Sayuti Melik: Tugas dan Peran Dibalik Kemerdekaan Indonesia

Sayuti Melik

Hai, Quipperian!

Quipperian, sekarang kita sudah memasuki bulan Agustus nih. Tahu kan artinya apa? Iya, berarti kita sudah memasuki HUT Kemerdekaan RI ke-75. Akan banyak hiasan bendera merah putih di sepanjang jalan dan biasanya banyak perlombaan yang diadakan. Tapi berhubung situasi lagi pandemik seperti ini, nampaknya enggak bisa kita lakukan dulu ya, guys

Eits, jangan sedih dulu, kamu tetap bisa turut serta merayakannya, kok. Salah satunya dengan menambah kecintaan kita sama Indonesia. 

Quipper Blog kali ini mau ngajakin kamu flashback dan ingat-ingat lagi gimana sih perjuangan para pahlawan buat memerdekakan bangsa ini. Sebenarnya, ada banyak tokoh pahlawan yang bisa kamu jadikan inspirasi, mengingat betapa besarnya pengorbanan mereka untuk bangsa ini. Salah satu tokoh terkenal yang bisa menginspirasi kita adalah Pak Sayuti Melik, sang juru ketik.

Berkat pengetikan beliaulah, Proklamasi bisa dibacakan dan negara kita bisa merdeka. Tapi, ternyata enggak cuman itu lho peran dan jasa beliau buat bangsa ini. Lalu, apa aja ya yang sudah beliau perjuangkan untuk bangsa Indonesia? Supaya kamu lebih kenal sama sosoknya, mending kuy langsung simak biografi Sayuti Melik di bawah ini.

Siapa Sayuti Melik?

Sayuti Melik adalah pemuda inspiratif yang lahir dengan nama Muhammad Ibnu Sayuti pada tanggal 22 November 1908 di Sleman. Ayahnya bernama Partoprawito yang merupakan Kepala Desa di Sleman dan Ibunya bernama Sumilah. 

Istrinya bernama Soerastri Karma Trimurti yang merupakan seorang aktivis perempuan dan wartawati. Ia dan Sayuti dikenal sama-sama berani lho dalam menentang para kolonial.

Ibarat peribahasa di mana buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sifat patriotisme dalam diri Sayuti Melik diwarisi dari ayahnya. Jadi kala itu, ayahnya juga berani menentang pemerintah kolonial karena mereka seenaknya menanam paksa di sawah milik rakyat. 

Ayahnya juga seorang pokrol yang berperan selayaknya pengacara bagi para petani yang tertindas oleh pemerintah kolonial dan perusahaan-perusahaan milik Eropa.

Pendidikan 

Sayuti kecil memulai pendidikannya di Sekolah Ongko Loro atau yang kita kenal sekarang dengan sekolah dasar di Srowolan, Solo. Lalu, setelah 4 tahun, beliau melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta. Tahun 1920, ia masuk ke sekolah guru di Solo dan di situlah ia mulai belajar tentang kebangsaan dari guru Belanda-nya yang bernama H.A Zurink.

Quipperian, masa muda memanglah masa keemasan karena bisa dibilang di masa itu kita lagi kepo-keponya dengan berbagai hal. Sama juga dengan Bapak Sayuti Melik, nih. Di usia belasan tahun, ia sudah tertarik belajar tentang komunisme, Marxisme, sosialisme, dan sebagainya. Ia sudah tertarik dengan majalah Islam Bergerak yang merupakan pimpinan dari K.H Misbach di Kauman, Solo.

Awalnya sih enggak ada pelarangan soal ideologi-ideologi tersebut, tetapi karena penulisan Sayuti dimuat di surat-surat kabar dan memunculkan pergerakan, Belanda sempat menahannya di usia 16 tahun.

Peran dan Sejarah Perjuangan Sayuti Melik

Peran Sayuti Melik mengusir penjajah di negeri kita tercinta, enggak main-main, Quipperian. Selain berperan aktif sebagai aktivis, tercatat dalam sejarah Indonesia Sayuti Melik bertugas sebagai penulis naskah Proklamasi Kemerdekaan. Teks inilah yang jadi penanda bahwa Indonesia telah terbebas dari belenggu penjajahan. 

Biografi Sayuti Melik dan perjalanan hidupnya diwarnai oleh beberapa kali penangkapan. Tahun 1926, ia ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI lalu dibuang ke Boven Digul. Lalu kembali ditangkap oleh Inggris dan di penjara selama setahun. 

Setelah diusir, tertangkap lagi dan dibawa ke Jakarta pada tahun 1937. Beberapa kali penahanan, enggak membuat semangatnya luntur dalam melawan para penjajah.

Dari hobi menulisnya, Sayuti dan istrinya mendirikan Koran Pesat di Semarang yang dikerjakan sendiri mulai dari bagian redaksi, percetakan hingga penjualan. Tapi mereka juga enggak terlepas dari pengasingan karena tulisan mereka yang kritis. Hal ini menyebabkan mereka harus bergantian keluar masuk pengasingan dan penjara.

Hingga akhirnya saat PUTERA didirikan, dengan bantuan dari Bung Karno, Sayuti dan istrinya baru bisa kembali lagi bersatu. Selain menggeluti bidang jurnalistik, dalam biografi Sayuti Melik juga tercatat bahwa dirinya merupakan anggota aktif dari PPKI. 

Sayuti Melik termasuk golongan tua, yakni golongan yang sangat mendesak Bung Karno untuk segera menyatakan Proklamasi. Untuk itu, di tanggal 16 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta diculik dan diasingkan ke Rengasdengklok. Tapi, penculikan ini dilakukan untuk meyakinkan mereka agar segera menyatakan kemerdekaan Indonesia, karena waktu itu Jepang sedang kalah dari Sekutu.

Setelah adanya kesepakatan, barulah naskah Proklamasi dirumuskan oleh Bung Karno dan Bung Hatta di rumah Laksamana Muda Maeda. Biografi Sayuti Melik mencatatkan bahwa dirinya dan Sukarni menjadi saksi dan membantu dalam merumuskan teks Proklamasi.

Baca juga: Ini Dia 5 Tokoh Penting dalam Kemerdekaan RI, Kamu Tahu?

Proses Perumusan Teks Proklamasi

Tanggal 16 Agustus 1945 penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Subardjo, Sukarni, dan Sayuti Melik. Bung Karno menulis, sementara Bung Hatta dan Subardjo mendiktekan kalimat Proklamasi. Kalimat pertama merupakan ide dari Ahmad Soebardjo, sementara kalimat terakhir merupakan pemikiran dari Bung Hatta. 

Sayuti Melik adalah sekretaris dari Bung Karno waktu itu, sebab ialah yang mengetik teks Proklamasi setelah disusun. Tetapi, ada beberapa perubahan yang dibuatnya, seperti:

  • Kalimat wakil-wakil bangsa Indonesia diganti menjadi atas nama bangsa Indonesia.
  • Tempoh diubah jadi tempo.
  • Adanya penambahan nama Soekarno-Hatta di bagian bawah.
  • Lalu Djakarta, 18-8-05 diubah jadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.

Sementara teks Proklamasi sedang dirumuskan, di ruang tengah dan di serambi rumah para anggota PPKI dan beberapa pemuda sudah menunggu teks tersebut dibacakan.

Pada pagi harinya tepat pukul 10.00 di kediaman Soekarno yaitu Pegangsaan Timur 56, Proklamasi dibacakan. Atas usulan dari Sukarni, Bung Karno dan Hatta menandatangani teks Proklamasi. Pembacaan tersebut juga dihadiri oleh beberapa tokoh seperti Wilopo, Soewirjo, Tabrani, Gaffar Pringgodigdo, dan Trimurti.

Peran Sayuti Melik Setelah Kemerdekaan

Belum genap setahun pasca kemerdekaan, Sayuti Melik seakan berubah 360 derajat. Tadinya ia sangat tertarik dengan komunisme justru jadi orang yang menentang gagasan tentang Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) yang digagas oleh Bung Karno. Tulisan-tulisannya merujuk pada kritikan pedas tentang PKI yang dianggap sebagai penjilat penguasa. 

Meski memiliki peran besar pada proses kemerdekaan kita, menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), serta sangat dekat dengan Bung Karno, ia tetap merasa belum merdeka. 

Atas perintah Amir Sjarifuddin yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan, Sayuti Melik ditangkap dengan tuduhan terlibat dengan kasus makar yang pertama kali terjadi di Indonesia pada tanggal 3 Juli 1946.

Tapi karena enggak terbukti bersalah, ia dibebaskan dari dakwaan itu dan turut melawan Belanda yang pada waktu itu ingin kembali berkuasa di Indonesia. Tahun 1948, Sayuti kembali ditangkap Belanda dan ditahan di Ambarawa. Dia baru dibebaskan di tahun 1950 ketika penyerahan kedaulatan dilakukan.

Ketika masa orde baru atau di masa pemerintahan Soeharto, nama Sayuti Melik kembali naik karena dirinya bergabung dengan partai penguasa yaitu Golkar. Quipperian tahu enggak, pada tahun 1971 dan 1977 bahkan Sayuti berhasil menduduki anggota MPR/DPR. Hidup nyamannya baru dirasakan di masa orde baru ini setelah di masa mudanya ia harus keluar masuk penjara.

Nah, tepat di tanggal 27 Mei 1989 ketika berusia 80 tahun, Sayuti Melik wafat di Jakarta. Sampai wafat, Sayuti Melik tetap mengabdi untuk bangsa ini. Soeharto yang waktu itu menjabat jadi presiden ikut melayat sosok yang sangat berpengaruh itu dalam kemerdekaan Indonesia. 

Quipperian, itulah biografi Sayuti Melik serta gimana pengorbanannya dalam memerdekakan bangsa ini. Dari kisah hidupnya, kita belajar satu hal bahwa kamu bisa turut memajukan Indonesia melalui bidang yang kamu sukai. 

Belajar dengan giat misalnya, kamu bisa turut lho membantu meningkatkan bangsa Indonesia melalui ilmu pengetahuan yang kamu miliki. Kamu bisa mendapatkan pengetahuan menarik lainnya dengan mengakses Quipper Video di sini secara gratis!

Baca juga: Kepoin 5 Fakta Unik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia!

 



Konsultasi langsung dengan tutor di Quipper Video Masterclass. DISKON, kode promo: CERMAT Daftar Sekarang