Belajar Pengertian Masyarakat Multikultur, Yuk!

Belajar Pengertian Masyarakat Multikultur, Yuk!

Tabik, Quipperian. Kali ini Quipper Video Blog akan membahas mengenai masyarakat multikultural. Sebelum melanjutkan lebih jauh, untuk mempermudah pemahaman teman-teman tentang  apa itu coba bayangkan contoh masyarakat pahlawan super yang sedang marak di layar besar akhir-akhir  ini. Baik dari DC atau Marvel:

  1. Pahlawan-pahlawan super itu memiliki latar dan kekuatan yang berbeda
  2. Mereka hidup bersama dengan kaum-kaum lain yang tidak memiliki kaum mereka
  3. Para pahlawan super terjaga akan kekuatan mereka bersatu menjaga kaum-kaum yang lebih lemah.  

Dari analogi di atas apa saja yang setidaknya dapat kita petik untuk membingkai pengertian masyarakat multikultural?

  1. Terdiri dari kumpulan orang banyak
  2. Memiliki latar belakang dan karakteristik yang berbeda, dan bahkan sangat berbeda
  3. Ingin hidup bersama.

Tiga hal ini juga diamini oleh kamus Merriam-Webster dalam memaknai masyarakat, komunitas, organisasi, atau kumpulan orang di dalam satu area yang memiliki kesamaan tujuan. Dengan demikian sifat multikultur dalam suatu masyarakat meniscayakan hadirnya  keberagaman latar belakang budaya dari tiap individu/kelompok/komunitas yang tergabung dalam masyarakat tersebut.

Lebih lanjut pola kehidupan dalam suatu masyarakat multikultur umumnya dapat dibagi ke dalam 3 fase:

  1. Segregasi
  2. Asimilasi
  3. Integrasi

Dan memasuki abad ke 21 setiap masyarakat multikultur umumnya memiliki satu semangat bergerak menuju kepada yang disebut sebagai “Warga Dunia” atau Global Citizen.  Pada bagian I ini Quipper Video Blog akan mencoba memahami apa yang dimaksud sebagai Segregasi, asimilasi, dan Integrasi. Siap bermultikultur Quipperian?

Segregasi

Populasi dari latar belakang budaya berbeda tetap terpisah, baik secara geografis dan interaktif, meskipun mereka mungkin tinggal di daerah yang sama.

Contoh kasus ekstrem adalah Afrika Selatan selama rezim Apartheid, sampai awal tahun 1990an. Contoh lain,  di negara bagian selatan Amerika Serikat, sampai tahun 1960an, kelompok-kelompok tertentu (berdasarkan ras dalam contoh di atas) tidak akan memiliki akses terhadap profesi, hak sipil, layanan publik dan lain-lain yang sama dengan populasi lainnya. Dalam kasus seperti itu biasanya yang berkuasa menerima fasilitas yang lebih baik daripada kelompok yang lain.

Contoh bentuk lain segregasi, walaupun dengan cara yang kurang radikal dan dilembagakan, adalah daerah ghetto. Jaringan sosial penghuninya terutama terdiri dari orang-orang dari latar budaya minoritas, dan mereka tidak memiliki banyak kontak dengan budaya atau bahasa mayoritas di negara tempat mereka tinggal. Dalam segregasi semacam ini juga terdapat pemisahan bidang pekerjaan, dalam artian ada pekerjaan yang umumnya diisi kaum minoritas.

Dalam kasus semacam itu, walau tidak ada undang-undang yang mencegah orang pindah ke daerah lain, memilih pekerjaan lain, atau menjadi anggota masyarakat yang lebih besar, namun batasan yang sangat sederhana namun efisien selalu hadir, di dalam paradigma masyarakat itu sendiri. Contoh ilusi paradigm ini adalah mereka yang berlatar budaya mayoritas, dan tidak selalu berinteraksi dengan kaum di luar budayanya, dan yang sebaliknya; orang-orang dari budaya minoritas yang tidak merasa diterima atau tidak merasa nyaman berada di luar kelompok budaya. yang mereka identifikasikan sebagai milik mereka sendiri.

Asimilasi

Interaksi budaya yang berujung penyerapan budaya. Orang-orang dari budaya minoritas mengadopsi budaya mayoritas, juga orang-orang budaya mayoritas mengadopsi minoritas.

Dengan contoh Amerika Serikat,  model asimilasi memainkan pengaruh sangat besar dalam membentuk apa yang disebut sebagai tradisi. Setidaknya sampai tahun 1960an, ketika lanskap intelektual berubah secara radikal di bawah pengaruh budaya tandingan dan filsafat politik liberal. Derasnya gelombang imigran yang masuk, walau sebagian besar mereka diterima, tapi mereka diharapkan menyesuaikan diri dengan cara hidup orang Amerika. Di  saat yang sama, bagian dari budaya asli mereka menjadi bagian dari budaya bersama.

Quipperian pernah mendengar istilah panci pelebur (melting pot)? Ini adalah metafora umum untuk model asimilasi: Bayangkan sebuah panci/wajan yang digunakan untuk memanaskan dan mencampur ragam bahan yang berbeda, dengan bahan baru sebagai hasilnya (atau dalam ranah kuliner yang sering dijadikan contoh adalah santapan pizza). Kerak adalah seperangkat nilai yang dimiliki oleh semua orang Amerika, sedangkan taburan rasa mewakili keragaman berbagai budaya. Dengan demikian pizza menjadi metafora keanekaragaman berdasarkan nilai inti. Dengan kata lain mereka bersatu seperti orang Amerika, namun tetap beragam.

Kritikus mengklaim bahwa asimilasi sebagai model dapat menyebabkan penganut budaya minoritas merasa didiskriminasi, karena walau nilai dan sebagian praktik mereka diakomodasi tapi tetap ada batas praktik atau nilai tertentu yang tidak ditoleransi kaum mayoritas. Selain itu, tidak salah jika lalu teman bertanya-tanya apakah masyarakat yang telah berasimilasi secara radikal pada akhirnya justru berisiko mengalami stagnasi budaya karena menutup diri dari kemungkinan budaya baru? Di lain pihak ada pula klaim bahwa homogenitas budaya dan identitas nasional yang kuat justru berkontribusi pada harmoni sosial.

Integrasi

Integrasi atau lebih akrab dengan sebutan multikulturalisme memiliki pra-syarat bahwa budaya minoritas diperbolehkan, diharapkan, dan didorong untuk menjaga ciri khas mereka (nilai, pandangan dunia, kebiasaan hidup) sembari di saat yang sama beradaptasi dengan kerangka sosial yang kurang lebih menopang masyarakat untuk berfungsi dengan baik (misalnya demokrasi, penghormatan terhadap martabat manusia melalui kepatuhan terhadap hak asasi manusia, toleransi …). Dengan kata lain, integrasi sebagai model untuk masyarakat multikultural mewajibkan adanya saling menghormati dan menghargai perbedaan budaya sebagai titik pusat.

Model integrasi memainkan pengaruh besar di Inggris, di mana keragaman budaya bukanlah sebuah fenomena baru dan telah umum dipandang sebagai cara untuk mempromosikan perdamaian sosial melalui penghormatan terhadap keragaman budaya masyarakat. Setelah tahun 1960an, integrasi juga menjadi model yang berperan penting di AS dan Kanada. Australia dan Selandia Baru tampaknya juga telah menerapkannya sampai batas tertentu, paling tidak dalam kaitan dengan masyarakat asli mereka.

Untuk menyederhanakan pengertian, integrase atau multikulturalisme kerap digambarkan dengan fenomena Mangkuk Lalap (Salad Bowl): seperti lalap/salad, masyarakat terdiri dari berbagai elemen yang lezat sementara tetap mengandung kekhasannya. Berkaca dari kasus Kanada,Quipperianian bisa menggunakan jargon mosaik budaya – keseluruhan terdiri dari bagian-bagian yang berbeda.

Berbeda dari asimilasi di mana budaya minoritas mengalami kecemasan terhadap diskriminasi, dalam integrasi justru budaya mayoritas perlu berjaga-jaga terhadap alienasi – seolah-olah mereka orang asing di negara mereka sendiri. Namun, mengingat bahwa sangat tidak mungkin keragaman budaya akan lenyap dalam waktu dekat (dan masih dapat diperdebatkan apakah masyarakat homogen adalah sebuah kebutuhan), kritik paling kuat terhadap model integrasi akan berbentuk segregasi spontan – komunitas yang berbeda namun hidup berdampingan tanpa berkomunikasi aktif sama sekali. Hal ini dapat menyebabkan ketegangan; jika budaya tidak berkomunikasi, mereka berhenti untuk saling memahami nilai lain.

Warga Dunia

Akhir-akhir ini, pasti Quipper Video Blog mendengar banyak istilah: “warga dunia”. Ungkapan itu kerap dimaknai secara luas, baik melalui buku atau video. Tapi pada dasarnya, warga dunia adalah orang yang terjaga akan dunia di seQuipper Video Blogrnya (dan tidak terbatas komunitas lokal/asalnya), dan berkontribusi dalam menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik – dengan satu atau lain cara – dengan keyakinan bahwa Quipper Video Blog semua manusia memiliki hak yang sama.

Seseorang yang sering bepergian, dan dapat melihat komunitas yang berbeda dan keragaman orang dan budaya, belum tentu menjadi seorang warga dunia. Tapi, orang yang tidak pernah bepergian, tinggal di komunitas yang sama, di mana setiap orang memiliki latar belakang yang sama, juga tidak akan pernah bisa menjadi warga dunia.

Jika Quipper Video Blog dan Quipperian mencari lebih banyak kesempatan untuk mengenal “yang lain” (agama, ras, atau budaya lain), dunia akan lebih ramah dan berpikiran terbuka. Ini mungkin terdengar terlalu utopis, namun kenyataannya adalah bahwa masyarakat inklusif di mana integrasi dilihat sebagai sebuah nilai, adalah masyarakat yang lebih berpikiran terbuka dibandingkan dengan masyarakat di mana setiap orang adalah penduduk asli berasal dari latar belakang budaya yang sama.

Dari penjelasan mengenai masyarakat multikultur, di atas, walau melalui tiap tahap (segregasi, asimilasi, dan integrasi) dengan masing-masing kelemahan dan keunggulannya, masyarakat dunia saat ini perlu menajamkan visi dan menggiatkan langkah menjadi warga dunia, yang lebih multikultur dan berempati.

Begitulah pengertian masyarakat multikultur beserta pembahasannya! Semoga artikel ini dapat membantu pemahaman sosiologi kalian ya!

Referensi:

  1. https://www.merriam-webster.com/dictionary/society
  2. http://www.encyclopedia.com/social-sciences/dictionaries-thesauruses-pictures-and-press-releases/multi-cultural-society
  3. http://www.lmg.pf.bw.schule.de/faecher/englisch/landeskunde/page7/page7.html
  4. https://ndla.no/en/node/104197?fag=71082
  5. https://www.huffingtonpost.com/iris-fisher/multicultural-societies-t_b_10742852.html
  6. http://www.oxfordhandbooks.com/view/10.1093/oxfordhb/9780199796694.001.0001/oxfordhb-9780199796694-e-006

Penulis: Jan Wiguna