Kerajaan Sunda – Peninggalan dan Sejarah Lengkapnya

Halo, Quiperrian!

Pernah dengar kisah tentang Kerajaan Sunda? Kerajaan ini adalah salah satu kerajaan di nusantara yang punya jejak perjuangan yang sangat panjang. Bahkan, para rajanya tersebar dari berbagai macam kerajaan lain, lho

Hmm, penasaran banget kan, gimana kisah serunya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini ya, Quipperian! 

Sejarah Kerajaan Sunda

Wilayah Kerajaan Bersatu Sunda dan Galuh. Sumber: id.wikipedia.org

Merupakan kerajaan bercorak Hindu dan Budha yang pernah berdiri pada tahun 932-1579 Masehi. Letak geografis kerajaan berada di Barat pulau Jawa. 

Namun, menurut naskah Wangsakerta, kerajaan ini berdiri untuk menggantikan kerajaan Tarumanegara. Menurut sejarah yang beredar, Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan bagian barat Jawa Tengah merupakan daerah Kerajaam Sunda di masa lampau.

Sementara menurut Naskah Kuno Primer Bujangga Manik, batas kerajaan Sunda ini berada di sebelah timur Provinsi Jawa Tengah yaitu Ci Pamali (Sungai Pamali) atau yang dikenal sekarang Kali Brebes dan Ci Serayu (Kali Serayu).

Pendiri dan Raja Kerajaan Sunda

Candi Hindu Cangkuang, tempat pemujaan Siwa, dari abad ke-8 Kerajaan Galuh. Sumber: en.wikipedia.org

Menurut Naskah Wangsakerta, sebelum berdiri menjadi kerajaan mandiri, Kerajaan Sunda berdiri menggantikan Tarumanagara. Raja Tarumanagara sendiri yang terakhir bernama Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi. Ia memerintah selama 3 tahun yaitu tahun 666-669 M. 

Ia menikah dengan Dewi Ganggasari yang berasal dari Indraprahasta. Pernikahannya dikaruniai dua anak perempuan yang bernama Dewi Manasih dan Sobakancana. 

Dewi Manasih menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sementara Sobakanca menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayas, pendiri kerajaan Sriwijaya.

Setelah Linggawarman ini wafat, kekuasaan kerajaan turun kepada menantunya, Tarusbawa. Quipperrian, hal ini membuat penguasa Galuh yang bernama Wretikandayun memberontak dan akhirnya melepas diri dari Tarumanagara.

Tarusbawa kemudian memindahkan kekuasaan ke Sunda, di hulu Sungai Pakancilan yang saat ini dekat dengan Bogor. Sedangkan Tarumanagara berubah tahtanya menjadi di bawah kekuasaan kerajaan Sunda. Beliau dinobatkan menjadi raja Sunda pada tahun 669 M. 

Setelah beliau wafat, Sanjaya berhasil menggabungkan Kerajaan Sunda dengan Galuh. Sanjaya sendiri merupakan cicit dari pendiri Kerajaan Galuh dan cucu dari Ratu Shima yang merupakan pemimpin Kerajaan Kalingga. 

Ia kemudian memimpin Kalingga dan mendirikan Kerajaan Mataram Kuno sekaligus Wangsa Sanjaya. Karena harus bertakhta di Kalingga, Sanjaya memberi kekuasaan Sunda pada puteranya yang bernama Rakeyan Panaraban. Namun, Sunda Galuh justru terpecah kembali. Hingga Panaraban akhirnya membagi kekuasaan pada kedua puteranya. 

Sang Manarah memegang Galuh dan Sang Bangga memegang Sunda. Berabad-abad lamanya, kedua kerajaan menjalani kehidupannya masing-masing. 

Hingga akhirnya kedua kerajaan bersatu kembali, berkat pernikahan Jayadewata yang mendapat gelar Sri Baduga Maharaja dari Galuh dengan Ambetkasih dari Sunda. Di bawah kepemimpinan Jayadewata, Kerajaan Sunda dan Galuh dikenal dengan Kerajaan Pajajaran (Pakuan Pajajaran).

Namun, sayangnya di tahun 1579, Kerajaan Pakuan Pajajaran harus mengalami masa keruntuhan. Kerajaan ini diserang oleh Kesultanan Banten yang membuat kerajaan ini harus mengakhiri riwayat panjang perjuangannya.

Peninggalan dan Prasasti Kerajaan Sunda

Babad Pajajaran. Sumber: id.wikipedia.org

Kerajaan Sunda memiliki sejumlah prasasti dan situs yang ditemukan baik dalam keadaan masih maupun rusak. Bukti-bukti inilah yang menjadi dasar jejak kerajaan mulai dari wilayah kerajaan, ibu kota, hingga raja-rajanya. Berikut adalah jejak peninggalan Kerajaan Sunda di masa lalu, yaitu:

  1. Babad Pajajaran
  2. Carita Waruga Guru
  3. Carita Parahiangan
  4. Kitab cerita Kidung Sundayana
  5. Berita asing dari Tome Pires tahun 1513
  6. Berita asing dari Pigafetta tahun 1522
  7. Prasasti Sanghyang Tapak di Sukabumi
  8. Prasasti Batu Tulis di Bogor
  9. Prasasti Horren
  10. Prasasti Rakyan Juru Pangambat
  11. Prasasti Kawali di Ciamis
  12. Prasasti Astanagede
  13. Tugu Perjanjian Portugis (padrao)
  14. Taman perburuan atau Kebun Raya Bogor.

Silsilah Raja-Raja Kerajaan Sunda

Karena kerajaan ini merupakan gabungan dari banyaknya kerajaan, raja-rajanya pun tersebar di berbagai wilayah. Berikut adalah rangkuman silsilah para raja Kerajaan Sunda:

1) Salakanagara

2) Tarumanagara

Berikut adalah beberapa rajanya:

  1. Jayasingawarman (358 – 382): merupakan pendiri Tarumanagara dan merupakan menantu Dewawarman VIII. Di masa takhtanya, pusat pemerintah beralih dari Rajaputra ke Tarumanagara, Salakanagara kemudian diubah menjadi kerajaan daerah.
  2. Dharmayawarman (382 – 395 M).
  3. Purnawarman (395 – 434 M): ia membangun kerajaan baru di dekat pantai bernama Sundapura. Di bawah kekuasaannya ada 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara sampai ke Purwalingga.
  4. Wisnuwarman (434-455).
  5. Indrawarman (455-515).
  6. Candramawarman (515-535 M).
  7. Suryawarman (535 – 561 M): ia melanjutkan kebijakan politik ayahnya yaitu Candrawarman dengan memberi kepercayaan pada banyak raja daerah untuk mengurus pemerintahannya sendiri. Ia juga mengalihkan perhatiannya pada bagian Timur kerajaan. 
  8. Kertamawarman (561 – 628).
  9. Sudhawarman (628-639).
  10. Hariwangsawarman (639-640).
  11. Nagajayawarman (640-666).
  12. Linggawarman (666-669).
  13. Tarusbawa (670 – 723): menantu Linggawarman dan berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa.
  14. Sanjaya (723 – 732): menantu dari tarusbawa dan cicit dari Wretikandayun.
  15. Tamperan Barmawijaya (732 – 739).
  16. Rakeyan Banga (739 – 766).
  17. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783).
  18. Prabu Gilingwesi (783-795): menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang.
  19. Pucukbumi Darmeswara (795-819): menantu Prabu Giling Wesi.
  20. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891).
  21. Prabu Darmaraksa (891 – 895): adik ipar Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus.
  22. Windu Sakti Prabu Dewageng (895 – 913).
  23. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucuk Wesi (913-916).
  24. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa (916-942): menantu Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi.
  25. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942-954).
  26. Limbur Kancana (954-964).
  27. Prabu Munding Ganawirya (964-973).
  28. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989).
  29. Prabu Braja Wisesa (989-1012).
  30. Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019).
  31. Prabu Sanghyang Ageng (1019 – 1030), berkedudukan di Galuh.
  32. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030‚ – 1042).
  33. Darmaraja atau Sang Mokténg Winduraja (1042 – 1065).
  34. Langlangbumi atau Sang Mokténg Kerta (1065 – 1155).
  35. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 – 1157).
  36. Darmakusuma atau Sang Mokténg Winduraja (1157 – 1175).
  37. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 – 1297).
  38. Ragasuci atau Sang Mokténg Taman (1297 – 1303).
  39. Citraganda atau Sang Mokténg Tanjung (1303 – 1311).
  40. Prabu Linggadéwata (1311-1333).
  41. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340).
  42. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350).
  43. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357): gugur dalam Perang Bubat.
  44. Prabu Bunisora (1357-1371).
  45. Prabu Niskala Wastukancana (1371-1475).
  46. Prabu Susuk Tunggal (1475-1482).
  47. Jayadéwata atau Sri Baduga Maharaja (1482-1521).
  48. Prabu Surawisésa (1521-1535).
  49. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543).
  50. Prabu Sakti (1543-1551).
  51. Prabu Nilakéndra (1551-1567).
  52. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579).

Masa Kejayaan

Lukisan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Sumber: id.wikipedia.org

Berdasarkan sumber naskah Carita Parahyangan, tidak semua raja yang memimpin itu membawa kejayaan, Quipperian. Setidaknya, tercatat ada 4 raja yang membawa Kerajaan Sunda pada masa keemasan. Keempat raja itu, ialah:

1. Sang Lumahing Kreta

Raja yang satu ini memimpin selama 92 tahun lamanya. Keberhasilannya dimungkinkan karena Lumahing dianggap senantiasa memegang teguh pada perbuatan utama. Ia sangatlah tegas dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga sesuai dengan aturan dan hukum kerajaan yang berlaku.

2. Rakeyan Darmasiksa

Rakeyan memerintah kerajaan selama 150 tahun. Keberhasilannya membawa kerajaan pada puncak kejayaan disebabkan karena mengamalkan Sanghyang Siksa dan berpegang teguh pada Sanghiyang Darma. 

Inilah yang menyebabkan terpenuhinya kebutuhan seperti sandang pangan yang disimbolkan dengan Sang Rama, agama, kesehatan yang disimbolkan Sang Disri, tradisi leluhur yang disimbolkan Sang Resi, dan perdagangan atau pelayaran yang disimbolkan Sang Tarahan.

3. Prabu Niskala Wastu Kancana

Memerintah kerajaan selama 104 tahun, Prabu Niskala juga berhasil membawa kerajaan pada masa kejayaan. Ia berhasil memenuhi dan mengendalikan empat aspek kehidupan yaitu sandang pangan, agama dan tradisi leluhur, perdagangan, dan kesehatan. Melalui prasasti Kawali (Ciamis) juga, ia memperindah Keraton (Surawisesa) dan membangun parit di sekeliling kota.

4. Sri Baduga

Ia berhasil memerintah kerajaan selama 39 tahun yang pusatnya saat itu berada di Pakuan Pajajaran. Ia berhasil membawa kerajaan ke puncak kejayaan karena setia kepada keaslian dan kebiasaan leluhur.

Tidak hanya itu, ia juga membebaskan beberapa desa dari tuntutan membayar pajak bagi kepentingan keagamaan. Langkahnya ini mencerminkan perhatiannya pada keagamaan dan tradisi leluhur. Pada masanya, hak itu menjadi perhatian utama dalam menentukan kebijakan pemerintahan. 

Prasasti Batutulis bahkan mengungkapkan upaya Sri Baduga untuk melaksanakan pembangunan ibu kota, dari jejak-jejaknya yang bisa dilacak hingga saat ini.

Sri Baduga membuat hutan-hutan lindung, mengeraskan jalanan dengan batuan, mendirikan gunung-gunungan, membuat telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya, dan membuat parit di sekitar Pajuan Pajajaran.

Kehidupan Politik dan Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sunda

Menurut Tome Pires, kerajaan Sunda ini memiliki sistem pemerintahan kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Takhta kerajaan diberikan secara turun temurun kepada para keturunannya. 

Namun, jika si raja tidak memiliki keturunan atau anak, maka yang akan menggantikannya adalah salah seorang raja yang dipilih berdasarkan hasil pemilihan. 

Untuk kehidupan ekonomi kerajaan ini, para pedagangnya sudah bisa melakukan transaksi perdagangan dengan pedagang asing dari kerajaan lainnya seperti Sumatra, Jawa Tengah, Makassar, dan Malaka. 

Kegiatan perdagangan tersebut didukung dengan adanya pelabuhan-pelabuhan milik Kerajaan Sunda. Komoditas yang diperdagangkan yaitu lada, hewan ternak, sayuran, buah-buahan, dan beras. Selain dari sektor perdagangan, mereka juga mengembangkan sektor perdagangan seperti berladang. 

Watak masyarakat Sunda yang senang berpindah ini terlihat dari kegiatan berladangnya. Untuk itulah, mengapa ibu kota kerajaan juga sering berpindah-pindah.

Susunan masyarakat berdasarkan Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian, kelompok ekonomi mereka terbagi menjadi:

  • Pahuma (petani ladang)
  • Penggembala
  • Pemungut Pajak
  • Mantri
  • Pandai besi
  • Bhayangkara dan prajurit
  • Kelompok cendekiawan dan rohani
  • Maling, begal, dan copet

Quiperrian, itulah tadi pembahasan sejarah tentang kerajaan Sunda tentang peninggalan, letak (geografis), prasasti, pendiri, raja, masa kejayaan, silsilah kerajaan, sistem pemerintahan, kehidupan politik, kehidupan ekonomi, dan masa keruntuhan. 

Belajar sejarah itu sebenarnya asyik kok, asalkan penyampaian materinya juga menyenangkan. Nah, kamu bisa belajar bareng Quipper Video, nih. Belajar sejarah bakalan bikin kamu enjoy dan having fun banget deh. Makanya, biar enggak penasaran, buruan subscribe ya!



Tanyakan PR & materi sulit, LANGSUNG ke tutor! Yuk, Gabung Sekarang