Bingung Pahami Masa Lalu? Kepoin Materi Ruang Lingkup Sejarah Ini!

Enggak semua peristiwa di masa lalu menjadi fakta sejarah, lho Quipperian! Bisa aja itu cuma mitos. Semuanya perlu diuji secara komprehensif agar menjadi fakta sejarah.

Sejarah punya ruang lingkup tersendiri. Sama halnya seperti disiplin ilmu lainnya. Ada metodologinya dan enggak bisa sembarang main klaim cerita di masa lalu itu menjadi fakta sejarah.

Kok ribet sih? Justru akan semakin ribet kalau peristiwa di masa lalu enggak pernah diuji menggunakan metodologi penelitian sejarah.

Hal itu akan bergulir menjadi, “katanya”, “menurutnya”, dan lain-lain tanpa didasari fakta sejarah. Alhasil, di hari mendatang menjadi beban sejarah. Orang di masa depan enggak bakal menerima peristiwa sejarah secara utuh. Kebayang enggak, sih!

Kejadian itu bahkan sering terjadi di Indonesia. Beberapa peristiwa sejarah di masa lalu, seperti sebut saja Peristiwa 1965, hingga saat ini hanya menjadi beban sejarah.

Nah, kalau kamu tertarik untuk membuat penelitian sejarah, berikut materi ruang lingkup sejarah agar kamu enggak tersesat.

1. Mengenal Sumber Sejarah

Menurut metodologi disiplin sejarah, mengutip buku Membaca Sumber Menulis Sejarah karya Arsiparis Mona Lohanda, posisi arsip sebagai sumber sejarah menempati kedudukan tertinggi dibanding sumber sejarah lainnya. Sumber arsip disebut juga Primary Sources.

Mengapa begitu? Karena arsip tercipta pada waktu bersamaan dengan kejadian, permasalahan, atau fenomena di seputar peristiwa. Informasi di dalam arsip merupakan gambaran suasana dan situasi kontekstual.

Sumber arsip tersebut bisa berupa media kertas atau non kertas. Medium kertas merupakan wahana paling konvensional dan umum digunakan untuk mendokumentasikan informasi. Semetara medium non kertas bisa berupa rekaman atau video.

Enggak heran, sebagai disiplin ilmu, seorang sejarawan harus tetap lekat dengan bukti masa lampau. “No Document, No History!”

2. Peristiwa Sejarah

Sejarah sebagai peristiwa di masa lalu selalu berkaitan dengan kejadian penting, nyata, dan aktual. Artinya, kejadian tersebut benar-benar terjadi di masa lalu.

Misal peristiwa kematian pentolan Kartel Medellin, Pablo Escobar. Kejadian tersebut benar terjadi pada 2 Desember 1993 di Medellin, Kolombia. Tentu, sekali lagi, sejarah enggak hanya hafalan tanggal, tempat, dan nama pembesar. Kamu juga harus mencari tahu sebab-akibat, konteks zaman, pelaku peristiwa, dan kronologis.

Bila menggunakan analogi peristiwa kematian Pablo Escobar, tentu kamu harus mencari informasi komprehensif melalui arsip, berita sezaman, dan wawancara.

Kamu bisa menelusuri arsip militer atau kepolisian Kolombia, arsip DEA sebagai institusi yang ikut ambil bagian pada operasi tersebut, berita media cetak atau elektronik pada masa tersebut, dan mewawancarai korban, pelaku, bahkan penegak hukum.

3. Kisah

Perlu disadari terkadang sumber tertulis tidak banyak memberikan gambaran secara keseluruhan, bahkan ada makna tersembunyi di balik kalimat di dalam arsip.

Terkadang pada penelitian sejarah sangat dimungkinkan untuk mengolah sumber lisan melalui wawancara.

Tiap orang pasti memiliki rekaman dengan sudut pandang tersendiri terhadap kejadian yang dilihatnya. Ia menjadi saksi sejarah. Menyimpan kisah mengenai sejarah suatu peristiwa.

Pada kasus Pablo Escobar, misalnya, peneliti bisa dan sangat dimungkinkan untuk bertemu dan mewawancari beberapa narasumber terkait peristiwa kematian Escobar.

Tentu enggak semua orang harus diwawancara. Bisa pilah-pilah terkait, kedekatan orang tersebut pada peristiwa. Di dalam peristiwa penembakan Escobar, tentu peneliti memilih Agen DEA Stephen Murphy yang bertugas saat Escobar terbunuh, atau beberapa militer Kolombia.

Kisah-kisah tersebut akan didapatkan melalui wawancara. Lagi-lagi, para peneliti harus kembali mengecek kebenaran informasi sang narasumber pada sumber tertulis berupa arsip, karena ingatan seseorang sangatlah terbatas.

4. Ilmu Sejarah

Sebagai sebuah ilmu, sejarah memiliki kriteria-kriteria nan dapat dipertanggungjawabkan pada pembuktian fakta. Mula-mula para ahli filsafat di Eropa mulai mempelajari sejarah menggunakan metodologi penelitian sejarah.

Seorang peneliti sejarah harus mengikuti panduan metodologis agar karya sejarahnya bersifat kritis, ilmiah, dan objektif.

Terdapat empat langkah metode penelitian sejarah, meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.

Heuristik merupakan upaya mencari, menentukan, dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah. Peristiwa sejarah hanya bisa direkonstruksi apabila didukung dengan fakta-fakta sejarah.

Artinya, fakta sejarah memiliki peran sentral pada penelitian sejarah. Setelah fakta didapat, kemudian diverifikasi untuk mencari keabsahan data. Verifikasi data meliputi kritik sumber, berupa kritik intern dan ekstern.

Kritik ekstern menguji otentisitas atau keaslian sumber. Apabila sumber berupa tulisan tangan di atas kertas, maka pengujian bisa dengan mencocokkan tanggal penulisan dengan peristiwa. Sedangkan kritik intern berfungsi untuk menguji kredibilitas informasi. Salah satunya dengan membandingkan sumber tersebut dengan sumber lainnya, apakah memiliki kecocokan informasi atau malah sebaliknya.

Setelah sumber diuji, selanjutnya peneliti menginterpretasi temuan berupa data untuk menyusun hipotesa. Setelah itu, peneliti akan membuat historiografi atau menulis sejarah berdasar temuan, pengujian, dan interpretasi temuan-temuannya.

5. Seni

Menurut Dithley, seorang filsuf sejarah, mempelajari sejarah berbeda dengan menekuni ilmu alam. Walaupun sejarah memiliki metode ilmiah, namun dalam penelusuran sejarah tidak hanya nan nampak di permukaan, tetapi menyertai juga rasa, motivasi, dan tujuan seseorang melakukan sesuatu.

Sejarah juga merupakan seni dalam proses kehidupan manusia. Manusia meneliti sejarah untuk membuat historiografi atau tulisan sejarah. Ia merupakan seni menolah cerita berdasar fakta sejarah.

6. Jebakan Sumber

Berhadapan dengan sumber, menurut Mona Lohanda, bukan saja sekadar menangkap arti, memahami, dan menafsirkan kata, tetapi juga mewaspadai perangkap ke dalam sumber jebakan.

Maksudnya? Jebakan sumber itu antara lain menyangkut anakronisme, falsifikasi, fabrikasi.

Anakronisme sangat umum terjadi ketika sejarawan berusaha menggali sumber subjek-subjek baru dari situasi masa lampau. Singkatnya, terdapat sumber menceritakan sebuah peristiwa tetapi tidak ditulis atau didokumentasikan sesuai waktu peristiwa.

Di sisi lain, falsifikasi atau pemalsuan dokumen juga sangat bisa terjadi pada sumber sejarah. Bila kamu memiliki waktu berkunjung ke gedung Arsip Nasional Republik Indonesia, di Ampera Raya, Jakarta Selatan, terdapat beberapa dokumen Surat Perintah Sebelas Maret. Beberapa di antar surat itu tentu palsu. Setelah dokumen palsu kemudian digembar-gemborkan kemudian menjadi fabrikasi.

Quipperian, itulah materi ruang lingkup sejarah yang harus kamu ketahui bilamana suatu hari kamu mau meneliti sebuah peristiwa bersejarah di masa lampau. Ingat, jadilah orang yang kritis dan tidak mudah percaya pada satu hal saja. Bagi kamu yang mau baca artikel menarik lainnya, langsung saja kepoin Quipper Blog, ya!

Penulis: Rahmat Ali

Kepoin Respon Internasional Terhadap Kemerdekaan Indonesia!