Hayam Wuruk – Sejarah Kepemimpinan Hingga Kematian

Hi, Quipperian!

Kamu tahu enggak siapa itu Hayam Wuruk? Nama tersebut memang lekat sekali dengan nama ruas jalan besar sehingga terdengar familiar. Namun, lebih dari itu, Ia sebenarnya adalah seorang raja yang memimpin salah satu kerajaan terbesar di nusantara ini. Yup, kerajaan Majapahit.

Apa sih hebatnya sampai namanya masih tetap harum di era modern seperti saat ini? Nah, Quipper Blog akan mengulas lebih lanjut mengenai sosok paling sakti di zamannya ini. Kuy, disimak cerita sejarah Hayam Wuruk di bawah ini!

Sejarah Hayam Wuruk

ilustrasi atau gambar hayam wuruk
Ilustrasi Hayam Wuruk. Sumber: id.wikipedia.org

Hayam Wuruk memang bukanlah sosok yang lahir dari keluarga biasa. Ia memiliki darah biru karena merupakan putra dari penguasa ketiga kerajaan Majapahit, Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Sementara itu, ayahnya juga adalah penguasa Tumapel, daerah bekas kekuasaan Singasari pada zamannya.  

Nama Hayam Wuruk sendiri memiliki arti ‘ayam terpelajar’. Saat ia dilahirkan, semesta ikut menyambutnya dengan semarak. Menurut kitab Desawarnana, kelahirannya pada tahun 1334 Masehi ditandai dengan gempa bumi, hujan lebat, dan letusan gunung Kelud di Jawa Timur.

Pada saat Hayam Wuruk baru dilahirkan pun, Gajah Mada, panglima perang yang sangat berpengaruh bagi kerajaan Majapahit mengucapkan sumpah palapa di depan hadapan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Sumpah tersebut diucapkan dalam upacara pengangkatan Gajah Mada menjadi Patih Amangkubhumi kerajaan Majapahit.

Gajah Mada ikut mengasuh Hayam Wuruk pada masa kanak-kanaknya. Pada masa kekuasaannya kelak, Gajah Mada juga berperan sangat penting membantunya mencapai puncak kejayaan kerajaan Majapahit.

Kesaktian dan Masa Kejayaan

Gerbang masuk salah satu kompleks bangunan penting di Kerajaan Majapahit. Sumber: id.wikipedia.org

Hayam Wuruk memimpin kerajaan Majapahit di usia yang masih sangat belia yakni 16 tahun. Namun, kepiawaian dan kebijaksanaannya dalam hal mengatur pemerintahan membuat namanya tetap harum sebagai raja yang paling berprestasi sepanjang sejarah kerajaan di nusantara.  

Diterangkan dalam kitab Negarakertagama bahwa pada masa kepemimpinannya, kehidupan politik kerajaan Majapahit begitu tenang dan aman. Ia selalu berkeliling desa untuk melihat langsung kehidupan rakyatnya. Dalam bidang hukum, ia juga menerapkan aturan perpasalan warisan hingga perkawinan.

Keberhasilannya memimpin kerajaan Majapahit juga tak lepas dari bantuan Gajah Mada. Dibantu oleh Mahapatihnya tersebut, daerah kekuasaan Majapahit semakin luas mencakup Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, ditambah Tumasik (Singapura) dan sebagian Kepulauan Filipina.

Hayam Wuruk dinobatkan menjadi Raja Majapahit bergelar Sri Rajasanagara pada 1350 M. Di puncak kejayaannya, ia mencetuskan falsafah yang sampai saat ini menjadi pedoman kenegaraan kita yakni Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa yang bermakna “Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu dan tidak ada kerancuan dalam kebenaran.”

Selain itu ia juga membina hubungan yang baik dengan kerajaan lain seperti Campa (Thailand), Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, Vietnam, dan Tiongkok. Kekuatan militer kerajaan Majapahit pun semakin tangguh berkat kepemimpinan Mpu Nala yang berhasil menciptakan stabilitas di wilayahnya.

Di bidang ekonomi, Majapahit berhasil menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara berkat kekayaan komoditas ekspor rempah-rempah dan juga kain. 

Tak sampai disitu, ia juga memberikan perhatian pada bidang kebudayaan. Hal ini terlihat dari banyaknya candi yang dibangun kerajaan Majapahit saat masa kepemimpinannya seperti Candi Tikus dan Candi Jabung. 

Ia juga memiliki pemikiran yang inovatif di bidang sastra, karya-karya besar seperti Kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca dan Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular terbit pada saat kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan.

Selama masa pemerintahannya, terjadi tiga peristiwa penting yakni perang Bubat pada 1357 Masehi. Perang ini dicatat sebagai kesalahpahaman karena awalnya ia hanya ingin memperistrikan Dyah Pitaloka, putri dari penguasa Kerajaan Sunda. Namun, Gajah Mada beranggapan bahwa kedatangan petinggi kerajaan Sunda adalah penyerahan wilayah kekuasaan.

Kemudian, ia juga menjalani perjalanan suci ke tempat leluhurnya termasuk singgah ke candi pendharmaan kakek buyutnya Ken Arok, Anusapati, Wisnuwardhana, hingga Kertanegara.  

Terakhir, Hayam Wuruk juga mengadakan upacara Crada yang diadakan untuk memeringati wafat neneknya Gayatri Rajapatni, istri dari Raden Wijaya pada 1362 masehi.

Kematian Hayam Wuruk dan Kemunduran Kerajaan Majapahit

peta kerajaan majapahit
Kawasan inti Majapahit dan provinsinya. Sumber: id.wikipedia.org

Karena sosoknya sangat lekat dengan Gajah Mada, kemunduran kerajaan Majapahit mulai terlihat semenjak kematian mahapatihnya tersebut yang terjadi lebih dulu.

Menurut kitab Pararaton, selama masa kepemimpinan Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit sebenarnya sudah terbagi menjadi dua wilayah yakni kerajaan Majapahit barat yang dipimpin oleh ia sendiri dan kerajaan Majapahit timur yang dipimpin oleh Wijayarajasa atau Bhre Wengker. Wijayarajasa sendiri adalah suami dari Rajadewi, putri bungsu dari Raden Wijaya, bibi dari Hayam Wuruk.

Rupa-rupanya, Wijayarajasa memiliki ambisi menjadi raja. Setelah istrinya, keponakannya Tribhuwana Tunggadewi, dan Mahapatih Gajah Mada meninggal, ia membangun istana timur kerajaan Majapahit di Pamotan, Jawa Tengah.

Diketahui, Hayam Wuruk meninggal pada usia 55 tahun di tahun 1389 Masehi dan dimakamkan di Tajung. Sepeninggalnya, Majapahit dipimpin oleh keturunannya. Namun, pola kepemimpinan keturunannya tidak sepadan dengan dirinya. Penyebab utama dari kemunduran kerajaan Majapahit adalah perang saudara yang terkenal dengan nama Perang Paregreg.

Perlahan, kerajaan bercorak Hindu-Budha itu pun kehilangan pamor tergantikan dengan kerajaan Islam yakni Kesultanan Demak.

Silsilah Keturunan Hayam Wuruk

Arca dewi Parwati, perwujudan ratu Majapahit ibunda Hayam Wuruk
Arca dewi Parwati, perwujudan ratu Majapahit ibunda Hayam Wuruk. Sumber: id.wikipedia.org

Silsilah keturunan Hayam Wuruk dekat dengan kerajaan Singasari. Meskipun terkenal sebagai raja termansyur dalam sejarah kerajaan Majapahit, namun menurut silsilah, ia tetaplah keturunan langsung dari raja Singasari kontroversial Ken Arok.

Pernikahan Ken Arok dan Ken Dedes dikaruniai empat orang anak salah satunya adalah Mahisa Wong Ateleng. Mahisa sendiri tidak diberkahi kekuasaan sampai cucunya Lembu Tal dikarunia seorang anak bersama Raden Wijaya. Raden Wijaya adalah pendiri kerajaan Majapahit dan merupakan kakek dari Hayam Wuruk. 

Sejarah menuturkan bahwa Hayam Wuruk menikahi saudara sepupunya sendiri yakni Ratu Sri Sudewi dan memiliki selir yang tidak diketahui namanya.

Dari pernikahannya dengan Sri Sudewi, ia dikaruniai anak perempuan yakni Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana, pemimpin istana barat kerajaan Majapahit. Sementara, pernikahannya dengan seorang selir melahirkan seorang anak lelaki yakni Bhre Wirabhumi yang memimpin istana timur kerajaan Majapahit.

Perselisihan antara keduanya mencuatkan perang saudara yang dinamai perang Paregreg, penyebab utama kemunduran kerajaan Majapahit.

Ternyata perjalanan hidup raja termasyur dalam sejarah kerajaan di Indonesia tersebut sangat menarik untuk diulas ya, Quipperian. Kita jadi mengetahui bahwa perjalanan bangsa ini ternyata dipengaruhi oleh falsafah yang dianut sejak jaman kerajaan dahulu kala. 

FYI, sebenarnya banyak sekali penjelasan sejarah Hayam Wuruk atau tokoh lain yang bisa kamu akses melalui Quipper Video, lho. Kamu juga bisa didampingi oleh profesional di bidangnya jika menginginkan penjelasan yang lebih rinci dan detail. Caranya gampang kok, hanya dengan cara subscribe di sini. Yuk, akses topik-topik keren lainnya bareng Quipper Video!



Tanyakan PR & materi sulit, LANGSUNG ke tutor! Yuk, Gabung Sekarang