Anak Milenial, Jangan Lupakan Sejarah Orde Baru dan Reformasi!

Bulan Mei mendatang tepat peringatan dua dekade Reformasi. Quipperian tahu nggak nih, apa itu Reformasi? Mungkin bagi kalian kelahiran 1990-an, memori tentang masa delapan tahun setelahnya, tepatnya tahun 1998, tak begitu kuat.

Tetapi pembahasan Reformasi sangat penting bagi generasi milenial, sebab hal tersebut menjadi penanda pergantian zaman dan kekuasaan di Indonesia. Masa-masa Reformasi sudah masuk dalam buku pelajaran Sejarah di sekolah-sekolah lantaran menjadi bagian penting perjalanan bangsa.

Mengapa penting bagi Quipperian memahami Reformasi? Tentu kita harus selalu ingat kata Bung Karno, “Jas Merah. Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Kids zaman now harus mengerti betapa berat perjuangan mahasiswa kala itu sehingga kita bisa menikmati era keterbukaan seperti sekarang ini!

Sebelum mengulas Reformasi, terlebih dahulu Quipperian harus memahami sejarah Orde Baru. Simak ulasannya berikut ini:

Sejarah Orde Baru

Terdapat beragam versi tentang kelahiran sejarah Orde Baru atau peralihan kekuasan dari Presiden Soekarno menuju Soeharto. Dari mulai teori keterlibatan pihak asing hingga aksi mahasiswa yang umum disebut sebagai angkatan 66 sebagai penggerak perubahan.

Di luar semua teori tersebut, yang terpenting adalah Soeharto akhirnya naik takhta sebagai presiden. Dia menjadi presiden kedua RI. Mereka, termasuk aktivis 66 menyebut peralihan tersebut merupakan perubahan dari Orde Lama menuju Orde Baru.

Di masa awal Orde Baru, Presiden Soeharto menerapkan ekonomi terbuka. Pemerintah saat itu membuka secara luas kran modal asing. Indonesia menatap masa pembangunan dan Soeharto kemudian mendapat julukan sebagai Bapak Pembangunan.

Pada pemilu demi pemilu Soeharto selalu tampil sebagai pemenang. Masa pemerintahannya bertahan lama, selama kurang lebih 32 tahun.

Lambat laun, beberapa cendekiawan, intelektual, dan aktivis pergerakan serta mahasiswa merasa ada kejanggalan dengan sistem demokrasi di masa Orde Baru tersebut.

Saluran-saluran demokrasi tersumbat. Pers dibungkam dan diberedel. Para pengkritik ditangkap dan dijatuhi hukuman dengan pasal subversif, bahkan beberapa di antaranya hilang tanpa jejak hingga saat ini.

Isu korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkaran keluarga dan orang terdekat Soeharto pun mencuat. Para aktivis pun beramai-ramai menggelar aksi menuntut keadilan dan penegakan hukum terhadap koruptor.

Korupsi, Kolusi, Nepotisme

Sejarah Orde Baru tidak luput dari KKN alias korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tiap masa, mulai tahun 1970-an hingga 1990-an, tuntutan penegakan hukum terhadap praktik korupsi sangat kental disuarakan para aktivis.

Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi musuh bersama para aktivis untuk menuntut perubahan selain keterbukaan informasi, pemilu jurdil (jujur adil), dan kebebasan berpendapat.

Gerakan mahasiswa dan para aktivis tersebut bukan tanpa perlawanan pihak penguasa. Mereka ditangkap dan dibui dengan tuduhan subversif dan melawan pemerintahan. Sebagian aktivis bahkan ‘dihilangkan’.

Krisis moneter jelang awal tahun 1997 semakin memperuncing keadaan. Desakan agar keadilan ditegakkan dan agenda peralawanan terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme sebagai biang keladi pun mencuat dan meluas.

Para aktivis dan mahasiswa pun mulai menggelar mimbar bebas menuntut perubahan.

Krisis Moneter 1997

Sumber gambar: kumparan.com

Tahun 1997 merupakan titik panas sejarah Orde Baru sebelum akhirnya terjadi ‘ledakan’ amuk masyarakat setahun kemudian.

Gelombang krisis ekonomi menerpa Indonesia. Sektor-sektor perekonomian melesu. Beberapa perusahaan bangkrut. Pemutusahan Hubungan Kerja atau PHK terjadi di banyak perusahaan. Harga bahan-bahan pokok melambung tinggi. Masyarakat pun menjerit menuntut perubahan.

Di sisi lain, pemeritahan Soeharto gagal menangani krisis dan mengendalikan lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Tuntutan agar Soeharto turun dari kursi kekuasaan kembali menguat. Masyarakat menilai Soeharto gagal. Korupsi di lingkaran kekuasaan jadi episentrum merosotnya kepercayaan publik.

Gerakan-gerakan perlawanan di kalangan mahasiswa mulai bersindikasi dan berjejaring untuk menurunkan Soeharto dan mengemukakan agenda reformasi.

Agenda Reformasi

Mahasiswa mulai turun ke jalan menuntut perubahan keadaan dengan menggulirkan agenda reformasi, berisi enam tuntutan berupa; pergantian presiden atau turunkan Soeharto, mengamandemen UUD 1945, Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, Penghapusan Dwifungsi ABRI, Penegakan Supremasi Hukum, dan Otonomi Daerah.

Aksi-aksi para aktivis dan gabungan seluruh elemen mahasiswa mendapat serangan bertubi-tubi. Aparat membubarkan aksi mereka dengan timah panas. Tragedi penyerangan kantor PDIP, Semanggi 1 dan 2, dan Kasus Trisakti menjadi catatan hitam represi para aparat keamanan kala itu.

Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Seoharto melemah drastis. Masyarakat dari berbagai elemen mendukung gerakan mahasiswa dengan agenda reformasinya.

 Meski berkali-kali mendapat tindakan represi dari aparat, gerakan mahasiswa tak pernah surut. Mereka tak pernah mundur walau nyawa sebagai taruhan. Tak terhitung peluh dan darah serta nyawa melayang.

Gelombang aksi mahasiswa juga mendapat dukungan tokoh-tokoh nasional. Mereka pun mendesak agar Soeharto mundur. Di sisi lain, kerusuhan dan penjarahan pun terjadi di hampir kota-kota besar.

Kerusuhan, Penjarahan, dan Kebakaran

Di titik inilah sejarah Orde Baru jadi momen yang paling tak terlupakan, mencekam, dan paling ditakuti sepanjang perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia bahkan hingga saat ini.

Saat itu, situasi kota-kota besar kian mencekam seiring makin memanasnya situasi di pusaran kekuasaan. Kerusuhan, penjarahan, dan kebakaran lalu terjadi di mana-mana. Toko-toko, pasar swalayan, mal, hingga warung pun jadi sasaran amarah dan penjarahan.

Kobaran api membara di gedung-gedung pertokoan di kota-kota besar. Isu meluas menjadi pribumi non-pribumi. Orang-orang Tionghoa jadi sasaran. Tak terhitung aksi kekerasan hingga pemerkosaan terjadi secara membabi buta.

Kota-kota besar siaga 1. Keamanan semakin ditingkatkan. Di tiap lingkungan diadakan ronda rutin. Masyarakat semakin tercekik, bukan hanya kesusahan mendapat rezeki, bahkan susah untuk mendapat bahan pangan lantaran kosongnya pasokan, dan keadaan tersebut masih diperparah dengan semakin rentannya keamanan.

Desakan agar Soeharto turun dan agenda reformasi semakin kuat. Bapak Pembangunan pun terdesak.

Soeharto Turun Takhta

Aksi-aksi mahasiswa semakin tak terbendung. Mereka berhasil menduduki beberapa objek vital, tak terkecuali gedung DPR/MPR RI. Desakan agar Soeharto turun gelanggang semakin meninggi.

Unjuk rasa para mahasiswa semakin deras mengalir. Bentrokan pun sering pecah dan memakan korban. Situasi semakin memanas pada pertengahan bulan Mei 1998.   

Di Istana Merdeka Jakarta, 21 Mei 1998, Soeharto tampil mengenakan safari abu-abu dan peci hitam. Dia membuka map berisi ketikan naskah pidato. Pak Harto lalu mengucap pidato terakhir sebagai pemimpin kenegaraan. Di sinilah sejarah Orde Baru berujung.

Di akhir pidato dia mengucap, “Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada Kamis, 21 Mei 1998”.

Ucapan pengunduran diri Soeharto disambut pelukan dan tangis kegembiraan para mahasiswa. Tuntutan dan perjuangan mereka akhirnya menemui hasil. Agenda Reformasi pun mulai dijalankan.


Kini, lebih-kurang 20 tahun bergulirnya Reformasi, beberapa agenda masih belum selesai, terutama agenda pemberantasan korupsi. Menjadi penting untuk Quipperian tahu agar agenda Reformasi pun menjadi tanggung jawab bersama. Tidak perlu menekan orang lain untuk tidak melakukan KKN, cukup mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Sejarah Orde Baru merupakan goresan luka bersama bangsa Indonesia. Sebagai kaum milenial, tentu kita juga tidak boleh melupakannya sebab sejarah tersebut sudah jadi bagian dari jati diri Tanah Air.

Untuk artikel-artikel menarik lainnya tentang sejarah atau matpel lain, langsung saja kunjungi Quipper Video Blog, ya! Salam Reformasi. Hidup Mahasiswa, Hidup Masyarakat Indonesia! Merdeka!

Sumber Gambar:

Penulis: Rahmat Ali