5 Kisah Pejuang PTN yang Pada Akhirnya Berhasil Meraih Mimpi

Enggak terasa tahun 2019 sudah berjalan setengah bulan ya, Quipperian. Semakin hari, kalian yang duduk di kelas 12 pasti sudah mulai deg-degan dan cemas dengan beragam ujian yang akan dilalui. Sebut saja Ujian Nasional dan SBMPTN yang paling bikin gundah gulana.

Kalau SBMPTN memang sudah jadi langganan ujian yang paling bikin siswa-siswi galau. Sebab, jalur ini jadi ajang persaingan yang katanya paling berat dan paling menentukan. Jutaan siswa kelas 12 dan alumni-alumni lulusan 2 tahun sebelumnya, bersaing memperebutkan kursi PTN yang jumlahnya cuma sedikit.

Dengan tingkat seleksi yang sangat ketat, enggak heran kalau banyak banget Quipperian yang sudah mempersiapkan segala macam strategi khusus untuk bisa menembus jalur ini. Nah, kali ini, Quipper Blog sudah punya beberapa kisah pejuang PTN melalui jalur SBMPTN 2018 lalu, tentang gimana akhirnya mereka bisa meraih impian duduk di bangku PTN lewat jalur SBMPTN. Seperti apa kisah-kisah pejuang PTN itu? Yuk, simak di bawah!

1. Ni Luh Lovenila Sari Dewi (Jurnalistik, Universitas Padjadjaran)

Dok. pribadi

“Aku sudah siap-siap sejak awal naik kelas 12. Ikut bimbel persiapan SBMPTN, beli buku bacaan Sejarah bekas, minjem buku Geografi di sekolah, dan pakai bimbel online. Aku juga buat daftar bab-bab yang sekiranya akan keluar di SBMPTN. Kalau sudah paham, aku tandai dan aku maju ke bab berikutnya. Targetku sehari harus paham minimal satu bab. Kalau enggak bisa, tanya ke kakak bimbel atau belajar di bimbel online.

Di SBMPTN kemarin aku pilih HI Unpad, HI Undip, dan Jurnal Unpad. Aku sangat mempertimbangkan passing grade, tapi enggak keluar dari jurusan yang memang aku minati. Aku juga sering ikut try out untuk mengukur kemampuanku. Intinya sih, enggak boleh nyerah saat belajar. Capek itu pasti, tapi hasilnya berbuah manis. Belajar pun harus efektif dan kalau ada yang meremehkan ya cuekin aja, jangan didengerin.”

2. Widya Rafifa Salsabila (Departemen Politik dan Pemerintahan, Universitas Gadjah Mada)

Dok. pribadi

“Aku langsung daftar bimbel yang kredibel juga. Aku belajar non-intensif selama 3 bulan dan paling intensif sebulan sebelum SBMPTN. Mulai belajar jam 7 pagi sampai jam 7 malam secara formal di bimbel. Lalu 3 jam berikutnya biasanya stay di bimbel untuk diskusi sama teman-teman. Bahkan di beberapa hari tertentu aku lanjut review di rumah sampai tengah malam.

Aku selalu menganalisis pola soal SBMPTN dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan begitu, aku jadi terbiasa dengan materinya dan kenal konsepnya secara matang. Makanya kalau ngerjain soal, aku selalu ngasih penjelasan kenapa jawabannya kayak gitu. Oh iya, dan penting juga buat membantu teman-teman kita yang enggak mengerti materinya, karena dengan begitu kita akan lebih paham lagi dengan materi yang kita ajarin.

Untuk pemilihan jurusan sendiri, aku sangat mempertimbangkan passing grade. Aku pasang target sekitar 72% untuk nilaiku selama 3 try out terakhir. Semangat untuk terus ngejalanin ini sampai ke titik terakhir itu penting. Dan aku sangat semangat karena memang aku suka menjalaninya. Aku lintas jurusan dan selama SMA aku adalah “underdog” (baca: orang yang biasanya dikira akan mengalami kekalahan). Makanya emosiku saat SMA itu aku alihkan untuk ambisi mengejar SBMPTN.”

3. Felix Anggit (Kriminologi, Universitas Indonesia)

Dok. pribadi

“Aku memang udah niat untuk ikut SBMPTN walaupun tahu itu susah banget. Aku langsung ikut bimbel dan beli banyak buku soal. Aku tiap hari iseng saja ngerjain soal, sama kalau di kelas lagi enggak ada kerjaan. Aku lebih fokus sama soal TPA yang banyak banget dan butuh latihan untuk terbiasa. Aku juga lebih gencar belajar di mata pelajaran yang memang aku lemah, kayak Ekonomi dan Matematika.

Strategi dalam pikiranku, enggak usah nyari jurusan yang passing grade tinggi tapi kita enggak minat dan jangan cari yang rendah tapi enggak minat juga. Jurusan itu harus sesuai passion, dengan passing grade yang memang kalian PD bisa ditempuh. Aku memilih 3 jurusan yang memang aku concern sekali dengan isu-isu yang dibahas di dalamnya. Intinya sih, harus percaya diri dengan kemampuan diri kita, jangan salah pilih jurusan dan harus fokus juga.”

4. Galih Andhika Aryaputra (Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung)

Dok. pribadi

“Awalnya aku patah semangat, karena tahu enggak lolos SNMPTN. Berharap banget sama jalur itu, dan memang aku enggak mempersiapkan apapun untuk SBMPTN. Akhirnya aku langsung kontak teman-teman untuk minta materi sama soal-soal latihan. Takut banget, karena aku lintas jurusan. Sama sekali enggak pernah belajar soal materi Soshum, apalagi jurusan yang aku pilih adalah jurusan Seni yang punya ujian keterampilan.

Aku banyak ngerjain soal-soal tahun lalu dan lebih fokus di TKPA karena lebih umum materinya. Aku juga enggak pernah ikut try out, karena temanku kan IPA semua, enggak ada teman bareng untuk try out Soshum, jadi malas. Untuk pemilihan jurusan pun aku ngikutin minatku banget, selain FSRD, ada DKV UPI, dan Jurnalistik Unpad. Aku sama sekali enggak pernah ngitung passing grade karena memang enggak pernah ikut try out.

5. Mario Hartanto (Antropologi, Universitas Padjadjaran)

Dok. pribadi

“Aku langsung cari bimbel yang sesuai, tapi sayangnya aku baru bisa bimbel sejak awal tahun saja. Aku benar-benar fokus belajar buat SBMPTN di awal tahun ini. Caranya selain bimbel, aku beli buku-buku yang menunjang. Terus, tiap istirahat pertama, aku enggak nongkrong di kantin lagi tapi di kelas untuk belajar. Setelah pulang sekolah aku les dan di rumah review lagi. Setelah UN benar-benar gencar belajarnya, setiap hari les dan di rumah pun belajar juga.

Dengan mulai belajar di awal tahun kemarin, aku ngerasa enggak semua materi ke-cover. Cara aku siasatin ini, aku suka mengajak teman-teman yang IPS untuk belajar SBM bareng. Dan kebetulan ada teman sekelas yang mau lintas jurusan juga. Materi yang aku enggak bisa, aku minta ajarin ke teman.

Untuk pemilihan jurusan pun, aku menghitung passing grade. Aku nempatin sesuai passing grade paling tinggi ke yang rendah, tapi dengan mempertimbangkan jurusan tersebut dengan passion-ku. Mempertimbangkan hasil try out juga sangat penting. Belajar sesuai jadwal itu penting, jangan malas dan harus ingat tujuan awalnya apa. Jangan terlalu diforsir juga karena badan butuh istirahat. Persiapan mental juga penting.”

Quipperian, itulah 5 kisah pejuang PTN yang bisa Quipper Blog rangkum dalam artikel kali ini. Melihat kisah kelimanya, mereka semua merupakan para pejuang SBMPTN yang berhasil meraih mimpi, pantang menyerah, dan terus berjuang siang dan malam. Belajar dari pengalaman kakak-kakak ini, semoga Quipperian semangat ya dalam meraih mimpi kalian! Jangan lupa juga, ikuti Paket Intensif SBMPTN Quipper Video biar kamu bisa menguasai semua materi-materinya. Klik di bawah ini, ya!

Penulis: Kiram

Ini Dia Tanggapan Quipperian terhadap Perubahan Sistem SBMPTN 2019