Yuk Belajar Kesalahan Sintaksis dalam Morfologi Bahasa untuk Bekal Kuliah di Jurusan Sastra!

Yuk Belajar Kesalahan Sintaksis dalam Morfologi untuk Bekal Kuliah di Jurusan Sastra!

Quipperian! Bahasa bukanlah sekadar untaian kata, karena bahasa adalah kumpulan kata yang dirangkai secara apik sehingga bermakna. Jadi, untaian kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat harus memenuhi kaidah sintaktik (tata bahasa antara kata dengan tuturan)  dan semantik (makna bahasa) karena keduanya tidak dapat dipisahkan dalam sebuah kalimat.

Pentingnya Kaitan Morfologis dengan Sintaksis

Dengan kata lain, kata dirangkai menjadi kumpulan yang disebut frasa yang pada gilirannya secara lebih luas lagi dirangkai menjadi kalimat. Nah, untuk merangkai kalimat yang secara gramatikal (tata bahasa dan logika bahasa) benar, diperlukan kaidah.  

Kaidah inilah yang disebut dengan sintaksis. Keterampilan merangkai kata, baik dalam tingkat morfologis maupun sintaksis, sangat diperlukan dalam keterampilan menulis sebuah komposisi seperti esei, artikel, dan karya ilmiah lainnya. 

Menulis merupakan keterampilan yang dapat digunakan untuk mengungkapkan perasaan dan juga gagasan. Dengan demikian, keterampilan menulis akan bergantung pada penyusunan kalimat yang secara sintaksis baik dan benar.

Selain itu, bagaimana menyusun gagasan tersebut sehingga menjadi sebuah tulisan yang menggambarkan pemikiran tentang sesuatu yang ingin diungkapkan juga merupakan hal yang penting. Sebuah tulisan yang baik perlu memperhatikan kaidah-kaidah, baik kaidah semantik maupun sintaktik.

Bosan Ketemu Angka lagi? Ini Jurusan Tanpa Mata Kuliah Matematika

Kepentingan Morfologis Sintaksis dalam Sebuah Tulisan

Sekaitan dengan hal tersebut di atas, Hughey dkk. (1983) menegaskan bahwa “Rules of semantics and syntax govern the processing of spoken and writen discourse.” Pernyataan ini menunjukkan pentingnya hubungan antara makna dengan sintaksis.

Agar sebuah tulisan itu komunikatif antara penulis dengan pembacanya, tingkat keterpahaman, pengetahuan umum, dan kesesuaian harapan antara penulis dan pembacanya harus terjadi. Kesalahan pada sintaksis dapat menyebabkan terputusnya komunikasi antara penulis dengan pembacanya.

Dengan demikian, menulis sebuah komposisi, apakah tulisan karya ilmiah maupun nonkarya ilmiah memerlukan kemampuan mengekspresikan gagasan dalam kalimat yang mengikuti kaidah sintaksis dan dalam mengorganisasikan kalimat-kalimat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang terpadu secara koheren.

Di sisi lain, kemampuan mengorganisasikan kalimat juga tergantung pada kemampuan sintaksis. Kemampuan menyusun kalimat yang secara sintaksis baik dan benar sangat diperlukan dalam keterampilan menulis.

Sulitnya menulis sebuah komposisi kemungkinana besar disebabkan oleh karena kemampuan ini merupakan keterampilan yang kompleks yang memerlukan keterampilan berbahasa tingkat tinggi lainnya.

Read (1978), misalnya, berpendapat bahwa keterampilan mengadaptasi, memanipulasi, memilah, mengoreksi, dan menilai bahasa tampaknya memegang peranan penting dalam tiga proses, yaitu belajar membaca dan menulis, belajar bahasa asing, dan merespon atas harapan sosial. Hal lain yang diperlukan seorang penulis adalah pengetahuan dan keterampilan menyusun kalimat secara eksplisit.

Contoh Kesalahan Sintakis Morfologis

Kesalahan sintaksis sering ditemukan dalam dalam tulisan yang berbahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari seperti pada media cetak yaitu koran dan majalah dan juga pada media elektronik seperti dalam media tv/online/radio. 

Ketiadaan subyek yang disebabkan oleh subyek kalimatnya merupapakan frase preposisi sering ditemukan dalam media cetak dan dalam media elektronik tersebut. Kalimat seperti “Dengan adanya krisis moneter yang berkepanjangan menyebabkan angka inflasi yang terus meningkat sejak tahun 1997” seringkali terdengar dalam berita atau terbaca dalam koran atau majalah.

Kalimat seperti ini tidak benar karena subyeknya adalah frase preposisi. Dengan demikian, frase “Dengan adanya krisis moneter yang berkepanjangan” tidak bisa dijadikan subyek kecuali apabila kata “Dengan”-nya dihilangkan. Kesalahan seperti ini sering tidak disadari oleh para penggunanya. Yang paling menyedihkan, kesalahan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat awam tetapi juga oleh masyarakat akademik.

Harian Umum Pikiran Rakyat tanggal 11 Agustus 1999 dalam salah satu rubriknya memuat sebuah kalimat, “Darah, jiwa, raga, dan harta telah menyatu pada bumi Indonesia, menjadi saksi berdirinya negara Republik Indonesia.”

Jika dilihat secara sepintas kalimat ini sepertinya benar, tetapi bila dilihat secara cermat kalimat tersebut tidak benar karena predikat “menjadi” belum memiliki subyek. Seharusnya kalimat tersebut diperbaiki dengan menambah kata “yang” antara kata “harta” dan “telah” serta menghilangkan koma yang muncul setelah kata “Indonesia”

Bosan Ketemu Angka lagi? Ini Jurusan Tanpa Mata Kuliah Matematika

Dengan demikian, kalimat tersebut akan berbunyi “Darah, jiwa, raga, dan harta yang telah menyatu pada bumi Indonesia menjadi saksi berdirinya negara Republik Indonesia.”

Dalam karya ilmiah mahasiswa juga sering ditemukan kesalahan serupa seperti pada kalimat “Berdasarkan paparan di atas mengungkapkan bahwa….”  Kalimat ini tidak memiliki subyek. Seharusnya kalimat ini berbunyi: “Berdasarkan paparan di atas penulis mengungkapkan bahwa….”  Dengan demikian, yang menjadi subyek dari kalimat ini adalah kata penulis.

Kesalahan seperti itu sering juga muncul pada skripsi yang berbahasa Inggris, seperti kalimat berikut ini yang tidak memiliki subyek. Kalimat tersebut berbunyi With watching television, especially English film, can exercise and learn,….” Ada dua kesalahan pada kelimat ini: pertama kalimat ini menggunakan preposisi yang salah sebelum frase watching televison, dan yang kedua tidak memiliki subyek.

Agar kalimat ini menjadi lengkap dan memiliki subyek dan predikat yang jelas harus berbunyi: “By watching television especially English film a language learner can exercise and learn,….” Kalimat seperti itu, yaitu yang tidak memiliki subyek banyak ditemukan pada tulisan mahasiswa-mahasiswa yang kemahiran berbahasanya sedang-sedang saja.

Kesalahan sintaksis ini perlu diperhatikan karena akan mengurangi kemulusan aliran gagasan yang disampaikan. Kesalahan sintaksis juga akan menyita waktu menulis hanya untuk membetulkan kalimat saja.

Penulis: Sritopia



DISKON s/d Rp600.000. Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang