Pembahasan Mengenai Stratifikasi Sosial Kontemporer

Pembahasan Mengenai Stratifikasi Sosial Kontemporer

Yo! Quipperian, apa kabar? Ok, Quipper Video Blog tiba di bagian ketiga pembahasan mengenai Stratifikasi Sosial. Usai bagian satu membahas mengenai makna dasar dan pendekatan awal terhadap stratifikasi sosial, pada bagian dua, Quipper Video Blog telah membahas mengenai bentuk-bentuk dari stratifikasi sosial.

Bentuk-bentuk stratifikasi yang sempat dibahas antara lain adalah sistem kasta, sistem kelas, dan sistem meritokrasi. Sistem-sistem ini disebut sebagai bentuk klasik, karena bentuk-bentuk ini telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi-informasi-sosial di era globalisasi abad 21. Sistem kasta yang umumnya dapat dilihat di masyarakat Hindu mulai membaur dengan iklim profesionalisme. Sistem kelas dan meritokrasi selain menciptakan jembatan antar strata namun membukakan mata akan stratifikasi-stratifikasi sosial kontemporer semacam stratifikasi gender, budaya kemiskinan, dan neokolonialisme.

Nah Quipperianian, jangan tunggu Quipper Video Blog terseret arus stratifikasi. Mari kita  kenali, pahami, dan siapkan diri menghadapi stratifikasi-stratifikasi sosial kontemporer, yang mungkin tanpa kita sadari, telah kita lihat dan bahkan jalani dari hari ke hari.

1. Stratifikasi Gender

Teori feminis menegaskan bahwa struktur kelas, dan penindasan perempuan dalam sistem patriarki, terpisah namun berinteraksi dengan proses sosial. Asumsi feminis bahwa keluarga dwi-karya (istri-suami bekerja) akan menjadi suatu pola umum setelah kesetaraan peluang antara perempuan dan pria diberlakukan terbukti salah. Sebagai gantinya, hasil penelitian membuktikan bahwa pasangan memilih di antara tiga model keluarga, sesuai dengan tiga preferensi gaya hidup wanita:

  1. Sebagian kecil perempuan yang mengambil peran bapak rumah tangga dengan bekerja penuh-waktu dan mandiri secara finansial;
  2. Sebagian kecil ibu/istri rumah tangga yang bergantung pada pasangan mereka setelah menikah;
  3. Sebagian besar perempuan yang cukup adaptif dan bisa menyeimbangkan antara rumah tangga dan ragam pekerjaan yang memungkinkan mereka menyumbangkan penghasilan tambahan

Saat ini, stratifikasi sosial perempuan berbeda dengan stratifikasi sosial laki-laki, karena perempuan memiliki dua jalan untuk mencapai status sosial dan kelas yang lebih tinggi melalui, yaitu melalui jenjang profesi atau pernikahan. Perempuan aktif menggunakan keduanya, bahkan sampai hari ini.

Dalam mengembangkan masyarakat, posisi perempuan kerap tergantung kepada:

  • apakah perempuan memiliki akses mandiri ke jenjang profesi,
  • apakah perempuan memiliki akses melalui anggota laki-laki keluarga mereka (ayah atau pasangan),
  • atau apakah perempuan diharapkan untuk menahan diri dari kegiatan profesi dan mengabdikan diri mereka sebagai ibu/istri rumah tangga. Dalam masyarakat pertanian, teknologi juga merupakan faktor penting dalam posisi sosial dan ekonomi perempuan.

2. Budaya Kemiskinan

Ekonom John Kenneth Galbraith (1979) mengklaim bahwa perkembangan negara-negara industri menengah atau lemah dihambat oleh budaya mereka sendiri. Membangun gagasan antropolog Oscar Lewis, Galbraith berpendapat bahwa beberapa negara dilumpuhkan oleh budaya kemiskinan, sebuah cara hidup yang melanggengkan kemiskinan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sebagian besar orang miskin di dunia adalah petani yang tinggal di petak tanah kecil. Mereka hampir tidak menghasilkan cukup makanan untuk bertahan hidup. Hidup begitu dekat dengan tepi kelaparan, mereka memiliki sedikit ruang untuk mengambil risiko sehingga mereka tetap berpegang pada cara-cara tradisional yang benar dan teruji. Mereka tidak berani bereksperimen dengan dengan teknik pertanian baru karena tertanam paradigma pasti gagal dan kegagalan akan menyebabkan kelaparan dan kematian.

Dan kerap agama dijadikan alasan untuk menerima situasi mereka, dalam kerangka fatalisme: keyakinan bahwa posisi seseorang dalam hidup adalah pasti dan itu merupakan kehendak Ilahi yang harus dijalani dengan ikhlas.

3. Neokolonialisme

Sosiolog Michael Harrington (1977) berpendapat bahwa kolonialisme digantikan oleh neokolonialisme. Ketika Perang Dunia II mengubah sentiment atau pandangan publik tentang mengirim tentara untuk mengeksploitasi negara-negara yang lebih lemah, maka negara-negara industri maju mengembangkan apa yang disebut pasar internasional sebagai cara untuk mengendalikan negara-negara industri lemah.

Dengan menjual barang-barang pemerintah mereka secara kredit-terutama senjata, negara-negara industri maju menjerat negara-negara miskin dengan lingkaran hutang. Kebijakan menjual senjata dan barang-barang industri lainnya ke negara industri menengah dan/atau lemah secara tak langsung mengubah negara-negara industri lemah menjadi debitur abadi.

Modal yang mereka butuhkan untuk mengembangkan kemandirian industri mereka justru digunakan sebagai pembayaran hutang, yang terus meningkat dengan menaiknya suku bunga. Status hutang negara-negara industri menengah dan/atau lemah memaksa mereka untuk tunduk pada persyaratan perdagangan yang berfihak kepada negara industri maju. Sama menjajahnya, tha? Namun dulu dikungkung secara fisik oleh senjata, kini dikerangkeng secara sosio-ekonomi

Nah, Quipperian di atas tadi adalah 3 bentuk klasik stratifikasi sosial kontemporer. Semoga tiga pembahasan mengenai stratifikasi sosial ini memperkaya khasanah pengetahuan dan pemahaman Quipperian akan apa itu stratifikasi, bentuk-bentuknya di masa lalu, dan sedikit gambaran akan bagaimana bentuknya di masa kini.

Buat Quipperian yang belum sempat membaca pembahasan mengenai stratifikasi sosial yang sebelumnya, langsung saja cek artikel-artikel ini ya!

Kenalan dengan Materi Stratifikasi Sosial, yuk!

Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial (Kasta, kelas & meritokrasi)

Referensi:

  1. https://www.britannica.com/science/stratification-geology
  2. http://www.sociologyguide.com/social-stratification/index.php
  3. https://www.thoughtco.com/what-is-social-stratification-3026643
  4. https://courses.lumenlearning.com/sociology/chapter/what-is-social-stratification/

Penulis: Jan Wiguna