Krisis Pengajar dan Ahli, Panggilan Buat Kalian Menempuh Studi Hukum Adat!

Krisis Pengajar dan Ahli, Panggilan Buat Kalian Menempuh Studi Hukum Adat!Guys, kalian baru tahu ada studi Hukum Adat? Serius? Tenang, bisa dimaklumi kok karena memang cabang ilmu Hukum tersebut sepi peminat.

Banyak mahasiswa peminat studi Hukum, berkecenderungan memilih Hukum Pidana atau Perdata. Tak heran bila studi Hukum Adat menjadi begitu asing.

Dampaknya, para ahli dan pengajar Hukum Adat pun bisa dihitung jari lantaran melambatnya regenerasi.

Tentu kondisi itu sangat mengkhawatirkan. Kamu pasti miris bila kelak para ahli bahkan pengajar Hukum Adat justru orang asing, bule.

Kalau kalian tergerak untuk menjadi penerus Prof. Hazairin, Prof. Soepomo, dan ahli Hukum Adat lainnya, juga mau kepo apa dan bagaimana Hukum Adat, simak ulasan berikut ini:

Apa Itu Hukum Adat?

Ada beragam penjelasan mengenai definisi Hukum Adat, baik pendapat ahli berkebangsaan Eropa, maupun putra asli Indonesia.

Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven, salah satu perintis dan peletak Hukum Adat berkebangsaan Belanda, mengungkapkan bahwa Hukum Adat merupakan keseluruhan tingkah laku positif yang di satu pihak mempunyai sanksi (hukum) dan di pihak lain dalam keadaan tidak dikodifikasi (adat).

Tingkah laku positif tersebut memiliki makna hukum dan dinyatakan berlaku. Sedangkan sanksi dimaksud adalah reaksi dari pihak lain atas suatu pelanggaran terhadap hukum.

Berbeda dengan Vollenhoven, Ter Haar, salah satu murid Vollenhoven, melihat Hukum Adat berdasar keputusan-keputusan pejabat hukum. Hukum Adat, menurut Ter Haar merupakan keseluruhan peraturan di dalam keputusan pejabat hukum, yang memiliki wewenang dan pengaruh, serta pada pelaksanannya dipatuhi sepenuh hati oleh masyarakat.

Ter Haar pun beranggapan Hukum Adat dapat lahir dari keputusan masyarakat. Dia telah menyejajarkan Hukum Adat dengan Hukum Positif.

Sementara Prof.Hazairin berpendapat bahwa Hukum Adat merupakan kaidah-kaidah kesusilaan yang kebenarannya telah mendapat pengakuan umum dalam masyarakat itu yang dibuktikan dengan kepatuhannya terhadap kaidah-kaidah tersebut.

Penekanan terhadap pengakuan umum, atau keterlibatan masyarakat, menjadi kunci penting penjabaran Prof. Hazairin.

Di sisi lain, Prof. Soepomo berpendapat bahwa Hukum Adat adalah hukum yang mengatur tingkah laku individu atau manusia Indonesia dalam hubungan satu sama lain: baik itu keseluruhan kelaziman, kebiasaan dan kesusilaan yang hidup di masyarakat adat karena dianut dan dipertahankan oleh anggota masyarakat.

Bagaimana Quipperian, masih bingung? Justru di situ asyiknya belajar Hukum Adat.Terdapat silang pendapat, saling melengkapi, dan terpenting justru terjadi dialog antar-peneliti atau ahli. Lantas bagaimana cara mendaftar untuk bisa studi Hukum Adat?

Bagaimana Cara Daftarnya?

Mudah kok guys. Terutama bila ingin kuliah Hukum Adat di perguruan tinggi negeri, kalian tinggal pilih Prodi Ilmu Hukum. Tentu caranya bisa melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, atau Ujian Mandiri.

Belum Beruntung Di SNMPTN dan SBMPTN? Masih Ada Ujian Mandiri UTUL

Nah, ketika kamu lolos salah satu jalur ujian masuk PTN di atas, pada semester awal biasanya kalian akan mendapat materi dasar-dasar hukum. Semua anak Hukum pasti mendapat kuliah tersebut.

Ketika masuk ke tahap peminatan, kalian di hadapkan pada pilihan untuk melanjutkan minat untuk menekuni Hukum Perdata, Pidana, Hukum Acara, Hukum Tata Negara dan Administrasi Negara, Hukum Internasional, Hukum Tentang Kegiatan Ekonomi, Hukum Adat, dan lainnya.

Tentu kalian akan memilih Hukum Adat. Barulah kalian akan memasuki dunia baru. Berkutat dengan sumber dan materi lebih spesifik berkaitan dengan Hak Ulayat, Adat, Norma, dan Lembaga Adat.
Mau tak mau kalian akan sedikit banyak belajar Antropologi dan Humaniora. Semakin menarik bukan?

Tips Jadi Mahasiswa Kece Ilmu Hukum

Perpaduan kemahiran Ilmu Hukum, Antropologi, dan Humaniora akan membuatmu menjadi peneliti jempolan. Lalu, mengapa penting kuliah Hukum Adat?

Krisis Pengajar dan Ahli

Quipperian perlu tahu bila di masa awal Hukum Adat masuk ke dalam dunia akademis di Indonesia, para ahli kebanyakan beradarah Eropa.

Para sarjanawan Belanda memainkan peran dominan terhadap tumbuh kembang Hukum Adat di Indonesia. Ahli-ahli semisal Snouck Hurgrone, Cornelis van Vollenhoven, Ter Haar, van Dick, mengisi daftar para ahli Hukum Adat pada masa Hindia Belanda hingga masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada periode 1950-an, barulah muncul sarjana Hukum Adat bumiputera, seperti Prof. Hazairin, Prof. Soepomo, dan lainnya.

Para putera terbaik Indonesia ahli Hukum Adat kemudian bermunculan. Meramaikan khazanah studi Hukum Adat.

Nah, apakah kalian tega membiarkan kondisi khazanah Hukum Adat kembali ke masa Hindia Belanda, kebanyakan para ahli justru sarjanawan Eropa? Tentu kalian tak akan tega!

Itulah jawaban mengapa kalian penting menempuh studi Hukum Adat, agar regenerasi pengajar dan ahli terus terjaga. Jadi, masa depan Hukum Adat berada di tangan kalian, guys! Jadilah the next Prof. Hazairin!

Penulis: Rahmat Ali



Yuk, mulai siap-siap PTS! Kode promo: CERMAT Mulai belajar