Home » Quipper Campus » Campus Life » Mau Kuliah Jurusan Matematika? Simak Sejenak Sejarah Logaritma John Napier!

Mau Kuliah Jurusan Matematika? Simak Sejenak Sejarah Logaritma John Napier!

Wazzup Quipperian. Kamu sudah berteguh hati memilih jurusan Matematika? Jangan goyah guys! Pilihanmu itu anti mainstream. Keren! Matematika tak melulu mengkaji rumus-rumus dan angka-angka. Sejarah dapat pula membantu kalian memahami lebih jauh sifat dan peran teori.

Kalau Quipperian masih menganggap Matematika sulit, bisa jadi cara belajar kalian sangat membosankan. Coba terosobosan baru anti suntuk, belajar via online.

Kamu Masih Takut dengan Matematika? Kamu hanya Butuh Les Matematika Online, kok!

Matematika mungkin sulit, dan makin rumit bila sama sekali tak dioperasikan. Justru Matematika hadir untuk memperteguh peradaban manusia, berguna pada niaga, pertanian, bangunan, dan bermacam kegiatan keseharian.

Begitu pula Logaritma. Bila tak memahami sejarah, mungkin kita beranggapan Logaritma membuat rumit perhitungan dengan serangkaian bilangan berpangkat.

Penting bagi kalian ngepoin kelahiran gagasan Logaritma John Napier untuk tahu bagaimana kehadiran Logaritma justru untuk tujuan meringkas atau memotong waktu perhitungan nominal besar.

So guys, mari simak buah pikir John Napier, perintis Logaritma!

Baron Scotland

John Napier bukan profesional di bidang Matematika. Dia, 8th Laid of Merchiston, merupakan baron juga tuan tanah. Putra pasangan Sir. Archibald Napier, bangsawan Skotlandia, dan Janet Bothwell, lahir di Puri Merchiston, Edinburgh, Skotlandia pada tahun 1550.

John Napier begitu gandrung terhadap bidang kerohanian. Dia pemeluk Kristen Protestan nan taat. Pada usia 13 tahun, John Napier menempuh studi teologi pada universitas St. Andrew. Meski tak menanamatkan studi, ketertarikannya terhadap teologi tak pernah surut.

Dia gemar menulis pandangan keagamaannya terutama berkait kontroversi politik berbalut agama di Britania Raya berkait suksesi takhta kerajaan Inggris. John menelurkan buku bertajuk Plaine Discovery of the Whole Revelation of Saint John (1593), memuat penjelasan tentang kebangkitan Santo Johanes, sekaligus begitu sengit menyudutkan gereja Katholik dan mengkritik Raja Skotlandia, James VI.

John menggemari berbagai hal, kemudian mengujinya pada serangkaian pengujian, tak terbatas pada teologi. Dia, sebagai tuan tanah, memiliki minat terhadap pertanian dan mencari cara menambah kesuburan tanah dengan memberi pupuk berupa garam.

Dia pula tertarik pada astronomi, militer, dan salah satu aspek pada Matematika, berhubungan dengan perhitungan dan trigonometri.

Logaritma

Perjumpaan John Napier pada Logaritma terbilang unik. Mula-mula dia mengembangkan minat untuk mempersingkat waktu perhitungan, terutama perkalian dan pembagian nominal besar.

Dia kemudian berjumpa karya aritmatika dan aljabar Michael Stifel (1487-1567) bertajuk Arithmetica Integra (1544). Dari karya tersebut, dia bersua kemungkinan menggunakan angka pangkat dua untuk menyederhanakan perhitungan, namun selisih terlalu jauh dan cara interpolasi tak memberikan hasil akurat.

Bertahun-tahun, sejak 1594, percobaan John Napier tak membuahkan hasil gemilang. Di tengah kebuntuan, dia bertemu Dr. John Craig, seorang dokter cum ahli astronomi berkebangsaan Denmark. Dr. Craig merupakan dokter Raja James VI Skotlandia.

Pada perjalanan laut menuju Kopenhagen, cuaca buruk membuat kapal Dr. Carig terpaksa berlabuh di Pulau Hveen, tak jauh dari Kopenhagen, lokasi observatorium astronomi Tycho Brahe. Di sana, Dr. Craig berjumpa John Napier. Mereka berdiskusi mengenai penelitian Napier. Dr. Craig memberi masuk penting mengenai Prosthaphaeresis, istilah Yunani untuk pembagian dan pengurangan mengacu pada trigonometri.

Buah perbincangan tersebut, menghasilkan pertanyaan besar nan penting bagi kelanjutan penelitian Napier. Bagaimana tentang pembagian, ekponensial, dan akar?  

Dengan menggunakan progresi geometrik dan integral secara berbarengan, John Napier kemudian menerbitkan karya Logaritma pada tahun 1614 bertajuk Mirifici Logarithmorum Canonis Descriptio (A Description of the Wonderful Table of Logarithms).

Napier menggunakan bilangan tertentu mendekati angka 1, berupa 1 -107 atau 0, 9999999. Progresi pangkat tersebut terus meningkat sampai membuahkan hasil mendekati, bahkan sangat sedikit selisihnya. Demi menghindari terjadi bilangan desimal dikalikan 107.

N = 107 (1 – 1/107) L

L merupakan Logaritma Napier, sehingga Logaritma 107 sama dengan 0.

107 (1 – 1/107) = 0, 9999999.

Kerangka Kinematik

Dia beroleh penemuan metode perkalian bilangan dengan menambah Logaritma kemudian menggunakan invers Logaritma guna memperoleh hasil akhir. Dia menggunakan kerangka kinematik, membayangkan dua partikel bersamaan dengan dua garis sejajar. Baris pertama merupakan garis panjang tak terbatas dan baris kedua garis panjang terbatas.

A___________________P____________B___________________ 


C_______________________D__________Q_______________________E

Garis AB merupakan setengah garis CE. Kalian imajinasikan titik P bertolak pada titik A, berjalan melewati garis AB dengan kecepatan kian menurun, berproporsi sebanding jarak titik B. Pada saat berbarengan titik Q bergerak dari garis CE, bergerak sama selaik titik P.

John Napier membubuhkan variabel jarak CQ menjadi Logaritma, dari jarak PB. Dia memang tak memiliki konsep Logaritma dasar sebagimana kita kenal saat ini, melainkan menggunakan konsep geometri.

Tips Menghapal Rumus Matematika dengan Cepat dan Tepat!

Napier`s Bones

Tak berhenti sampai di situ, Napier kemudian menggagas dan membuat sebuah piranti, berupa abakus, untuk mempermudah perhitungan nominal besar, juga mampu operasi perkalian dan pembagian. Penemuan spektakuler jauh sebelum kalkulator.

Dia mengambil namanya sendiri untuk menjuluki penemuannya, Napier`s Bones. Seluruh proses rak cipta tersebut kemudian diperkenalkan pada sebuah buku bertajuk Rabdologia, pada 1617.Rabdologia berasal dari bahasa Yunani rhabdos berarti batang dan logia berarti belajar.

Napier merangkai piranti penghitungannya menggunakan sebuah papan berbahan tulang atau gading bertepi, berteman satu set batang memuat angka-angka di dalamnya. Terdapat 9 bilah batang. Tiap batang ada 9 kotak, dan masing-masing kotak terdua 2 angka.

Quipperian, mari kita coba pergunakan. Misalkan untuk perhitungan 7 x 4896. Pertama, kalian haru menaruh tulang 4, 8, 9, 6.

Pada deret 7, kalian tambahkan angka-angka bermula dari kanan layar menuju kiri. Kalian haru menghitung 2, 3+4, 6+6, 8+5, 2. Kalian akan menemui hasil 34272. Jadi, 7 x 4896 = 34272. Kece banget kan guys!

So, kalian pasti dapat pengetahuan baru dan cara asyik mempelajari Matematika kan. Quipperian memang harus mengerti sejarah sebuah teori atau gagasan lahir, sebab Matematika pun tak sekadar berkutat pada rumus, angka-angka dan perhitungan rumit. Matematika bisa jadi menggembirakan bila kalian tahu cara asyik memperlajarinya. Sekali lagi, jangan pernah takut dan kesulitan belajar Matematika!

Penulis: Rahmat Ali

Lainya untuk Anda