Hari Hak Asasi Manusia, Apa dan Bagaimana Merayakannya?

Hai teman-teman Quipperian, apa kabar semuanya? Tidak terasa kita sudah akan menapaki bulan terakhir tahun 2018, bulan Desember. Nah, pada bulan Desember ada satu hari perayaan yang mendalam dan hakiki, Hari Hak Asasi Manusia. Tentu saja perayaan yang dihelat setiap 10 Desember ini terasa sangat hakiki dan mendalam, karena merayakan hak-hak dasar atau fundamental dari kita manusia..

Pada edisi kali ini Quipper Blog akan berbagi dengan teman-teman Quipperian mengenai sejarah singkat dari Hari Hak Asasi Manusia. Selain itu, Quipper Blog juga akan membagikan sejumlah tips-tips praktis kegiatan kelas apa saja yang tepat guna dalam merayakan hari yang sangat reflektif bagi keberadaan kita bersama sebagai umat manusia.

Jadi, tunggu apalagi? Mari kita simak bersama, apa dan bagaimana merayakan Hari Hak Asasi Manusia!

Kapan dan Mengapa Hari Hak Asasi Manusia?

Hari Hak Asasi Manusia dirayakan setiap 10 Desember sejak tahun 1948– hari saat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Tahun ini, Hari Hak Asasi Manusia beserta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, sebuah dokumen tonggak bersejarah yang memproklamirkan hak-hak asasi yang secara hak asasi manusia berhakkan sebagai manusia – tanpa memandang ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, bahasa, pendapat politik atau lainnya, asal kebangsaan atau sosial, properti, kelahiran atau status lainnya, mencapai usia ke-70. Dokumen ini merupakan dokumen yang paling banyak diterjemahkan di dunia, tersedia dalam lebih dari 500 bahasa.

Dokumen ini dirumuskan oleh perwakilan dari latar belakang hukum dan budaya yang beragam dari semua wilayah di dunia dan menetapkan nilai-nilai universal dan standar umum pencapaian untuk semua orang dan semua bangsa. Dengan demikian deklarasi ini juga menetapkan martabat dan harga diri yang setara bagi setiap orang. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia memberdayakan kita semua. Asas-asas yang diabadikan dalam Deklarasi adalah relevan hari ini seperti pada tahun 1948. Kita harus membela hak kita sendiri dan orang lain. Kita dapat mengambil tindakan dalam kehidupan kita sehari-hari, untuk menegakkan hak-hak yang melindungi kita semua dan dengan demikian meningkatkan kekerabatan semua manusia.

Tips-tips Praktis Aktivitas Reflektif di Kelas

Tips di bawah ini dibuat bagi guru, jika kamu adalah seorang murid, maka berikanlah tips ini pada wali kelas kamu agar bisa dipraktikkan.

1. Zona Hak Asasi

  1. Tuliskan salah satu dari nilai-nilai hak asasi manusia berikut pada setiap selembar kertas besar dan tempatkan di 4 tempat berbeda di sekitar ruangan. Nilai-nilai hak asasi manusia: inklusi, rasa hormat, kerja sama dan menghormati keragaman.
  2. Mintalah siswa untuk berdiri di samping nilai yang paling penting bagi mereka. Bentuk tim dengan siswa yang telah mengumpulkan nilai yang sama.
  3. Minta tim untuk mendiskusikan apa nilai yang telah mereka pilih berarti bagi mereka dalam kehidupan sehari-hari mereka,dan beri contoh konkret.

2. Kepercayaan Buta

Secara berpasangan, mintalah satu anak menutup mata yang lain dan mintalah anggota pasangan yang terlihat itu memimpin “yang buta” satu selama beberapa menit. Pastikan anak yang memimpin tidak menyalahgunakan kekuatan untuk memimpin, karena idenya adalah untuk memelihara kepercayaan, bukan untuk menghancurkannya. “Pemimpin” dari pasangan harus mencoba untuk menyediakan berbagai macam pengalaman sebanyak mungkin, seperti membuat pasangan “buta” merasakan sesuatu dengan kaki atau jari-jarinya, memimpin dengan suara atau bahkan memainkan permainan. Setelah beberapa menit, anak-anak bertukar peran dan mengulangi prosesnya.

Setelah kegiatan selesai, izinkan anak-anak saling berefleksi tentang apa yang terjadi. Diskusikan bagaimana perasaan mereka – tidak hanya sebagai mitra “buta” tetapi juga perasaan tanggung jawab mereka sebagai “pemimpin”. Hal ini dapat tidak hanya akan melahirkan kesadaran yang lebih besar tentang seperti apa kehidupan bagi penyandang cacat penglihatan (atau pendengaran), tetapi juga diskusi tentang pentingnya kepercayaan terhadap seluruh komunitas. Hal ini dapat berujung pada diskusi tentang masyarakat dunia, bagaimana menyukseskan dan juga menggagalkan kebersamaan universal tersebut. (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 28; Konvensi tentang Hak Anak pasal 3, 23).

3. Jejaring Belas Kasih

  1. Jelaskan kepada siswa bahwa dalam kegiatan ini mereka akan membuat jejaring simbolik yang melambangkan tanggung jawab kita terhadap orang-orang di sekitar kita, dan terutama orang yang akan kita sayang. Selama diskusi kelompok, siswa akan membuat jaring laba-laba menggunakan bola benang.
  2. Mintalah kelas untuk membentuk lingkaran.
  3. Ambil ujung dari bola benang dan pegang di tangan Anda. Mulai aktivitas dengan menyelesaikan kalimat berikut: “Untuk mencintai seseorang berarti…” Anda bisa mengatakan, misalnya: “Untuk mencintai seseorang berarti Anda tidak ingin hal buruk terjadi pada mereka.”
  4. Lempar bola ke siswa lain, sambil memegang ujung benang. Jejaring akan mulai mengambil bentuk.
  5. Siswa yang Anda lempar bola juga melengkapi kalimat “Untuk mencintai seseorang berarti…” dan lalu melempar bola ke orang lain.
  6. Ketika semua orang menangkap bola dan jaringnya terbentuk, mintalah para siswa untuk memikirkan sesuatu yang dapat mengakhiri suatu hubungan (mis. dengan teman dekat, anggota keluarga, pacar laki-laki, pacar perempuan). Setelah memberi contoh, setiap orang memotong seutas benang sehingga, sampai akhirnya jaring benar-benar hancur.

Nah, bagaimana Quipperian? Semoga tulisan ini membantu kita semua memahami lebih dalam makna perayaan Hari Hak Asasi Manusia. Selain itu semoga tips praktiknya berguna dan dapat langsung dipraktikkan ya Quipperian! Salam!

Sumber:

Penulis: Jan Wiguna