Home » MASUK PTN » SBMPTN » Bahasa Indonesia SBMPTN » Simak Ulasan Kata Bentukan Ini Biar Kamu Lebih Siap Hadapi SBMPTN 2019!

Simak Ulasan Kata Bentukan Ini Biar Kamu Lebih Siap Hadapi SBMPTN 2019!

Hai Quipperian, tak terasa ya sebentar lagi kamu akan menghadapi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019. Nah, untuk membantumu, kali ini Quipper Blog akan membahas tentang materi kata bentukan. Mau tahu seperti apa pembahasan itu? Yuk, simak ulasannya berikut dengan seksama!

Pengertian Kata Bentukan

Kata bentukan secara sederhana ialah kata yang sudah dibentuk dari kata dasar dengan menambahkan imbuhan tertentu. Kata bentukan ini memiliki beberapa istilah lain yang lumrah digunakan. Istilah itu seperti, kata turunan, kata berimbuhan, kata jadian, dan lain sebagainya.

Dalam Bahasa Indonesia, kata dasar untuk menjadi sebuah kata bentukan harus melalui proses pembentukan kata. Pengertian dari pembentukan kata itu sendiri ialah proses membentuk kata dengan menambahkan imbuhan atau unsur lainnya pada kata dasar. Pembentukan kata dasar itu dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara. Berikut di bawah cara-cara yang dimaksudkan.

1. Pengimbuhan

Definisi sederhana dari pengimbuhan ialah proses pembentukan kata dengan menambahkan imbuhan pada kata dasar. Imbuhan yang lazim digunakan dalam pengimbuhan terdiri dari empat macam. Pertama, imbuhan pada awal kata atau lazim disebut awalan atau prefiks. Dalam bahasa Indonesia, awalan ada beberapa macamnya, yakni ber-, me-, di-, ke-, per-, pe-, ter-, dan se-.

Di antara beberapa awalan itu, ada beberapa yang sulit untuk dibedakan cara penggunaannya, yakni di- dan ke-. Ada dua cara untuk menggunakan kedua awalan tersebut, yakni dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya dan dipisahkan dari kata yang mengikutinya.

Mudahnya, bila kedua awalan itu disertai kata benda, arah, atau tempat, maka kedua awalan itu harus dipisahkan. Misalnya:

Awalan di-:

Di [spasi] rumah

Di [spasi] pasar

Di [spasi] sana

Awalan ke-:

Ke [spasi] laut

Ke [spasi] sekolah

Ke [spasi] dalam

Adapun, kedua awalan itu memiliki aturan khusus yang harus kamu ketahui. Awalan di- bila bertemu dengan kata samping maka penulisannya bisa serangkai dan bisa dipisah. Awalan di- dan kata samping ditulis serangkai apabila kata tersebut mengandung makna ‘kecuali’ atau ‘selain.’ Sedangkan, awalan di- dan kata samping dipisah apabila menunjukkan arah atau tempat. Contoh:

Ditulis serangkai:

Disamping sebagai pegawai bank, Bapak Sukirman juga seorang guru di Sekolah Quipper.

Ditulis terpisah:

Rumah Iman persis di samping Masjid Attaqwa.

Lalu, awalan ke- bila bertemu dengan kata luar maka penulisannya bisa serangkai dan bisa dipisah. Ditulis serangkai apabila kata tersebut merupakan lawan dari kata masuk dan ditulis terpisah apabila kebalikan dari kata ke dalam. Contoh:

Ditulis serangkai:

Sere keluar dari pintu di bagian utara sehingga tidak ada yang melihatnya meninggalkan sekolah Quipper.

Ditulis terpisah:

Jajang sering ditugaskan ke luar kota.

Macam kata imbuhan kedua ialah akhiran atau sufiks. Kata akhiran memiliki beberapa macam, yakni -kan, -i, dan -an. Berikut contoh dari kata yang diberi akhiran:

Hidangkan (membawa)

Duduki (memberi pada kata dasar)

Himpunan (satuan)

Kata imbuhan ketiga berada atau ditambahkan di tengah-tengah kata dasar. Kata tersebut lazimnya disebut sebagai kata sisipan atau infiks. Beberapa macam kata sisipan di antaranya, -el-, -em-, dan -er-. Berikut beberapa contohnya:

Gerigi asal katanya gigi

Gelantung asal katanya gantung

Gemetar asal katanya getar

Dan, kata imbuhan keempat ialah gabungan imbuhan atau konfiks. Gabungan imbuhan itu merupakan kata imbuhan yang terletak pada awal dan akhir kata sekaligus. Kata gabungan imbuhan itu terdiri dari beberapa macam, yakni meng-…-kan, meng-…-i, peng-…-an, ke-…-an, se-…-nya, dan per-…-an. Berikut contohnya:

Persatuan = per- + satu + -an

Kehujanan = ke- + hujan + -an

2. Kata Ulang

Dalam kata bentukan, ada lagi yang disebut dengan kata ulang. Definisi sederhana dari kata ulang ialah kata yang dihasilkan dari proses reduplikasi atau pengulangan. Proses pengulangan itu merupakan proses pembentukan kata dengan mengulang kata dasarnya, baik secara utuh maupun sebagian.

Bentuk dasar dari kata ulang bisa berupa kata dasar, kata berimbuhan, atau kata majemuk. Proses pengulangan pada dasarnya tidak mengubah jenis katanya.

Dalam Bahasa Indonesia, setidaknya ada empat macam kata ulang. Pertama ialah kata ulang utuh atau pengulangan utuh atau dwilingga. Pada kata ulang macam ini, proses pengulangannya dilakukan secara utuh satu kata dasarnya. Misalnya:

Jenis-jenis

Anak-anak

Penurunan-penurunan

Lalu, kata ulang kedua ialah kata ulang sebagian atau pengulangan sebagian. Definisi sederhana dari kata ulang sebagian ialah kata ulang yang proses pengulangannya hanya sebagian bentuk dasar, baik di depan atau di belakang. Kata ulang sebagian ini terbagi menjadi dua macam lagi, yakni dwipurwa dan dwiwasana.

Dwipurwa merupakan proses pengulangan bentuk dasar dengan mengulang suku kata pertama bentuk kata dasarnya. Sedangkan, dwiwasana merupakan proses pengulangan bentuk dasar dengan mengulang bagian belakang leksem. Berikut contohnya:

Contoh Dwipurwa:

Pepohonan (asal katanya ‘pohon.’)

Tetangga  (asal katanya ‘tangga.’)

Contoh Dwiwasana:

Pertama-tama (asal katanya ‘pertama.’)

Sekali-kali (asal katanya ‘sekali.’)

Kata ulang jenis ketiga ialah kata ulang berimbuhan. Pengertian sederhana dari kata ulang berimbuhan ialah kata ulang yang pengulangannya terjadi pada kata dasar dan sekaligus mendapatkan imbuhan. Contoh kata ulang berimbuhan sebagai berikut:

Bersalam-salaman (kata dasar ‘salam’ direduplikasi dan mendapat imbuhan awalan ber- dan akhiran -an).

Rumah-rumahan (kata dasar ‘rumah’ direduplikasi dan mendapat akhiran -an).

Dan, kata ulang keempat ialah kata ulang berubah bunyi atau pengulangan berubah bunyi. kata ulang berubah bunyi ialah kata yang direduplikasi seluruh bentuk kata dasarnya dengan perubahan bunyi atau fonem. Berikut contohnya:

Gerak-gerik (kata dasarnya ‘gerak’ diubah vokal akhirnya dari a menjadi i)

Lauk-pauk (kata dasarnya ‘lauk’ diubah fonemnya dari l menjadi p)

Itulah beberapa pembahasan mengenai materi kata bentukan. Semoga dengan membaca ulasan itu, kamu semakin siap dan percaya diri menghadapi SBMPTN 2019. Semoga berhasil melalui ujian SBMPTN nanti ya Quipperian!

Sumber:

Penulis: Muhammad Khairil

Masih Bingung dengan Materi Kata Rujukan? Simak Artikel Ini Saja!

Baca panduan mengenai SBMPTN 2019 di sini. Mulai dari alur, prosedur, pelaksanaan, tipe ujian, penjelasan soal HOTS, sistem penilaian SBMPTN, prediksi kisi-kisi hingga strategi belajar SBMPTN 2019, semua bisa kamu temukan di sini!

SBMPTN 2019

Lainya untuk Anda