Apa yang Dimaksud Recycle dan Bagaimana Hubungannya dengan Industri Fashion?

Apa yang dimaksud dengan recycle? Biasanya istilah ini identik dengan pengelolaan limbah bukan? Sekalipun pada umumnya demikian, ternyata istilah serupa dikenal juga lho di industri fashion! Bahkan recycle di industri fashion menjadi suatu inisiatif yang revolusioner dalam upaya mengurangi produksi limbah di seluruh dunia.

FYI, produksi produk fashion terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Berdasarkan keterangan dari Kementerian Investasi/BKPM menyatakan bahwa industri tekstil dan pakaian di Indonesia mengalami pertumbuhan hingga 18,98% pada tahun 2019.

Pertumbuhan industri fashion ini tentunya menjadi kabar baik bagi pada para pelaku di industri tersebut. Namun, bersama dengan itu juga ada masalah serius yang harus segera mendapat penanganan, yaitu masalah limbah industri. Angka persisnya dapat diketahui berdasarkan keterangan dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang menyatakan bahwa per tahun 2021 Indonesia menghasilkan limbah tekstil yang mencapai 2,3 ton.

Kondisi ini dipicu oleh beberapa hal yang mana salah salah satu faktornya yaitu fast fashion. Fast fashion adalah pergantian model fashion yang terlalu cepat dalam waktu singkat. Hal tersebut membuat banyak orang yang tidak ingin ketinggalan fashion menjadi lebih konsumtif sehingga produk-produk fashion yang telah dibeli sebelumnya dan tidak terpakai lagi menjadi penyumbang tingginya limbah tekstil.

Nah, karena hal itulah akhirnya ada istilah recycle di industri fashion.

Apa yang Dimaksud Recycle?

Secara bahasa, recycle artinya daur ulang. Namun, secara istilah recycle adalah proses pengolahan kembali suatu produk tidak terpakai atau produk yang telah berakhir masa penggunaannya menjadi produk lain atau produk serupa sehingga dapat digunakan kembali.

Adapun mekanismenya disesuaikan dengan jenis produknya. Ada yang melalui proses resizing (perubahan ukuran), compounding (penggabungan), peleburan, dan lain-lain yang keseluruhan prosesnya dilakukan dengan standar industri.

Dalam proses menambah masa penggunaan produk, ada juga istilah upcycle. Istilah ini secara bahasa bisa berarti daur ulang juga. Namun dalam praktiknya, proses upcycle dan recycle itu berbeda. Perbedaan upcycle dan recycle yaitu terletak pada rangkaian prosesnya yang mana upcycle jauh lebih sederhana dari proses recycle.

Upcycle adalah proses pemanfaatan kembali produk tidak terpakai yang dilakukan dengan mengubahnya menjadi komponen produk lain. Proses upcycle jauh lebih sederhana dari recycle yang biasanya membutuhkan beberapa jenis mesin dalam melakukannya, tetapi membutuhkan kreativitas dalam melakukannya.

Salah satu contoh upcycle adalah memanfaatkan botol-botol minuman kemasan sebagai komponen utama pembuatan kursi atau memanfaatkan karet ban sebagai komponen utama membuat meja dan kursi taman.

(Kursi dari botol plastik bekas)
(Meja & kursi dari ban bekas)

Perkembangan Recycle dan Upcycle

Munculnya kesadaran akan pentingnya peran industri dalam mengurangi pencemaran lingkungan akhirnya melahirkan prinsip sustainable dalam menggarap suatu produk. Maksud dari sustainable adalah berkelanjutan. Jadi, dengan prinsip ini diharapkan setiap produsen dapat mempertimbangkan keberlanjutan produknya atau mempersiapkan skema tertentu ketika masa penggunaanya telah habis.

Dengan prinsip sustainable ini memungkinkan recycle dan upcycle bukan lagi hanya sebatas rekomendasi melainkan menjadi sebuah kewajiban yang harus dipertimbangkan setiap produsen ketika mempersiapkan produk barunya.

Industri yang mulai menerapkan prinsip sustainable ini bukan hanya manufaktur lho Quipperian. Industri fashion pun mulai mengadopsi prinsip ini demi mengurangi produksi limbah dan dikenal dengan istilah sustainable fashion.

Beberapa hal yang dapat dilakukan produsen produk fashion dalam menjalankan prinsip sustainable fashion antara lain menggunakan bahan-bahan dasar organik yang mudah didaur ulang dan mengurangi produksi fast fashion. Sedangkan sebagai individu, pengguna produk fashion dapat berpartisipasi dengan menghindari membeli merk fast fashion dan belajar tentang recycle dan upcycle produk fashion.

Contoh-Contoh Recycle dan Upcycle Produk Fashion

Pemanfaatan kembali limbah fashion dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung jenis bahannya. Tiap-tiap jenis bahan atau kain memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh sebab itu produk yang bisa dihasilkan dari tiap-tiap jenis kain juga berbeda-beda.

Contoh recycle produk fashion

Salah satu contoh hasil recycle produk fashion adalah kain perca yang buat dengan teknik patchwork dan teknik quilting.  Teknik patchwork yakni menggabungkan potongan-potongan kain yang memiliki warna dan motif berbeda-beda menjadi bentuk baru. Sedangkan teknik quilting yaitu menggabungkan kain dengan cara jahit menggunakan teknik tusuk tindas mengikuti gambar yang ada pada kain.

Contoh upcycle fashion

Contoh produk yang bisa dihasilkan dari upcycle fashion dapat dikategorikan menjadi 2 jenis produk, yaitu benda pakai dan benda hias.

Benda pakai ialah produk yang lebih mengutamakan fungsi dari pada keindahan, contohnya keset, kain pel, dan taplak meja. Sedangkan benda hias malah sebaliknya yakni produk yang lebih mengedepankan keindahan daripada fungsi, contohnya hiasan dinding dan boneka.

Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh produk yang bisa dihasilkan dari recycling dan upcycling produk fashion.  Misalnya saja, di event seru dari kolaborasi antara Lasalle College Surabaya, Cheers, dan Oakwood. Melalui event tersebut, bisa terlihat bagaimana memanfaatkan botol-botol bekas minuman yang didesain sedemikian rupa sehingga menjadi aneka bentuk dress. Event tersebut mengusung tema CHEERS Sustainable Green Projects. Hmm, menarik ya?

LaSalle College Surabaya mendukung event tersebut secara penuh dengan melibatkan mahasiswa dari Program Graphic Design, Interior Design, Artistic Make Up dan Fashion Design.

Nah, buat kamu yang ingin belajar lebih jauh tentang fashion, LaSalle College Surabaya bisa jadi pilihan yang tepat. Cek profilnya melalui website Quipper Campus ya!

Penulis: Mawardi Janitra
Editor: Tisyrin Naufalty Tsani