Kepoin 5 Fakta Unik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia!

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Dirgahayu ke-73 Republik Indonesia!

Di peringatan hari kemerdekaan Indonesia, Quipperian tentu bisa mengisinya dengan beragam kegiatan positif. Salah satunya, belajar memahami peristiwa sejarah di seputar Proklamasi. Mengapa?

Tentu kalian belum banyak mengetahui fakta-fakta unik di detik-detik menjelang hingga beberapa hari sesudah Indonesia merdeka. Kamu bisa kebingungan bahkan tertawa ketika tahu fakta-fakta unik tersebut. Penasaran? Masa sih? Yuk simak fakta unik Proklamasi berikut ini!

1. Soekarno Malaria

Fakta unik Proklamasi yang pertama bercerita seputar kesehatan Soekarno. Seusai perundingan dan perumusan naskah Proklamasi di kediaman Laksamana Maeda rampung, Soekarno bergegas pulang. Ia tiba di rumah Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, sekira pukul 05.00 WIB.

Istirnya, Fatmawati, melihat gelagat aneh sang suami. Bung Karno, seturut istrinya, tampak lelah dan pucat, serta sering keluar-masuk kamar.

“Badanku tidak enak. Aku sakit,” kata Soekarno kepada Fatmawati saat memasuki kamar tidur, seperti dikutip Syamsu Hadi pada Fatmawati Soekarno, Ibu Negara.

Aktivitas Soekarno terbilang padat. Sepulang dari Rengasdengklok, Bung Besar bersama sejumlah tokoh berkumpul di kediaman Laksamana Maeda sedari malam tanggal 16 hingga jelang subuh tanggal 17 Agustus 1945.

Kondisi tersebut bisa jadi sangat fatal. Apalagi bila sakitnya bertambah parah dan tak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Soekarno telah dijadwalkan membaca Proklmasi Kemerdekan pada pagi harinya.

Sekira pukul 08.00, Dokter Soeharto menyambangi. Ia langsung memeriksa Soekarno. Tubuh Bung Karno panas dan menggigil, terindikasi terjangkit malaria. Dokter pun memberi obat-obatan.

Penyakit malaria bukan kali pertama menjangkitnya. Soekarno semasa kecil dan saat di pengasingan pernah menderita malaria. Bahkan, lantaran sering sakit-sakitan dan terkena malaria di masa kecilnya, nama Kusno lantas diganti menjadi Soekarno.

Kehadiran Soekarno pun telah dinanti para pejuang. Mereka telah berkumpul di halaman muka rumahnya. Tak lama Soekarno pun keluar rumah. Di teras, Soekarno didampingi Hatta lantas membaca Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia Merdeka!

2. Bukan Mikrofon Jepang

Fakta unik Proklamasi selanjutnya adalah tentang mikrofon. Soekarno membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia menggunakan mikrofon agar para hadirin mendengar secara saksama. Selain naskah dan foto, mikrofon pun menjadi salah satu materi penting sejarah Proklamasi.

Dari mana mikrofon tersebut berasal?

Mendapat mikrofon di tahun 1945 bukan perkara mudah, Quipperian. Tentu kalau sekarang jauh lebih mudah, bahkan untuk sekadar karaoke di rumah.

Soekarno pernah menyinggung asal-usul mikrofon tersebut. “Aku berjalan ke pengeras suara kecil hasil curian dari stasiun radio Jepang dan dengan singkat mengucapkan Proklamasi itu,” kata Soekarno sebagaimana termuat dalam autobiografinya berjudul, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Meski begitu, menurut laporan historia.id https://historia.id/modern/articles/mencari-mikrofon-Proklamasi-PyJb4, mikrofon tersebut bukan curian dari stasiun radio Jepang.

Sudiro, menampik asal-usul mikrofon tersebut. Mikrofon tersebut, menurutnya sebagaimana tercantum pada Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945, merupakan kepunyaan Gunawan, pemilik Radio Satriya.

Gunawan, lanjut Sudiro, membuat sendiri mikrofon tersebut, baik corong maupun amplifiernya. “Semuanya itu adalah hasil kecerdasan otak dan ketrampilan tangan seorang Indonesia yang bernama Gunawan itu,” kata Sudiro.

3. Menu Sahur Proklamasi

Quipperian jangan lupa, saat persiapan hingga berlangsungnya Proklamasi, di Indonesia kala itu bertepatan pula dengan peringatan bulan ramadan.

Sama seperti umat Islam di masa kini, para Founding Fathers kita pun ikut menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Malam hari, 16 Agustus 1945, sejumlah tokoh seperti Soekarno, Hatta, Achmad Subardjo, dan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), termasuk para pemuda hadir di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1 (kini).

Mereka hendak merumuskan teks Proklamasi. Malam itu merupakan minggu kedua bulan ramadan, atau hari ke-8 puasa.

“Waktu itu bulan puasa. Sebelum pulang saya masih dapat makan sahur di rumah Admiral Maeda,” ungkap Hatta sebagaimana tersaji pada Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945.

Quipperian ingin menebak apa menu sahur di rumah seorang Jepang saat itu?

Ya, bukan sashimi, onigiri, atau ramen. Hatta kala itu menyantap roti, telur, dan ikan sarden sebagai menu sahur. Beberapa tokoh muslim lainnya pun ikut bersantap sahur sebelum pulang ke rumah masing-masing.

4. Naskah Proklamasi Dibuang

Malam perumusan teks Proklamasi diwarnai beberapa kejadian. Momen itu sangat menegangkan lho, Quipperian.

Soekarno, Hatta, dan Subardjo berkumpul untuk membahas rancangan teks Proklamasi. Mereka berdiskusi dan berbagi pendapat. Soekarno lantas menulis kata-kata tersebut di secarik kertas.

Setelah selesai, naskah tulisan tangan Soekarno lantas dibacakan di hadapan hadirin, termasuk para pemuda. Beberapa perubahan pun terjadi, terutama untuk tak semua hadirin menandatangani naskah Proklamasi tersebut.

Sukarni mengusulkan agar Soekarno dan Hatta serta atas nama bangsa Indonesia dibubuhkan di naskah tersebut. Usul tersebut diterima.

Naskah tersebut lantas diberikan kepada Sayuti Melik untuk diketik. Tak jauh darinya, BM Diah, melihat Sayuti Melik membuang naskah tulisan tangan Soekarno ke tempat sampah setelah berhasil diketik.

BM Diah lalu mengambil dan menyimpannya selama puluhan tahun. Pada tahun 1992, naskah Proklamasi tulisan tangan Soekarno tersebut lantas diserahkan BM Diah kepada Presiden Soeharto.

5. Soekarno Enggan Tanpa Hatta

Fakta unik Proklamasi yang terakhir, meski telah sepakat untuk melaksanakan pembacaan Proklamasi pada pukul 10.00 pagi, para pejuang sudah beramai-ramai mendatangi rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, sedari tiga jam sebelum acara.

”Jam tujuh sekitar 100 orang atau lebih berkumpul di muka jendelaku,” kata Bung Karno seperti dicatat Cindy Adams. Tambah siang, orang-orang tambah ramai. Bung Karno memperkirakan terdapat sekitar 500 orang telah berada di beranda rumahnya.

Mereka mulai mendesak Bung Karno agar sesegera mungkin membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia. ”Sekarang, Bung. Sekarang! Nyatakanlah sekarang! Nyatakanlah sekarang!” teriak mereka, sebagaimana ditulis Alwi Shahab di Koran Republika, 20 Agustus 2003.

Bung Karno belum mau mengikuti kemauan massa. Ia setia menunggu Hatta hadir. ”Hatta tidak ada. Saya tidak mau mengucapkan Proklamasi kalau Hatta tidak ada.” katanya.

Soekarno, menurut Alwi Shahab, memerlukan kehadiran Hatta untuk mendampinginya membacakan Proklamasi.”Karena aku orang Jawa dan dia orang Sumatra. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra.”

Tak berapa lama, Hatta pun tiba. Pembacaan Proklamasi pun berlangsung.

Nah, Quipperian, bagaimana fakta unik Proklamasi di atas? Keren banget, ya! Jangan lupa untuk terus mempelajari sejarah agar kamu enggak gampang lupa, ya. Sekarang, yuk siap-siap menyambut Kemerdekaab Indonesia yang ke-73!

Sumber foto:

Penulis: Rahmat Ali



DISKON s/d Rp600.000. Kode promo: CERMAT Daftar Sekarang