Apa Itu Pengangguran Friksional & Bagaimana Cara Mengatasinya?

Quipperian, kamu sedang mencari info tentang pengangguran friksional? Berikut ini pembahasan lengkapnya, ya!

Meskipun zaman sudah tergolong canggih dengan segala macam digitalisasinya, ternyata hal-hal itu masih belum bisa menutup kemungkinan terjadinya pengangguran. Perluasan lapangan pekerjaan juga tidak pernah luput dari tuntutan masyarakat yang sering disampaikan dalam orasi saat demo berlangsung. 

Sebenarnya tidaklah tepat jika mengartikan pengangguran sebagai orang yang tidak bekerja. Karena pada kenyataannya, pengangguran adalah orang-orang yang sudah masuk dalam usia produktif untuk bekerja (15–64 tahun) dan sedang tidak bekerja atau masih berusaha mencari pekerjaan. 

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran, salah satunya adalah kesulitan sementara yang menghasilkan apa yang disebut dengan pengangguran friksional.

Pengangguran friksional adalah  pengangguran yang terjadi karena kesulitan-kesulitan sementara (temporal) seperti durasi waktu yang dibutuhkan pencari kerja untuk menemukan pekerjaan dengan posisi dan gaji yang sesuai. 

Selain itu, penyedia pekerjaan juga membutuhkan waktu yang panjang untuk menyeleksi pekerja dengan kualitas tinggi dan berpengalaman. Kesulitan waktu inilah yang menjadi kesulitan sementara tersebut. 

Kelompok mahasiswa yang baru lulus juga termasuk di dalam golongan pengangguran ini karena mereka belum memiliki pengalaman kerja sehingga butuh waktu yang panjang untuk dirinya diterima bekerja, Quipperian.

Quipper Blog akan membahas tuntas materi Ekonomi kelas XI tentang salah satu jenis pengangguran yaitu pengangguran friksional dalam artikel kali ini.

Penyebab Pengangguran Friksional

Nah, ternyata ada beberapa faktor lagi yang menyebabkan terjadinya pengangguran friksional ini, Quipperian. Yuk simak masing-masing penjelasannya berikut ini:

  • Pencari kerja ingin mendapatkan manfaat yang maksimal dari tempatnya bekerja kelak. Maka, mereka akan berusaha untuk mencari-cari dan menyeleksi banyak perusahaan yang menawarkan fasilitas-fasilitas yang diinginkan. Proses pencarian perusahaan dan pengambilan keputusan ini memakan waktu lama, sehingga para pencari kerja tersebut menjadi pengangguran friksional.
  • Jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia tidak serta-merta membuat pencari kerja bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Hal ini dikarenakan pencari kerja tersebut belum memenuhi persyaratan kerja yang ditentukan perusahaan.
  • Perbandingan pencari kerja yang jumlahnya lebih banyak daripada perusahaan penyedia lowongan kerja.
  • Ada pencari kerja yang kesulitan mendapat info lowongan kerja dan ada juga yang malas untuk mencari info lowongan kerja.
  • Proses yang berlangsung dari tahap lamaran, wawancara, hingga negosiasi memakan waktu yang cukup lama. Apabila seorang pencari kerja sudah mencapai tahap negosiasi tetapi tidak lolos, maka ia sudah kehilangan kesempatan bekerja dan waktu, serta kembali menjadi pengangguran yang harus mencari lowongan lain.
  • Pengangguran merasa tidak ada urgensi untuk cepat-cepat mencari kerja. Karena biasanya ada orang yang menyiapkan tabungan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja. Sehingga, pencari kerja ini akan jauh lebih santai untuk menyeleksi perusahaan yang bisa memberinya fasilitas dan gaji yang diinginkan.
  • Adanya pergeseran permintaan barang oleh masyarakat, sehingga permintaan tenaga kerja yang yang memproduksi barang bersangkutan juga ikut berubah.

Contoh Pengangguran Friksional

Setelah mengetahui definisi dan penyebabnya, berikut ini adalah beberapa contoh kasus dari pengangguran friksional agar Quipperian semakin paham tentang fenomena pengangguran yang satu ini:

  1. Seorang lulusan arsitektur dari sebuah universitas mencari perusahaan yang menawarkan banyak fasilitas seperti asuransi, tunjangan hari raya, jatah cuti, dan gaji yang tinggi. Dengan pengalaman yang sedikit, jarang ada perusahaan yang mau menerima pekerja seperti ini.
  2. Seorang sarjana desain yang lulus dari universitas ternama di kota akan susah mencari pekerjaan saat kembali ke kampung halamannya karena profesi sebagai desainer belum terlalu dibutuhkan oleh masyarakat setempat.
  3. Seorang supervisor mengajukan resign dari tempatnya bekerja untuk mencari pekerjaan sebagai manajer di tempat lain.
  4. Seorang akuntan memutuskan untuk berhenti bekerja dan ingin beristirahat sementara waktu dengan tabungan yang dimilikinya. Setelah itu, barulah ia akan mencari pekerjaan dengan posisi yang lebih tinggi daripada saat ia resign.
  5. Seseorang yang belum mengenal teknologi yang akan sangat sulit untuk mendapatkan dan mengakses info lowongan kerja.
  6. Seorang lulusan SMA kesulitan mencari pekerjaan karena hanya memiliki ijazah SMA.
  7. Saat permintaan laptop tinggi, orang-orang yang bekerja dengan berjualan komputer akan sepi peminat sehingga tak jarang ada yang kehilangan pekerjaannya.

Pengangguran Friksional Tidak Dapat Dihindari

Mengapa pengangguran friksional tidak dapat dihindari? Karena memang pencari kerja dan penyedia lowongan kerja akan selalu menjumpai jeda waktu yang membuatnya sulit untuk saling bertemu. 

Selain itu, keterbatasan informasi serta syarat yang ada di lowongan kerja juga menjadi hambatan bagi pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan impiannya. 

Akan selalu ada pula kelompok lulusan universitas yang harus mencari kerja setiap tahunnya. Inilah mengapa pengangguran friksional tidak terhindarkan dan selalu menjadi permasalahan.

Cara Mengatasi Pengangguran Friksional

Meskipun pengangguran friksional sulit dihindarkan, tetapi ada beberapa cara yang bisa membantu untuk mengurangi permasalahan ini, di antaranya:

  • Pihak penyedia lowongan kerja harus mendistribusikan info lowongan kerjanya lebih luas lagi, misalnya dengan membuat pengumuman di online platform penyedia info lowongan kerja dan sebagainya.
  • Pencari kerja harus mengikuti pelatihan dan keterampilan yang bisa menjadi nilai tambah saat melamar kerja.
  • Pencari kerja harus aktif mencari info lowongan kerja di berbagai online platform seperti LinkedIn agar tidak melewatkan kesempatan bekerja di perusahaan yang diinginkan.
  • Pembangunan industri padat karya baru bisa membantu mengurangi pengangguran friksional.
  • Melakukan transmigrasi agar penyerapan tenaga kerja bisa lebih rata di berbagai sektor.
  • Selalu mencari tahu informasi seputar perkembangan teknologi agar bisa mengikuti perkembangan pekerjaan yang tersedia di masa kini.

Demikian penjelasan lengkap tentang pengangguran friksional, Quipperian! Jangan lupa untuk memeriksa artikel Quipper Blog lainnya yang membahas tentang berbagai macam jenis pengangguran supaya kamu semakin paham tentang materi ini. Semoga artikel ini membantu ya! Selamat belajar.