSIS yang terpercaya, perlu untuk melibatkan diri secara aktif memantau kegiatan peserta didik selama jam istirahat atau waktu pulang sekolah, karena fakta menunjukkan tindak kenakalan terjadi pada saat-saat tersebut.

Sebagai satu-satunya organisasi kesiswaan di lingkungan sekolah, OSIS harus mampu memberdayakan diri sebagai pendidik sebaya (peer educator) demi membantu menanggulangi kenakalan remaja. Tapi, kenapa pendidik sebaya diperlukan? Setidaknya ada tiga alasan paling mendasar.

Pertama, karena pendidik sebaya menggunakan bahasa yang kurang lebih sama sehingga informasi tentang pentingnya menghindari tindak kenakalan akan mudah dipahami oleh sebayanya.

Kedua, remaja lebih terbuka untuk mengemukakan pikiran dan perasaannya di hadapan pendidik sebayanya, termasuk bila memiliki pengalaman pahit atau alasan tertentu yang mendorongnya melakukan kenakalan. Hal ini lantas bisa didiskusikan bersama atau disampaikan kepada pihak lain yang berkompeten (guru BP/BK atau orangtua) untuk dicarikan solusinya.

Ketiga, dorongan agar remaja menghayati segenap keberadaannya sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa. Remaja harus memberikan kebaikan bagi diri maupun sesamanya. Dorongan ini harus disampaikan serta didiskusikan secara lebih terbuka dan santai tanpa kesan menggurui.

Nah, ketimbang bergabung dengan geng yang bercorak kekerasan, akan lebih baik kalo Quipperian buat atau tergabung dalam kelompok persahabatan yang dapat menjadi pendukung bagi anggotanya. Masing-masing anggota kelompok harus saling memberikan dukungan yang positif, bukan justru saling memojokkan. Geng rusuh udah nggak zaman!

Penulis: Fritz H.S Damanik